tirto.id - Dalam lautan jemaah berdesak keliling Ka’bah, Lilis Ardifiyanti menautkan sabuk pada putri tercintanya, Sharfina Diah Nuratika (30). Ikatan fisik itu bukan sekadar pelindung agar mereka tak terpisah di tengah kerumunan, melainkan wujud cinta tanpa batas dari orang tua yang sedang menuntun seorang anak penyandang autis menembus keterbatasan demi menggapai rukun Islam kelima.
Tagline "haji 2026 ramah lansia, disabilitas, dan perempuan" bukan hanya slogan semata. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengejawantahkan tagline tersebut dalam kebijakan teknis di lapangan. Salah satunya lewat akomodasi yang layak bagi jemaah penyandang disabilitas.
Deretan jemaah haji penyandang disabilitas merasakan hal tersebut secara nyata. Misalnya, Mbah Sarjo Utomo (71). Ia tidak hanya masuk dalam kategori jemaah lansia, tapi juga tunanetra, sehingga perlu perhatian khusus dari petugas.
Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, menegaskan Mbah Sarjo maupun Sharfina punya hak yang sama dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam masalah keagamaan.
"Sebagai warga negara, dia punya hak yang sama," kata Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Hotel Al-Hidayah Tower, Senin (8/6/2026).
Menurut Deka, sebagai penyandang disabilitas autis, Sharfina pasti memiliki beragam tantangan yang cukup kompleks mulai dari proses pemberangkatan di Tanah Air, saat di Tanah Suci, hingga puncak haji. Cerita perjalanan haji Sharfina diharapkan menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas lain yang punya hak yang sama untuk menunaikan rukun Islam kelima.
"Penyandang disabilitas itu, kan, memang di Indonesia khususnya ya, itu masih mendapatkan stigma, stigma negatif seakan-akan mereka adalah orang-orang yang tidak sama, tidak setara dengan yang lain dalam sektor-sektor kehidupan, termasuk dalam keagamaan," kata Deka menambahkan.
Awal Mula Sharfina Didaftarkan Haji
Sharfina (tengah) bersama keluarga dan Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, saat ditemui di Sektor 10, Wilayah Aziziyah, Makkah, Senin (8/6/2026). Foto: Abdul Aziz/Tirto/MCH 2026.

Kisah Sharfina memang menginspirasi. Ia mungkin penyandang disabilitas autis pertama yang berangkat haji. Sebab, penyandang disabilitas yang naik haji selama ini rata-rata adalah disabilitas tunanetra, tunarungu, hingga tunadaksa.
Karena itulah, Tim MCH secara khusus bertemu dengan kedua orang tua Sharfina, di Sektor 10, Wilayah Aziziyah, Makkah, Senin (8/6/2026). Saat itu kami janji bertemu dengan keluarga Sharfina sekitar pukul 09.00 Waktu Arab Saudi.
Sharfina naik haji tahun ini bersama kedua orang tuanya, yaitu Lilis Ardifiyanti (ibu) dan Andradiet Ixvetrial Jacob Alis atau Andre (ayah), serta Aditya Kemal (kakak Sharfina).
Lilis bercerita, ia dan suaminya pertama kali mengajak Sharfina umrah pada 2008. Tujuan umrah saat itu untuk mengajak Sharfina dan menilai keadaan, apakah Sharfina bisa melaksanakan umrah yang berinteraksi dengan banyak orang. Selain itu menilik kemampuan Sharfina mengikuti proses tawaf hingga sa'i atau tidak.
"Ternyata di dalam perjalanan umrah itu, dia bisa melaksanakan semuanya dengan smooth. Bisa tawaf, sa'i, semuanya bisa, tidak ada hambatan, tidak ada tantrum, tidak ada gangguan," kata Lilis bercerita.
Pengalaman umrah yang berjalan lancar tersebut membuat Lilis dan Andre berpikir untuk mengajak Sharfina berangkat haji bersama. Singkat cerita, pada 2013, saat Sharfina baru punya KTP, Lilis dan Andre akhirnya mendaftar haji berempat, termasuk Sharfina dan Aditya Kemal.
"Jadi setelah dia [Sharfina] dapat KTP di Februari, kemudian kalau tidak salah April, kami langsung daftar ke Kemenag Tangsel," kata Lilis.
