tirto.id - Senin (31/8/2026) pukul 06.20 WITA, langkah kaki Maria Alvinda Kartini (16), menepi di halaman sekolahnya di SMKS Karya Murni, Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Setelah dua pekan belajar dibayang-bayangi guncangan gempa, pagi ini terasa begitu berharga bagi Vinda-panggilan karibnya. Tidak ada raut panik, tak ada gentar di wajahnya, meski tempatnya berpijak masih kerap menyisakan gempa susulan.
Di saat anak-anak seusianya mungkin dibayangi kecemasan saat mendengar bunyi lonceng sekolah berdentang, Vinda justru menyambutnya dengan dingin. Dentang lonceng penanda jam pelajaran dimulai itu tak memicu trauma baginya.
"Rasa lega karena dari sudah sekian lama libur, hari ini sudah bisa kembali sekolah lagi. Di sekolah tidak ada [rasa takut], karena sudah terbiasa dengan [bunyi] bel lonceng," kata Vinda, ketika berbincang dengan Tirto, Senin (31/8/2026).
Prinsip keselamatan yang ditanamkan orang tuanya terpatri kuat di kepala Vinda. Pengalaman dan pesan dari rumah membuatnya paham betul apa yang harus dilakukan tanpa perlu larut dalam kepanikan berlebih.
"Yang disampaikan orang tua, kalau begini gempa harus segera keluar dari ruangan. Khususnya di area terbuka begitu," tuturnya.
Sikap tenang itu bukan sekadar kata-kata. Bagi Vinda, menjaga pikiran tetap jernih adalah kunci bertahan hidup di daerah rawan bencana.
"Tenang saja, tidak perlu takut. Kalau begini, kan, takut atau cemas, kita tidak bisa mengambil jalan yang terbaik atau keluar dari ruangan. Intinya kan kita jangan cemas, biasa saja," kata Vinda.
Vinda mengatakan keselamatan nyawa jauh lebih berharga daripada barang berharga. Menurutnya, saat guncangan gempa terjadi, fokus utama adalah menyelamatkan diri ke luar rumah, bukannya sibuk mencari ponsel yang justru bisa berakibat fatal jika bangunan terlanjur roboh.
"Yang diutamakan keselamatan diri dulu. Jangan begini kan selamat HP atau bagaimana. Kalau begini kan kita sibuk cari HP dulu, tiba-tiba rumah roboh, ya gimana sudah," jelas Vinda dengan polos.
Dua minggu belakangan ini memang menjadi masa-masa penuh ujian bagi Vinda. Di dalam tenda darurat yang gelap akibat terputusnya aliran listrik, ia menatap lembar-lembar tugas sekolah di bawah temaram nyala penerangan seadanya.
"Ya kami pakai ini saja, lampu pelita. Kalau tidak, senter," kenang Vinda saat menceritakan kondisinya mengerjakan tugas-tugas sekolah di dalam tenda pengungsian.

Meski begitu, Vinda tidak mengeluh. Hal yang paling ia syukuri di hari pertama sekolah justru kesempatan untuk tetap bisa belajar di tengah keterbatasan.
"Kami masih bisa membagikan waktu untuk mengerjakan tugas," ungkapnya.
Di balik ketabahannya, Vinda tetap menyimpan kepedulian mendalam untuk teman-temannya yang terdampak lebih parah, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal dan perlengkapan sekolah.
"Kalau bisa ya maksudnya bagi buku gratis atau pulpen," harap Vinda singkat.
Ketika melangkah masuk ke dalam ruang kelas, hal pertama yang memecah keheningan bersama kawan-kawannya adalah obrolan tentang gempa. Lewat tawa, kelakar ringan, dan saling sapa, Vinda dan kawan-kawannya mengolah rasa takut menjadi keberanian bersama.
Vinda membuktikan bahwa kepanikan bisa ditundukkan oleh ketenangan, dan semangat belajar tak akan padam walau sempat ditempa di bawah redupnya lampu pelita.
Rasa lega juga dialami Helena Ananda Daun atau yang akrab disapa Nanda, saat melangkahkan kaki kembali ke sekolah. Setelah sekian lama terisolasi dalam pembelajaran dari rumah akibat guncangan gempa magnitudo 7,7 yang melanda kawasan Flores, bertemu kembali dengan teman-temannya menjadi penawar trauma yang paling ampuh.
"Pas masuk sekolah pertama kali hari ini rasanya lega dan senang bisa bertemu teman-teman lagi dan untungnya di sekolah ini tidak terjadi kerusakan," kata Nanda.
