Menuju konten utama
GWS

HIV Berhasil Dihilangkan dari Sel Imun

HIV menjadi salah satu virus yang metode pengobatannya masih misteri alias sukar disembuhkan. Tapi, studi terbaru menyebut bahwa harapan itu tetap ada.

HIV Berhasil Dihilangkan dari Sel Imun
Ilustrasi HIV. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang belum terselesaikan. Sejak kasus pertama dilaporkan lebih dari 40 tahun lalu, 88 juta orang telah terinfeksi HIV. Sementara itu, 42 juta orang meninggal akibat penyakit terkait AIDS.

Program Gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang HIV/AIDS mencatat, sekitar 40,8 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV pada 2024, dengan sekitar 1,3 juta infeksi baru terjadi setiap tahunnya. Tingginya angka ini tidak lepas dari berbagai pola penularan yang masih berlangsung, bukan hanya hubungan seksual tanpa pengaman, melainkan juga penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui.

Penanganan HIV tidak hanya bergantung pada pencegahan penularan, tetapi juga pada kemampuan mengatasi virusnya secara tuntas. Meskipun kemajuan Terapi Antiretroviral (ART) telah mampu menekan angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup orang yang terinfeksi, HIV belum sepenuhnya teratasi.

Salah satu alasan utama HIV sulit disembuhkan adalah karena karakteristik biologis virusnya "cerdik". HIV mampu bersembunyi dalam bentuk laten (tidak aktif) di dalam sel, membentuk reservoir dalam tubuh yang dapat aktif kapan saja, sekaligus terus mengalami mutasi yang memungkinkannya menghindari sistem kekebalan maupun obat.

Oleh karena itulah pengobatan HIV yang tersedia saat ini hanya mampu menekan replikasi virus, bukan mengeliminasinya secara total dari tubuh. Akibatnya, ketika pengobatan dihentikan atau tidak optimal, virus dapat kembali aktif dan berkembang. Namun, secercah harapan mulai tampak perlahan-lahan, seiring dengan kemajuan penelitian ilmiah, khususnya di bidang kesehatan.

Menghilangkan HIV dengan Teknologi CRISPR Cas9

Penemuan obat Antiretroviral (ARV) pada 1996 menjadi kemajuan besar dalam penanganan HIV/AIDS, kendati solusinya masih terbatas pada upaya memperpanjang harapan hidup penyintas.

Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya, Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna membuka harapan baru pada pengobatan HIV. Pada 2012, dua peneliti perempuan tersebut berhasil menemukan teknologi CRISPR Cas9 atau Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats - associated protein 9.

CRISPR Cas9 adalah teknologi pengeditan atau penyuntingan gen yang memungkinkan ilmuwan mengubah Deoxyribonucleic Acid (DNA) milik hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.

Setelah dipublikasikan oleh Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna, teknologi CRISPR Cas9 dengan cepat digunakan untuk modifikasi genom sel hewan dan manusia. Penemuan tersebut mendorong kemajuan pesat dalam penelitian genetik, termasuk upaya mencari pendekatan baru dalam penanganan HIV.

Sederhananya, dalam pengeliminasian HIV, CRISPR Cas9 berfungsi sebagai "gunting". Ia berkemampuan mengenali, memotong, dan menghapus, DNA virus HIV yang telah terintegrasi atau tersembunyi dalam genom sel inang manusia.

Ilustrasi HIV

Ilustrasi HIV. foto/istockphoto

Basis solusi yang ditemukan oleh Charpentier dan Doudna itu lantas menjadi bekal bagi studi-studi berikutnya. Salah satunya yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Nebraska Medical Center, Amerika Serikat, yang terdiri dari Chen Zhang, Larisa Y. Poluektova, Howard E. Gendelman, dan Prasanta K. Dash.

Mereka mengembangkan pendekatan inovatif dengan mengombinasikan Long-Acting Antiretroviral Therapy (LA-ART) dan CRISPR Cas9 untuk menargetkan dan menghilangkan HIV dari sel yang terinfeksi. [sumber]

Alih-alih meminum pil setiap hari, pengobatan LA-ART diberikan melalui suntikan dalam periode tertentu. Di AS, misalnya, sudah ada beberapa obat yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, termasuk Trogarzo (setiap dua pekan), Cabenuva (setiap 1 atau 2 bulan), dan Sunlenca (setiap 6 bulan).

Dalam publikasi yang diunggah di Nature Communications pada 2019, kombinasi LA-ART dan CRISPR Cas9 menunjukkan eliminasi lengkap HIV-1 dari kompartemen jaringan pada sebagian tikus model manusia (hu-mice) yang terinfeksi.

