tirto.id - Dulu, pemuda bernama Abdul Azis (28) harus digendong untuk berpindah tempat. Kini, pria penyandang disabilitas tuna daksa asal Dusun Krajan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu justru melaju di jalanan dengan motor matik Honda Vario untuk bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol).
Sehari-hari Azis lekat dengan papan skateboard. Bukan untuk bermain, itu adalah alat bantunya berjalan dan menjalani aktivitas. Keterbatasan fisik tak menghalanginya berupaya hidup mandiri.
Di sela bekerja sebagai ojol, Azis juga menekuni profesi kreator konten melalui akun Instagram dan TikTok @Bangziss. Konten-konten yang awalnya dia buat secara iseng, ternyata viral dan membuka peluang rezeki lain.
Beberapa videonya mendapat ratusan ribu tanda suka dan telah disebarkan ulang hingga belasan ribu kali.
Dukungan pun berdatangan. Sejumlah konten kreator, selebritas, hingga selebgram bercentang biru turut memberikan apresiasi dan komentar positif pada konten yang diunggah Azis.
Namun, di balik viralnya sosok Azis di media sosial, ada perjalanan panjang seorang pemuda yang pernah mempertanyakan kondisi dirinya, mengalami perundungan saat sekolah, hingga akhirnya memilih berdamai dengan keterbatasan dan terus menantang dirinya sendiri.
Kesulitan Justru Jadi Tantangan
Ketika Jember Yang Itu menemuinya di waktu istirahat ngojol (istilah pekerja ojek online), Azis mengaku sejak dulu terus mencari cara agar bisa menjalani aktivitas dengan lebih mandiri. Sebelum menggunakan skateboard, dia kerap digendong ketika hendak berpindah tempat.
"Dulu sebelum pakai skateboard, digendong," kata Azis di Masjid Al Falah Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, Rabu (15/7/2026).
Seiring waktu, skateboard kemudian menjadi alat bantu yang digunakannya untuk berjalan. Azis pun berusaha tidak menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai alasan untuk berhenti beraktivitas.
Ketika harus menaiki tangga, misalnya, dia tetap berusaha melakukannya sendiri. Teman-temannya hanya membantu membawa skateboard-nya.
"Naik tangga bisa. Skateboard-nya dibawakan, tapi kita naiknya sendiri," ujarnya.
Bagi Azis, setiap kesulitan justru menjadi tantangan baru. Dia mengaku senang mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Saya orangnya suka mencari hal-hal baru. Kalau enggak dicoba, enggak mungkin bisa. Kalau enggak bisa ya sudah, setidaknya aku sudah mencoba," tuturnya.
Keputusannya menjadi pengemudi ojol pun bermula dari keinginan untuk mandiri. Dia menyadari tidak mungkin selamanya bergantung kepada orang tua.

"Awalnya ya karena ekonomi juga. Enggak mungkin kita selalu bergantung sama orang tua terus. Ya sudahlah, gas bismillah, coba ojol," kata Azis.
Namun, langkahnya menjadi ojol tidak langsung berjalan mulus. Azis sempat mendaftar sebagai mitra, tetapi terkendala SIM D miliknya yang sudah tidak berlaku.
Dia kemudian mengurus kembali SIM tersebut sebelum mencoba mendaftar lagi. Setelah melalui proses pendaftaran, Azis akhirnya diterima sebagai pengemudi ojol.
"SIM-nya mati. Akhirnya buat SIM lagi, daftar, dan alhamdulillah diterima," ujarnya.
Kini, Azis sudah lebih dari satu bulan menjalani pekerjaan tersebut. Setiap hari, dia mengendarai Honda Vario untuk bekerja di jalanan Jember. Dengan keterbatasan dirinya dalam beraktivitas, menyusuri jalanan ramai Kota Jember tidak menyurutkan semangatnya bekerja dan demi meraih penghasilan.
"Masih baru, sekitar sebulanan lebih," katanya.
Azis mengakui pekerjaan sebagai ojol bukan pekerjaan mudah. Penghasilan yang diperoleh juga belum besar. Namun, dia tetap bersyukur karena mampu memenuhi kebutuhan pribadi dari hasil kerjanya sendiri.
"Meskipun belum banyak, tapi alhamdulillah cukup," ungkapnya.
Keinginan untuk bekerja mandiri juga tidak lepas dari keinginannya membahagiakan keluarga. Azis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Ayahnya pernah berjualan sandal di Pasar Rambipuji sebelum beralih menjadi pedagang eceran gas LPG. Sementara itu, ibunya telah meninggal dunia pada November 2025 lalu.
"Motivasi awalnya ya kepengin mandiri. Kedua, pengin bahagiain kedua orang tua pastinya, meskipun dengan segala keterbatasan yang aku punya," ucap Azis.
Menjajal Jadi Kreator Konten
Seperti umumnya pemuda seusianya di zaman ini, Azis pun tak asing dengan dunia media sosial. Azis pun mencoba mengasah kreatifitas sebagai seorang kreator konten, selain bekerja sebagai ojol.
Dia membuat konten melalui akun @Bangziss. Azis mengatakan awalnya dia hanya membuat konten secara iseng. Namun, seiring waktu, konten-konten tersebut mendapat perhatian luas dari warganet.
"Awalnya iseng, tapi kita lihat sekarang dunia ini fokusnya ke HP. Jadi, saya ingin menunjukkan bahwa meskipun saya disabilitas, saya bisa seperti ini," jelas Azis.
Hampir seluruh proses pembuatan konten dia lakukan sendiri. Mulai dari merekam hingga mengedit video. Sambil bekerja sebagai ojol, Azis biasanya mencari bahan konten. Setelah itu, dia melakukan proses editing pada malam hari.
"Ngedit video malam, paling lama dua sampai tiga jam. Pagi sambil kerja untuk mencari bahan konten," ujarnya.
Meski demikian, Azis tidak pernah memaksakan diri demi sebuah konten. Dia memilih menyesuaikan ide dengan kondisi fisiknya.
"Kita bikin konten enggak harus memaksa wajib begini-begitu. Kalau kita bisa, baru kita buat videonya. Kalau tidak bisa dengan kondisi saya yang seperti ini, ya tidak kita buat," tegasnya.
Konten Azis yang menampilkan aktivitasnya sebagai penyandang disabilitas mendapat beragam respons dari masyarakat. Ada yang memberikan dukungan, tetapi ada pula yang menilai konten tersebut sebagai bentuk menjual kesedihan.
Azis memiliki pandangan berbeda terhadap anggapan tersebut.
"Kalau saya, merasa ya tidak (menjual kesedihan). Kita juga berhak menunjukkan diri kita sendiri ke khalayak umum," katanya.
Menurut Azis, penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan diri melalui media sosial.
Azis mengatakan, dia tidak ingin menjadikan kondisi fisiknya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Melalui konten, ia hanya ingin menunjukkan aktivitasnya secara apa adanya.
Baginya, penyandang disabilitas juga dapat bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan secara mandiri.
"Media sosial bukan hanya milik orang-orang normal, juga milik orang-orang yang istimewa seperti kita. Jadi kalau dibilang menjual kesedihan, tidaklah," sambungnya.

Bangkit dari Krisis Kepercayaan Diri
Di balik semangatnya menjalani aktivitasnya kini, Azis tak memungkiri pernah mengalami masa-masa mempertanyakan kondisi fisiknya.
"Pasti pernah mempertanyakan kepada Tuhan, kenapa kok saya seperti ini? Kenapa kok enggak adik saya atau kakak saya yang normal?" kenang anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Namun, seiring waktu, Azis mulai mencoba melihat kehidupannya dari sudut pandang berbeda. Hingga akhirnya, dia memahami bahwa keterbatasan yang dimilikinya mungkin justru membuatnya lebih kuat.
"Mungkin jawaban dari Tuhan, kamu lebih kuat daripada mereka. Dengan apa yang aku bisa lakukan sekarang, belum tentu adikku atau kakakku bisa melakukan itu," ucapnya.
Azis menempuh pendidikan di sekolah umum. Dia bersekolah di SD negeri, kemudian melanjutkan ke MTs swasta dan SMA Muhammadiyah Rambipuji.
Saat sekolah, Azis mengaku pernah mengalami perundungan. Namun, dia juga mendapat dukungan dari banyak teman.
"Sempat ada (bullying), tapi alhamdulillah banyak teman-teman yang support. Yang nge-bully pasti ada, tapi ada juga yang support," ujarnya.
Azis sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, dia memilih bekerja karena ingin membantu orang tua dan merasakan memiliki penghasilan sendiri.
"Dulu sempat mau kuliah, tapi pengin kerja dulu, pengin bantu orang tua. Waktu masih muda juga pengin megang uang sendiri," katanya.
Azis kini aktif berinteraksi dengan berbagai lingkungan dan komunitas. Dia bahkan tak canggung bergabung dalam komunitas yang mayoritas anggotanya bukan penyandang disabilitas.
Baginya, berada di tengah banyak orang menjadi bagian dari proses untuk menguatkan mental.
"Tujuannya supaya kita bisa belajar berdamai dengan diri sendiri. Saya juga ingin menguatkan mental," tuturnya.
Kini, Azis memiliki dua harapan besar. Dia ingin terus mandiri melalui pekerjaannya sebagai ojol sekaligus memberikan sudut pandang baru kepada masyarakat melalui konten.
"Setidaknya dengan pekerjaan saya, dengan ngojol, saya bisa mandiri meskipun dengan keterbatasan saya," katanya.
"Dan dengan konten, dengan menunjukkan bahwa saya bisa seperti ini atau menunjukkan saya bisa berdamai dengan diri sendiri, setidaknya bisa memberikan pandangan bagi orang lain bahwa kita yang memiliki keterbatasan ini juga punya semangat yang luar biasa," sambungnya.
Soal cita-cita, Azis memiliki impian yang terdengar sederhana, tetapi ingin diwujudkannya suatu hari nanti. Dia ingin memiliki rumah di kawasan Rich Village Argopuro.
"Meskipun dengan keterbatasan saya, saya pengin punya rumah di sana," katanya sembari tertawa.
Dulu, Abdul Azis harus digendong untuk berpindah tempat. Kini, dengan papan skateboard sebagai alat bantu berjalan, motor Honda Vario untuk bekerja, dan telepon genggam untuk berkarya, dia terus melangkah dengan percaya diri.
Baginya, hidup tidak harus menunggu sempurna untuk dimulai.
"Los dol!! Gas Terus," ucapnya sembari berpamitan untuk kembali ngojol setelah ada notifikasi mendapat orderan.
=============
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