Lilis menambahkan, "Sebenarnya sudah ada catatannya kalau kami, Adek Fina itu adalah autistik. Ditulis kalau tidak salah ingat."
Setelah 11 tahun menunggu, terus ditambah Pandemi Covid-19, akhirnya menjadi 13 tahun menunggu, kata Lilis. Saat itu, kata Lilis, ia berharap perkembangan Sharfina semakin membaik, apalagi ibadah haji tantangannya cukup berat, terutama saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
"Kami percaya pada Allah, bahwa insya Allah dibantu. Alhamdulillah ternyata sampai sekarang dia [Sharfina] berhasil melewati semuanya," kata Lilis.
Saat tim MCH mewawancarai keluarga Sharfina, fase puncak haji memang telah usai. Menurut Lilis, Sharfina bisa menjalankan semua proses puncak haji dengan lancar. Bahkan lempar jumrah aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, Sharfina ikut jalan ke Jamarat dari tenda Mina. Namun, untuk lempar jumrah di hari tasyrik, yaitu 11 dan 12 Dzulhijjah, Sharfina dibadalkan oleh kakaknya.
Persiapan Menjelang Berangkat Haji
Sharfina (dua dari kanan) bersama kedua orang tua dan kakaknya, saat ditemui Tim Media Center Haji, di Sektor 10, Wilayah Aziziyah, Makkah, Senin (8/6/2026). Foto: Abdul Aziz/Tirto/MCH 2026.

Selain mengawal penuh aktivitas ibadah di Tanah Suci, Andre dan Lilis juga telah mempersiapkan Sharfina sejak di Tanah Air. Misalnya melatih Sharfina agar terbiasa berada di kerumunan orang serta berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Lilis juga membiasakan Sharfina terbang jauh. "Jadi keadaan di dalam pesawat selama berjam-jam, itu dia biasa saja," kata Lilis bercerita soal bagaimana ia mempersiapkan Sharfina sebelum berangkat haji.
Lalu, Lilis juga mengajak Sharfina ikut trip-trip grup tur. Tujuannya untuk melatih Sharfina terbang atau naik pesawat jarak jauh serta membiasakan dia berinteraksi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru yang belum dikenalnya.
"Dia harus bisa beradaptasi semuanya. Alhamdulillah dengan pengalaman-pengalaman yang dia dapatkan, ternyata insya Allah memudahkan dia haji ini selama 40 hari," kata Lilis.
Sebelum haji, kata Lilis, Sharfina sudah pernah diajak perjalanan jauh meninggalkan rumah selama 17 hari. Artinya, dengan kebiasaan tersebut diharapkan bisa membuat Sharfina terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Saat umrah wajib, kata Lilis, Sharfina juga bisa mengikuti semua prosesnya dengan baik. Mulai dari niat ihram, tawaf memutari Ka'bah sebanyak tujuh kali, hingga sa'i dari bukit Safa ke Marwa, Sharfina mengikutinya dengan baik.
"Karena dia [Sharfina] tahun 2023, Desember, kami berangkatkan umrah juga," kata Lilis menambahkan.
Andre dan Lilis saat mengetahui jika jadwal keberangkatan haji Sharfina pada tahun 2026, maka mereka mengajak Sharfina untuk umrah dulu pada 2023. Sebab, kata dia, pengalaman umrah Sharfina pada 2008 terlalu jauh untuk diingatnya.
"Jadi kami sepakati, kami mau berangkat lagi 2023. Untuk lebih memberi dia persiapan bahwa dua tahun lagi kita akan berangkat haji," kata Lilis.
Di sisi lain, Andre menambahkan, selama tawaf hingga sa'i, Sharfina dipasangi sabuk yang ditautkan ke sabuk yang dipakai Lilis. Sementara di belakang keduanya, berdiri Andre dan Aditya Kemal, sehingga meski saat tawaf berdesak-desakan, tapi Sharfina tidak lepas dari pengawasan kedua orang tua dan kakaknya.
Cerita perjalanan Sharfina diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para penyandang disabilitas lain yang punya keinginan untuk berangkat haji. Namun yang terpenting, persiapannya harus matang serta ada pendamping yang bisa membuat si penyandang disabilitas tersebut nyaman dan aman selama beribadah.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































