tirto.id - Perjalanan ritual haji Sarjo Utomo tuntas. Jemaah penyandang disabilitas dari kelompok terbang (kloter) YIA 1 Embarkasi Yogyakarta itu menyelesaikan semua ritual haji yang identik dengan ibadah fisik. Di sisi lain, ia mengalami keterbatasan fisik di usia 71 tahun.
Mbah Sarjo bukan hanya jemaah haji lanjut usia (lansia) biasa, tapi juga penyandang disabilitas tunanetra. Namun semangatnya menunaikan rukun Islam kelima sangat luar biasa.
"Dijalani dengan baik dengan anak saya ini, pendampingnya," kata Mbah Sarjo saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Jeddah, Senin dini hari (1/6/2026) Waktu Arab Saudi.
Mbah Sarjo termasuk rombongan jemaah pertama yang kembali pulang ke Indonesia pada 1 Juni 2026. Total ada 17 kloter dari berbagai embarkasi dengan jumlah jemaah sebanyak 6.798 orang.
Menurut Mbah Sarjo, selama puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ia menjalani semua ritual haji sendiri. Ia didampingi anaknya serta dibantu petugas dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Meski saat di Arafah batuk berat bahkan sempat pingsan, tapi Mbah Sarjo mengaku tetap bisa wukuf dengan khusyuk. Ia melangitkan doa untuk dirinya, keluarga, serta semua titipan doa yang ia dapatkan dari tetangganya.
"Berdoa saya itu senang sekali untuk mohon maaf semua kesalahan-kesalahan saya," kata Mbah Sarjo.
Menurut Mbah Sarjo, ia hanya dibadalkan sama anaknya saat lempar jumrah di Jamarat, Mina.
"Yang jalan anak saya, bawa dua kantong batu," kata Mbah Sarjo.
Mbah Sarjo juga berterima kasih kepada petugas PPIH Arab Saudi yang telah mendampingi perjalanan spiritualnya selama kurang lebih 40 hari di Tanah Suci.
"PPIH telah menampingi perjalanan saya, ibadah di Madinah, Makkah, dan Arafah itu. Saya berterima kasih sekali," ujarnya.
Unta Buat Cucu
Tak hanya itu, meski bukan termasuk jemaah haji yang punya harta melimpah, tapi Mbah Sarjo tak lupa membelikan oleh-oleh khusus untuk cucunya.
"Ini bawa [mainan] unta untuk cucu," kata Mbah Sarjo dengan mimik wajah semringah.
Cucunya, kata Mbah Sarjo minta dibelikan oleh-oleh unta untuk jadi teman tidurnya. Cucunya minta dibelikan mainan unta yang besar.
"Unta, cuma unta dengan sedikit kurma saja karena terkebatasan dana," kata Mbah Sarjo sambil tertawa kecil saat ditanya bawa oleh-oleh apa saja dari Tanah Suci.
Kisah Mbah Sarjo lainnya bisa dibaca juga di artikel "Kisah Mbah Sarjo Jual Tanah Demi Berhaji di Usia Senja".
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































