Menuju konten utama

Kondisi Korban Gempa NTT: Fisik Terluka & Mental Trauma

Di tengah duka dan trauma gempa susulan, 20 bayi lahir selamat di tenda pengungsian darurat.

Kondisi Korban Gempa NTT: Fisik Terluka & Mental Trauma
Petugas medis dari Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah memeriksa pasien di Rumah Sakit Lapangan di Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (28/8/2026). Rumah Sakit Lapangan Muhammadiyah type 1 fixed berstandar WHO akan beroperasi melayani masyarakat terdampak gempa NTT hingga 22 September 2026. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gempa yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merenggut setidaknya 111 jiwa. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih menerima laporan korban jiwa tambahan menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) lalu.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengatakan sampai saat ini masih terdapat sekitar 15.000 pasien yang dirawat akibat terdampak gempa NTT. Jumlah tersebut teridentifikasi melalui puskesmas serta lokasi pengungsian.

“Status kesehatan kelompok terdampak itu populasi semuanya ada sekitar hampir 2 juta. Yang meninggal dunia [terdampak langsung gempa] update-nya ada 111 sampai sekarang. Yang luka berat ada 213, yang luka ringan ada 1.300-an, yang mengungsi ada 176.000, dan titik pengungsian ada 533 [lokasi],” sebut Dante dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kemenkes, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

“Kalau tadi 111 [korban jiwa] akibat gempa langsung. Ini [ada korban jiwa tambahan], setelah perawatan [korban gempa], akhirnya ada beberapa yang meninggal. Akhirnya dapat angka [akumulasi korban jiwa] 162, dari yang terdampak [gempa langsung] dan dirawat [meninggal dalam perawatan],” imbuhnya.

Dante mengatakan, kondisi masyarakat terdampak saat ini relatif lebih tertangani setelah mereka yang berada di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau, kini berhasil dievakuasi dan mendapatkan pelayanan kesehatan.

Menurut Dante, penanganan kesehatan pascagempa dilakukan secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada penanganan cedera yang dialami korban akibat tertimpa bangunan.

Tahap berikutnya adalah memastikan fasilitas kesehatan yang terdampak dapat kembali memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pelayanan Medis di Luar Gedung Akibat Gempa Susulan

Evakuasi korban gempa NTT

Petugas mengevakuasi korban gempa di Ronting, Lamba Leda, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8/2026). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.

Dante menyebut, saat ini seluruh fasilitas kesehatan yang terdampak telah kembali beroperasi. Namun, aktivitas pelayanan kesehatan sebagian dilakukan di luar gedung karena gempa susulan masih terjadi dan masyarakat maupun tenaga kesehatan khawatir berada di dalam bangunan.

“Dan sekarang fasilitas kesehatan tersebut semuanya sesudah minggu kedua, sekarang sudah beroperasional. Walaupun operasionalnya karena masih ada gempa [susulan], masih ada yang takut untuk masuk di dalam perawatan gedung, kita buatkan tenda-tenda kesehatan, pelayanan kesehatan di luar gedung, baik di Puskesmas maupun di rumah sakit,” terang Dante.

Dante mengungkapkan tahap ketiga penanganan bencana adalah pemeliharaan dan pemulihan fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan. Namun, pembangunan kembali bangunan yang rusak masih terkendala gempa susulan yang terjadi hingga saat ini.

Menurutnya, gempa terbesar yang tercatat mencapai magnitudo 6,6. Sementara itu, gempa dengan kekuatan lebih kecil masih terus terjadi.

Kondisi tersebut membuat pemerintah masih berhati-hati dalam membangun kembali fasilitas kesehatan yang rusak.

“Jadi kita masih takut juga untuk bangun, nanti kalau dibangun kemudian retak dan sebagainya. Nanti kita masih ini, ini ada tiga tahap evaluasi penanganan bencana yang kita lakukan secara sekuensial,” ujarnya.

Selain korban meninggal dan luka, Kemenkes mencatat sejumlah pasien yang membutuhkan pelayanan medis di Puskesmas maupun lokasi pengungsian.

“Identifikasi program Puskesmas ini ada yang warna merah, kuning, hijau. Yang gawat darurat dan kritis ini itu ada yang warna merah, itu ada 187, ini identifikasi kondisi pasien di Puskesmas dan pengungsian,” tutur Dante.

“Kemudian yang darurat stabil itu ada 900-an, yang tidak darurat tapi mengalami butuh pelayanan medis ada 13.800, kemudian yang meninggal ada 162, ya, yang meninggal 162. Total pasien yang terkena ada sekitar 15.000 yang terdampak gempa di Puskesmas dan pengungsian,” lanjutnya.

Kasus Cedera Parah hingga Kelahiran 20 Bayi Selamat

evakuasi korban Gempa NTT

Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi 4 warga korban gempa dari Manggarai Timur ke Labuan Bajo. Sumber foto: Dok.Basarnas Maumere.