Pada sepertiga tikus yang terinfeksi, virus berhasil dieliminasi sehingga menunjukkan potensi terjadinya sterilizing cure atau steril. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, para peneliti masih menemukan virus rebound atau virus yang kembali muncul dalam sel. Untuk memahami hal ini, para peneliti melakukan analisis genetik molekuler terhadap virus yang muncul kembali tersebut.

Dalam studi terbaru berjudul Unique Molecular Signatures in Rebound Viruses from Antiretroviral Drug and CRISPR-treated HIV-1-infected Humanized Mice (2025), para peneliti menemukan adanya mutasi unik yang belum pernah teridentifikasi pada virus rebound tersebut. Mutasi ini terdeteksi pada tiga bagian penting genom HIV, yaitu Gag, Pol, dan Env—tiga gen struktural utama dalam genom HIV yang mengode protein esensial untuk siklus hidup virus.

Sebagian besar mutasi ditemukan pada kelompok yang menerima LA-ART, dengan pola mutasi berbeda. Terapi LA-ART kemungkinan berperan mendorong munculnya variasi genetik yang membantu virus bertahan dan lolos dari pengobatan.

Para peneliti tidak menemukan tanda khas yang berkaitan dengan CRISPR pada virus yang lolos itu. Hal demikian mengindikasikan bahwa CRISPR bekerja secara efektif dalam memotong dan menghilangkan DNA virus.

Namun, CRISPR hanya menargetkan bagian spesifik dari genom virus. Karena penelitian tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari terapi juga dapat mendorong virus beradaptasi melalui perubahan pada bagian genom lainnya, para peneliti kemudian meneliti mutasi yang berkaitan dengan penggunaan CRISPR pada sampel yang terinfeksi HIV-1NL4-3.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, mutasi yang muncul ternyata bukan berasal dari CRISPR. Artinya, virus yang muncul kembali bukan karena ia “kebal” terhadap CRISPR di titik target tersebut. Kemungkinan besar, virus bisa muncul karena faktor lain, seperti masih adanya reservoir virus yang tidak terjangkau terapi atau adaptasi virus pada bagian genom lain.

“Kami menemukan mutasi unik tersebut terkait dengan obat antiretroviral atau terapi ganda, bukan terapi CRISPR tunggal,” kata Dr. Dash.

Harapan Baru Penyembuhan HIV?

Menurut Dr. Dash, tidak adanya mutasi terkait CRISPR memberi peluang bahwa di masa depan terapi ini bisa menjadi lebih efektif, terutama dalam menargetkan HIV laten dengan cara pemberian terapi lebih baik.

Sebuah tim peneliti di Wuhan University of Science and Technology, Cina, baru-baru ini juga mengembangkan CRISPR-Cas12a untuk menemukan HIV, termasuk HIV laten, dan menghancurkan genomnya. Dengan begitu, para penyintas berpotensi mencapai penyembuhan fungsional AIDS.

Penyuntingan gen Cas12 dengan Cas9 sedikit berbeda. Untuk memotong DNA sasaran, Cas12 dibantu oleh crRNA, sedangkan Cas9 dibantu oleh crRNA dan RNA tambahan yang disebut tracrRNA.

Gu Chaojiang melaporkan dalam penelitiannya bahwa eliminasi virus secara total berhasil terwujud pada dua dari tiga tikus percobaan. Selain itu, pada percobaan yang melibatkan tikus terinfeksi HIV dan sampel darah pasien AIDS, terapi tersebut terbukti efektif membersihkan virus dan memulihkan sistem imun.

Namun, di balik potensi tersebut, Clotilde Aussel, Toni Cathomen, dan Carla Fuster-García, dalam penelitiannya, mengingatkan bahwa terdapat risiko tersembunyi berupa perubahan struktural genom yang dapat memicu efek samping serius.

Mereka secara kritis menyoroti, evaluasi keamanan pengeditan genom saat ini masih terbatas, terutama dalam mempertimbangkan variasi jenis sel dan latar belakang genetik pasien. Akibatnya, risiko efek samping, baik yang terjadi di luar maupun di dalam target DNA, dapat luput dari deteksi.

CRISPR memang menawarkan harapan baru untuk mengatasi replikasi virus HIV dengan menghapusnya dari dalam sel, tetapi para ilmuwan menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap awal.

Di sisi lain, penelitian tidak berhenti pada satu pendekatan saja. Para ilmuwan juga terus mengembangkan berbagai strategi lain, seperti vaksin HIV hingga teknologi mRNA yang terinspirasi dari vaksin COVID-19, sebagai bagian dari upaya lebih luas.

Baca juga artikel terkait VIRUS HIV atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - GWS
Penulis: Yantina Debora
Editor: Fadli Nasrudin