Menuju konten utama

Pemulihan Wisata Labuan Bajo, BPOLBF Terapkan 'Safe Before Open'

BPOLBF imbau wisatawan utamakan keselamatan saat berkunjung ke Flores pascagempa. Pemulihan destinasi Labuan Bajo diterapkan lewat prinsip safe before open.

Pemulihan Wisata Labuan Bajo, BPOLBF Terapkan 'Safe Before Open'
Suasana lokasi pengungsian warga terdampak gempa bumi di Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, Jumat (28/8/2026). Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur resmi memperpanjang masa tanggap darurat gempa bumi Flores selama 14 hari terhitung mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026 karena masih terjadi aktivitas gempa susulan di sejumlah wilayah yang terdampak gempa bumi. ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengimbau para wisatawan untuk tetap mengutamakan keselamatan seiring mulai pulihnya aktivitas pariwisata di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pascagempa bumi M7,7. Pemulihan sektor wisata ini dilakukan secara bertahap dan terukur dengan menempatkan faktor keamanan sebagai prioritas utama.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengingatkan bahwa berangsur pulihnya aktivitas pariwisata tidak berarti seluruh destinasi di Flores berada dalam kondisi yang seragam. Berdasarkan data hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 17.00 WITA, frekuensi gempa susulan pascagempa utama pada 15 Agustus 2026 masih terjadi dan telah mencatatkan total 9.488 kali kejadian.

"Pemulihan aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif. Namun, wisatawan tetap perlu melihat kondisi masing-masing destinasi karena situasinya berbeda-beda," ujar Andhy dalam keterangan resminya, Minggu (30/8/2027) seperti dikutip dari Antara.

Ia meminta wisatawan untuk aktif memeriksa kondisi aksesibilitas, mulai dari jalur darat, pelabuhan, penerbangan, hingga akomodasi sebelum melakukan perjalanan. Pihaknya juga melarang keras wisatawan memaksakan diri mengunjungi kawasan yang masih ditutup atau belum dinyatakan aman oleh otoritas terkait, seperti BMKG, BNPB, KSOP, dan pemerintah daerah.

Sebagai langkah percepatan pemulihan, BPOLBF menggelar Bincang Kepariwisataan bersama para pelaku usaha dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Forum ini diselenggarakan guna menyerap langsung data dampak bencana, tantangan, serta kebutuhan industri pariwisata di lapangan.

Andhy menegaskan bahwa dalam proses pemulihan kawasan, BPOLBF memegang teguh prinsip safe before open (aman sebelum dibuka) dan ready before promote (siap sebelum dipromosikan).

"Informasi yang dihimpun meliputi kondisi dan kesiapan destinasi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, hingga aktivitas usaha pariwisata. Data tersebut menjadi dasar dalam merumuskan langkah kolaboratif untuk mendukung pemulihan dan keberlanjutan pariwisata di Labuan Bajo dan Floratama," jelas Andhy.

Ia menambahkan, "Forum ini kami selenggarakan sebagai ruang untuk melihat secara langsung perkembangan kondisi kepariwisataan pascagempa, termasuk berbagai isu, perhatian, dan tren yang berkembang di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, kami memetakan kondisi destinasi, mulai dari destinasi yang mengalami kerusakan ringan hingga berat, destinasi yang masih ditutup sementara, serta destinasi yang telah dinyatakan aman dan kembali beroperasi."

Di sisi pelaku usaha, operasional industri pariwisata dilaporkan mulai stabil. Perwakilan Hotel AYANA Komodo Waecicu Beach, Budi, mengonfirmasi bahwa fasilitas hotel dan operasional tempatnya bekerja berfungsi normal pascagempa, dengan tingkat okupansi yang terus menunjukkan tren peningkatan. Ia mengapresiasi informasi rutin dari Kementerian Pariwisata dan BPOLBF yang dinilai efektif menjaga kepercayaan wisatawan.

Guna memberikan kepastian hukum dan rasa aman bagi publik, Pemkab Manggarai Barat melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan bersama BPOLBF menyepakati penerbitan statement letter resmi. Surat pernyataan tersebut memuat status kesiapan industri pariwisata Labuan Bajo dalam menerima kembali kunjungan wisatawan berdasarkan hasil verifikasi dan asesmen ketat di lapangan.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Rina Nurjanah

tirto.id - Flash News
Reporter: Antara
Penulis: Rina Nurjanah
Editor: Rina Nurjanah