Dante menerangkan, korban yang mendapatkan perawatan di tujuh rumah sakit rujukan di tujuh kabupaten mengalami berbagai jenis cedera. Sebanyak 391 pasien dirujuk ke rumah sakit, sementara 19 orang meninggal dunia di rumah sakit.

Menurutnya, sejumlah kasus yang paling banyak ditemukan antara lain cedera kepala dan patah tulang terbuka.

“Biasanya itu karena cedera kepala, kemudian patah tulang terbuka. Jadi patah tulang terbuka itu patah tulang, tulangnya keluar dari kulit, itu patah tulang terbuka,” paparnya.

Selain itu, terdapat korban yang mengalami trauma pada tulang belakang. Dante mengatakan, kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus karena berisiko menimbulkan gangguan serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Sebagian korban juga mengalami trauma tumpul pada bagian dada, luka bakar, hingga kondisi kehamilan yang membutuhkan penanganan medis.

Sementara itu, bayi yang lahir selama masa bencana juga mendapatkan penanganan khusus, baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan dan pengungsian.

Dalam dua pekan terakhir, sekitar 20 ibu melahirkan di tengah situasi pascagempa. Dante mengatakan, seluruh bayi yang lahir dalam periode tersebut selamat.

“Ada beberapa bayi yang dilahirkan, ibu-ibu yang melahirkan pada saat gempa itu sudah kita bisa tangani. Berapa pak yang melahirkan total? 20-an ada,” ujarnya.

Kemenkes bersama Polri juga melakukan evakuasi terhadap masyarakat di daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Ini beberapa contoh kerja sama kita dengan TNI, dengan Polri ya? Dengan Polri, evakuasi dengan helikopter sudah kita lakukan,” kata Dante.

Selain rumah sakit dan Puskesmas, Kemenkes juga mendirikan rumah sakit lapangan untuk menangani pasien yang membutuhkan rujukan dari fasilitas kesehatan yang tidak mampu menangani kasus tertentu.

Rumah sakit lapangan juga digunakan untuk memastikan pelayanan operasi tetap berjalan meski gempa masih terjadi.

Dante mengatakan, kamar operasi lapangan tersebut dilengkapi HEPA filter dan sistem tekanan negatif untuk menjaga kondisi steril. Fasilitas tersebut juga dibuat agar dapat digunakan ketika bangunan rumah sakit masih berisiko akibat gempa.

“Jadi kamar operasinya steril, tekanan udaranya diatur pakai HEPA filter, jadi kamar operasi steril dan tahan gempa. Karena kenapa? Ini rumah sakitnya ada, cuma karena masih gempa, mereka takut operasi di situ,” sebutnya.

Pengerahan Ratusan Dokter dan Pemulihan Trauma Psikologis

Evakuasi korban gempa NTT

Petugas mengevakuasi korban gempa di Ronting, Lamba Leda, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8/2026). Basarnas bersama petugas gabungan mengevakuasi sejumlah korban luka menggunakan helikopter ke Labuan Bajo, Manggarai Barat, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8) merusak fasilitas kesehatan di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.

Hingga saat ini, Kemenkes telah menerjunkan ratusan tenaga medis ke wilayah-wilayah terdampak. Relawan yang bergerak di lapangan diklaim telah terpetakan dengan baik untuk menyisir kantong-kantong pengungsian.

“Dokter umum ada 210 yang sudah didistribusikan, perawat ada 149, dokter spesialis ada 68, baik berasal dari pemerintah, akademisi, dari LSM, kemudian organisasi profesi dan mandiri,” katanya.

Menurut Dante, tenaga medis tersebut berasal dari berbagai unsur dan telah dipetakan untuk ditempatkan di wilayah yang membutuhkan.

Kemenkes pun memberikan uang harian kepada para relawan kesehatan tersebut. Mereka juga mendapatkan kebutuhan makan selama bertugas.

Kemenkes juga akan memberikan sertifikat Satuan Kredit Profesi (SKP) kepada tenaga medis yang terlibat dalam penanganan korban bencana.

“SKP ini diperlukan untuk mereka naik ke memperpanjang surat izin praktik, akan kita berikan sertifikat SKP kepada mereka,” ujarnya.

Kesehatan Mental Masuk Penanganan Tahap Berikutnya

Selain menangani luka dan cedera fisik, Kemenkes mulai mempersiapkan penanganan kondisi psikologis masyarakat yang terdampak gempa.

Dante mengatakan, saat ini sejumlah universitas telah mengirimkan relawan untuk membantu menangani persoalan psikologis masyarakat di lokasi pengungsian.

Menurutnya, kesehatan mental menjadi bagian penting dalam pemulihan masyarakat pascabencana. Namun, pada tahap awal, penanganan kesehatan fisik masih menjadi prioritas karena berkaitan dengan keselamatan pasien.

“Dari kita, masalah psikis itu, masalah kesehatan mental itu, juga penting. Nanti kita dalam dua minggu pertama ini kita masalah fisiknya dulu, yang terkendala dan hampir wafat, kalau kita tidak tangani cepat itu harus kita tangani dulu,” kata Dante.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah