Menuju konten utama

Gubernur NTT Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana 14 Hari

Gubernur NTT memperpanjang masa tanggap darurat gempa Flores selama 14 hari. Keputusan diambil karena gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah.

Gubernur NTT Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana 14 Hari
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Ende, Kamis (27/8) malam. Sumber foto: istimewa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa bumi Flores selama 14 hari, terhitung mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026.

Keputusan tersebut diambil Gubernur NTT, Melki Laka Lena, setelah mempertimbangkan kondisi di lapangan, kebutuhan penanganan masyarakat terdampak, serta aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Pulau Flores.

“Dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan dan aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di Flores, maka sebagai Gubernur NTT saya memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat penanganan gempa bumi Flores selama 14 hari, terhitung 29 Agustus hingga 12 September 2026,” kata Melki dalam keterangannya usai rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Ende, Kamis (27/8/2026) malam.

Keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi yang melibatkan Wakil Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, unsur Forkopimda, para bupati dari daerah terdampak gempa, serta pimpinan perangkat daerah terkait.

Meski masa tanggap darurat diperpanjang, Melki menegaskan roda pemerintahan dan pelayanan publik tidak boleh berhenti. Menurutnya, pelayanan dasar kepada masyarakat harus tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan.

“Masa tanggap darurat bukan berarti seluruh pemerintahan dan pelayanan publik berhenti. Sebaliknya, pelayanan dasar harus terus diaktifkan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan,” tegasnya.

Untuk itu, Melki meminta sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik lainnya menyesuaikan pola kerja dengan kondisi di masing-masing wilayah terdampak.

Khusus sektor pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT diminta segera mengonsolidasikan penyelenggaraan pembelajaran pada jenjang SMA, SMK, dan SLB. Sementara pembelajaran pada jenjang PAUD, SD, dan SMP akan dikoordinasikan pemerintah kabupaten masing-masing.

Melki menegaskan kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan secara fleksibel, baik di sekolah yang dinyatakan aman, ruang belajar sementara, maupun sekolah lapangan yang disiapkan pemerintah.

“Pembelajaran dapat dilakukan di sekolah yang aman, ruang sementara maupun sekolah lapangan. Begitu pula pelayanan pemerintahan tidak boleh memaksakan penggunaan gedung yang secara struktur dinyatakan tidak aman,” ujarnya.

Selain memastikan layanan dasar tetap berjalan, pemerintah daerah diminta mempercepat distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak. Seluruh kabupaten diminta segera memetakan wilayah dan kelompok masyarakat yang belum menerima bantuan agar dapat segera ditindaklanjuti.

Melki juga mengingatkan pentingnya penggunaan anggaran penanganan bencana secara tepat sasaran. Pemerintah pusat telah menyiapkan dukungan anggaran sebesar Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT dan Rp20 miliar bagi masing-masing kabupaten terdampak gempa.

“Dukungan anggaran dari pemerintah pusat harus dimanfaatkan tepat sasaran dan sesuai ketentuan. Kita terus bergerak memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, pelayanan tetap berjalan, dan secara bertahap mempersiapkan pemulihan pascabencana,” katanya.

Empat Warga Dievakuasi ke Labuan Bajo

Sementara itu, Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi medis udara terhadap empat warga Kabupaten Manggarai Timur yang mengalami penurunan kondisi kesehatan dan membutuhkan penanganan medis segera pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.

Evakuasi dilakukan pada Kamis (27/8/2026) menggunakan helikopter Dauphin milik Basarnas. Saat itu, helikopter tengah menjalankan misi pendistribusian bantuan logistik dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Basarnas di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman menjelaskan, evakuasi dilakukan setelah tim menerima informasi dari keluarga dan pendamping mengenai kondisi kesehatan empat warga yang membutuhkan penanganan medis segera.

"Setelah proses dropping logistik selesai, tim menerima laporan bahwa terdapat empat warga yang membutuhkan penanganan medis segera karena mengalami stroke, sesak napas, asma, dan pusing berat. Dengan mempertimbangkan kondisi mereka, tim langsung melakukan evakuasi melalui jalur udara menuju fasilitas kesehatan di Labuan Bajo," ujar Fathur Rahman.

evakuasi korban Gempa NTT

Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi 4 warga korban gempa dari Manggarai Timur ke Labuan Bajo. Sumber foto: Dok.Basarnas Maumere.

Helikopter Dauphin Basarnas mendarat dengan selamat di Bandara Komodo, Labuan Bajo, pada pukul 13.11 WITA. Setibanya di lokasi, keempat warga tersebut langsung dibawa menggunakan ambulans menuju RSUD Pratama Komodo untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Memasuki hari ke-14 Operasi SAR Bencana Gempa Flores, Tim SAR Gabungan terus memantau kondisi masyarakat terdampak. Personel dan peralatan SAR tetap disiagakan untuk merespons setiap permintaan evakuasi maupun bantuan medis dari masyarakat terdampak gempa.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - Flash News
Reporter: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Alfitra Akbar