Nanda berkata hari pertama sekolah bergulir begitu saja tanpa pengarahan simulasi bencana dari guru maupun pembagian masker dan cek kesehatan, meski kondisi tubuhnya sempat terserang batuk dan pilek.
Di balik ketenangannya di kelas, realitas pahit bencana sebenarnya belum beranjak. Dinding belakang rumah Nanda retak parah hingga memaksa keluarganya tidur beratap terpal di tenda darurat tiap malam.
Di dalam ruang kelas, Nanda melawan rasa takut dengan kepedulian yang hangat antarsesama murid.
"Obrolnya kayak gimana sih kalian di rumah masih aman enggak atau enggak, begitu," kenang Nanda menceritakan suasana kelasnya.
Di tengah segala keterbatasan itu, Nanda tak berhenti mengucap syukur. Bisa bernapas dan melangkah ke sekolah yang masih berdiri kokoh adalah hal terindah baginya.
"Hal yang paling aku syukuri tuh Tuhan masih memberikan kami napas kehidupan sampai saat ini. Dan syukur juga ruangan di sekolah kami masih aman-aman saja," ungkapnya tulus.
Dedikasi Guru NTT: Setia Mengajar Pascagempa
Dedikasi para pendidik di lapangan tak surut di tengah penetapan perpanjangan masa tanggap darurat bencana gempa bumi oleh Pemerintah Provinsi NTT. Meski guncangan gempa susulan masih kerap membayangi, para guru tetap setia menginjakkan kaki di sekolah demi mendampingi para siswa.
Salah satu dedikasi itu ditunjukkan oleh Rofinus Tetu, guru mata pelajaran kealihan otomotif. Ia mengungkapkan bahwa dampak gempa tak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengguncang kondisi psikologis warga.
"Gempa tanggal 15 itu rumah-rumah pada retak semua. Orang-orang yang tinggal di rumah juga panik dan terguncang. Terkait mental mereka, kesehatan juga sangat terganggu sekali," kata Rofinus kepada reporter Tirto.
Kendati demikian, imbauan serta data dari BMKG yang menyebutkan bahwa intensitas gempa susulan relatif menurun, menjadi salah satu alasan Rofinus dan rekan-rekannya kembali beraktivitas. Namun bagi Rofinus, dorongan terbesar untuk hadir di ruang kelas adalah rasa tanggung jawab moril terhadap anak didiknya.
"Tentu karena kami membuktikan bahwa kami masih punya perhatian terhadap siswa, dan ini tanggung jawab kami sebagai seorang guru," tegasnya.
Sebagai manusia biasa, Rofinus tidak menampik adanya kekhawatiran pribadi. Kondisi tempat tinggalnya pun tak luput dari kerusakan parah, sementara anggota keluarga di rumah masih diliputi perasaan was-was. Namun, saat berada di depan kelas, ia harus menyulap rasa cemas itu menjadi ketenangan.
"Tetapi kami percaya bencana alam ini ada hubungannya dengan kondisi alam itu sendiri, dan akan tiba waktunya kita dipulihkan oleh pikiran kita sendiri. Kami tetap percaya bahwa kami tetap ada dalam sehat fisik dan raga," tuturnya.

Untuk menenangkan para siswa yang diliputi kecemasan, Rofinus menerapkan metode pendekatan emosional dan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Ia menyelipkan edukasi kebencanaan serta hiburan ringan di sela-sela materi pelajaran otomotif.
"Artinya suasananya lebih joyful terhadap anak-anak, dan sedikit menghilangkan rasa panik serta ketakutan yang mereka pikirkan sesuai pengalaman saat gempa," jelas Rofinus.
Menurut Rofinus, lebih dari 50 persen siswa hadir di kelas dengan semangat tinggi tanpa menunjukkan perubahan perilaku yang negatif.
"Mereka tetap antusias, semangat untuk datang ke sekolah tanpa ada keraguan. Mereka menjalankan tugas mereka sebagai anak didik," kata Rofinus.
Meski semangat belajar tetap menyala, kondisi fasilitas sekolah masih memerlukan perhatian serius. Walaupun area darurat tergolong aman, beberapa gedung permanen bantuan pemerintah mengalami kerusakan cukup parah pada bagian struktur tembok dan plafon yang runtuh. Risikonya cukup mengintai jika gempa susulan kembali terjadi.
Atas kondisi tersebut, Rofinus berharap adanya langkah cepat dan perhatian nyata dari pihak dinas terkait maupun pemerintah daerah.
"Harapannya jelas kepada pemerintah untuk lebih melihat dari sisi kemanusiaannya, langsung melihat kondisi sekolah kita saat ini. Sangat kami harapkan perhatian dalam bentuk apa pun yang diberikan oleh pemerintah kepada sekolah kami," tutur Rofinus.

Sementara itu, guru mata pelajaran keahilan kelistrikan, Rober Jelalut, mengatakan sebagai guru, ia memilih tetap datang ke sekolah, berdiri di depan papan tulis, dan menyapa para muridnya yang juga tengah dibayangi trauma bencana.
Duka dan kecemasan tak memadamkan komitmen Rober. Baginya, tugas mendidik di tengah situasi gawat darurat bukan sekadar rutinitas profesi, melainkan panggilan pengabdian dan kewajiban moral untuk memastikan hak anak-anak mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi.
"Yang pertama, kita menjalankan sesuai dengan kewajiban kita sebagai tenaga pendidik. Meskipun dalam situasi bencana, ya kita tetap menjalankan tugas dan selalu mengikuti arahan dari dinas terkait," ujar Rober.
Ia menyadari menjalankan proses belajar-mengajar di tengah ancaman gempa susulan tentu bukan perkara mudah. Rasa takut dan rasa panik diakuinya tetap ada, terutama saat gempa susulan tiba-tiba terasa di tengah jam pelajaran, meski sudah tak sekencang gempa utama.
"Secara mental, rasa takut dan cemas itu pasti ada. Ketika ada sedikit getaran gempa susulan, konsentrasi kadang teralihkan dan refleks melihat kiri-kanan. Tapi kami sebagai guru harus tetap tenang dan waspada," ungkapnya.
Untuk mengelola emosi dan menjaga stabilitas mentalnya sendiri, Rober mengandalkan ruang interaksi sosial dengan keluarga, orang tua murid, dan sesama rekan guru. Saling berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain menjadi modal utamanya agar tetap tampil tegar di hadapan para murid.
Di dalam kelas, Rober menerapkan pendekatan khusus untuk mencairkan ketegangan. Alih-alih langsung menjejali siswa dengan materi yang berat, ia memilih menyelipkan cerita-cerita penyemangat yang menghibur agar suasana belajar kembali hidup.
"Kami [guru] selalu menceritakan hal-hal yang membuat mereka senang dan bersemangat kembali. Yang terpenting adalah membangun suasana agar mereka tidak terlalu fokus pada ketakutan," jelas Rober.
Meski materi pelajaran tidak dikurangi dan durasi mengajar disesuaikan dengan situasi darurat, Rober terus menyisipkan imbauan mitigasi bencana serta pencegahan penyakit selama berada di pengungsian.
"Kami selalu ingatkan mereka untuk tetap waspada, serta menjaga kebersihan dan kesehatan di tengah situasi seperti ini," imbuhnya.
Jam Kegiatan Belajar Mengajar Dipangkas
Kepala Sekolah SMKS Karya Murni, Ignasius Trimance, mengungkapkan bahwa keputusan membuka kembali aktivitas sekolah diambil dengan mempertimbangkan kondisi psikologis siswa dan imbauan dinas pendidikan, kendati rasa cemas belum sepenuhnya reda.
"BMKG dan pemerintah sempat mengimbau sekolah aktif per 28 Agustus. Namun karena saat itu gempa susulan masih terasa, saya mengambil keputusan menambah masa libur hingga 31 Agustus. Hari ini KBM kita mulai secara terbatas," kata Ignasius saat berbincang dengan reporter Tirto.
Dalam kondisi normal, aktivitas belajar di SMKS Karya Murni berlangsung selama delapan jam, mulai pukul 07.00 hingga 13.00 WITA. Namun di tengah status tanggap darurat, durasi KBM dipangkas menjadi lima jam saja, sehingga berakhir pada pukul 11.00 WITA.
Langkah ini diambil sesuai dengan Instruksi Gubernur guna meminimalkan risiko apabila terjadi guncangan susulan saat siswa berada di lingkungan sekolah.
"Imbauannya jelas, jangan terlalu lama di dalam gedung. Beruntung, kami memiliki ruang kelas darurat dari kayu. Ruangan permanen yang dindingnya retak-retak sama sekali tidak kami gunakan karena berisiko," jelas Ignasius.
Proses mitigasi bencana pun dilakukan secara swadaya. Berbekal literasi mandiri dari internet dan berbagai media, para guru berupaya membekali diri dengan pengetahuan darurat untuk memandu para siswa.
Berdasarkan data yang didapatnya, sebanyak 27 murid dan 2 orang guru melaporkan rumah tempat tinggal mereka rusak berat. Sementara sisanya mengalami keretakan ringan. Meski sebagian besar guru selamat secara fisik, tekanan mental melanda hampir seluruh tenaga pendidik. Kondisi di tempat pengungsian yang serba terbatas turut memperburuk kondisi kesehatan mereka.
"Kalau bantuan materiil untuk guru tidak ada, tapi dukungan psikologis terus kami berikan via grup WhatsApp. Kebanyakan guru kami fisiknya terganggu flu dan batuk karena di pengungsian hanya beralaskan terpal, dingin, dan tidak ada selimut," tutur Ignasius.
Ignasius menyayangkan belum adanya bantuan fisik maupun material yang terealisasi dari pemerintah daerah maupun pusat ke SMKS Karya Murni setelah dua pekan diguncang gempa. Ia menyebutkan interaksi dari dinas terkait hingga Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) sejauh ini baru sebatas pendataan digital.
"Sejauh ini bantuan realisasi belum ada sama sekali. Yang ada hanya pengiriman link formulir untuk mengisi data kerusakan, kondisi mental, dan aktivitas sekolah," ungkapnya.
Padahal, sekolah membutuhkan bantuan mendesak berupa tenda-tenda darurat agar proses belajar-mengajar luar ruangan (outdoor) dapat berlangsung lebih aman dan layak selama masa tanggap darurat.
Ignasius berharap pemerintah memprioritaskan rehabilitasi gedung sekolah dengan spesifikasi bangunan tahan gempa. Pasalnya, gedung sekolah yang dibangun pada 2025 lalu mengalami keretakan parah meski baru berdiri seumur jagung.
Ignasius menyampaikan pesan mendalam bagi para anak didiknya agar tidak membiarkan bencana memadamkan cita-cita.
"Pesan saya untuk anak-anak hanya satu: Tetap semangat. Bencana bisa saja datang, tetapi semangat untuk belajar harus tetap ditegakkan," pungkas Ignasius.
Masa Tanggap Darurat Diperpanjang
Pemerintah Provinsi NTT diketahui memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa bumi Flores selama 14 hari, terhitung mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026.
Keputusan tersebut diambil Gubernur NTT, Melki Laka Lena, setelah mempertimbangkan kondisi di lapangan, kebutuhan penanganan masyarakat terdampak, serta aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Pulau Flores.
“Dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan dan aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di Flores, maka sebagai Gubernur NTT saya memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat penanganan gempa bumi Flores selama 14 hari, terhitung 29 Agustus hingga 12 September 2026,” kata Melki dalam keterangannya usai rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Ende, Kamis (27/8/2026) malam.
Keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi yang melibatkan Wakil Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, unsur Forkopimda, para bupati dari daerah terdampak gempa, serta pimpinan perangkat daerah terkait.

Meski masa tanggap darurat diperpanjang, Melki menegaskan roda pemerintahan dan pelayanan publik tidak boleh berhenti. Menurutnya, pelayanan dasar kepada masyarakat harus tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan.
“Masa tanggap darurat bukan berarti seluruh pemerintahan dan pelayanan publik berhenti. Sebaliknya, pelayanan dasar harus terus diaktifkan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan,” tegasnya.
Untuk itu, Melki meminta sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik lainnya menyesuaikan pola kerja dengan kondisi di masing-masing wilayah terdampak.
Khusus sektor pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT diminta segera mengonsolidasikan penyelenggaraan pembelajaran pada jenjang SMA, SMK, dan SLB. Sementara pembelajaran pada jenjang PAUD, SD, dan SMP akan dikoordinasikan pemerintah kabupaten masing-masing.
Melki menegaskan kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan secara fleksibel, baik di sekolah yang dinyatakan aman, ruang belajar sementara, maupun sekolah lapangan yang disiapkan pemerintah.
“Pembelajaran dapat dilakukan di sekolah yang aman, ruang sementara maupun sekolah lapangan. Begitu pula pelayanan pemerintahan tidak boleh memaksakan penggunaan gedung yang secara struktur dinyatakan tidak aman,” ujarnya.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































