Menuju konten utama

Penjaga Nyala Malam: Kisah di Balik Etalase 24 Jam Warung Madura

Pemilik warung Madura tak sekadar cari untung, melainkan mengisi celah yang ditinggalkan oleh ritel besar.

Penjaga Nyala Malam: Kisah di Balik Etalase 24 Jam Warung Madura
Warung Madura 24 Jam, ketersediaan yang selalu ada di saat-saat darurat atau saat toko lain sudah tutup, di Depok, Jawa Barat, Kamis (20/08/26). tirto.id/Putri Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kota Depok diguyur gerimis dan hawa mendingin menyentuh kulit malam itu. Saat toko-toko di sekitaran Jalan Ridwan Rais, Beji Timur, telah menutup pintunya, sebuah toko kelontong membuka pintunya untuk orang-orang yang mungkin masih terjaga.

Rak-rak kayu toko itu dipenuhi rentengan kopi, tumpukan mi instan, dan serbaneka barang dagangan, sementara pom bensin mini berdiri di depannya. Ia menjadi simbol upaya ekonomi dan dedikasi yang unik dari para perantau asal Madura.

Itulah warung Madura yang memilih untuk tidak pernah memadamkan lampu tokonya.

Muis (26) adalah salah satu sosok yang menghidupkan ritme 24 jam tersebut. Sudah hampir setahun dia mengelola warung Madura ini. Baginya, waktu bukanlah deretan angka yang berakhir di pukul sembilan malam, melainkan sebuah siklus panjang yang harus dikelola dengan presisi.

Keputusannya untuk membuka warung 24 jam bukan tanpa alasan, meski terkadang dia sendiri sulit menjelaskannya dengan kata-kata sederhana.

"Ya gimana ya, tergantung kegiatan dan tergantung orang yang belanja sih. Kalau rame ya ada yang 24 jam, kalau sepi ada yang tutup," ujar Muis saat ditanya mengenai alasannya tetap beroperasi sepanjang hari.

Di balik toko, Muis menjalankan sebuah sistem pembagian waktu yang ketat bersama sang istri. Ini adalah kunci agar usaha mereka tetap berdiri tanpa mengabaikan kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat. Muis menjelaskan bahwa mereka berbagi beban agar tidak ada satu pun yang tumbang karena kelelahan.

"Ada-ada sistem shift. Kalau jam pagi, biasanya istri jaga. Entar jam 12 siang, aku yang jaga," jelas Muis.

Shift itu terus bergulir. Setelah Muis berjaga dari siang hingga pukul 8 malam, istrinya akan kembali mengambil alih hingga pukul 1 malam, selanjutnya Muis kembali yang berjaga.

“Entar istri lagi sampai jam 1 malam, saya sampai pagi," ungkap Muis.

Rutinitas ini dilakukan Muis setiap hari. Pengorbanan waktu tidur ini berbuah manis pada pendapatan harian. Meski tidak menentu, omzet yang dihasilkan tokonya cukup untuk memberikan harapan.

"Iya nyampe sih (Rp1 juta-Rp2 juta). Ya paling kalau rame Rp2 juta ke atas, Kak," ungkapnya.

Di tengah kesunyian malam, Muis juga menjadi saksi siapa saja yang masih membutuhkan jasanya. Mahasiswa dan pengemudi ojek online adalah pelanggan setianya di malam buta. Mereka biasanya mencari barang-barang spesifik untuk menemani mengerjakan tugas atau pekerjaan malam mereka. Barang yang paling laris adalah rokok dan air mineral.

"Iya, apalagi kalau kampus masuk, wah cepet banget (habis) si Vit (merek air mineral) itu," kata Muis.

Warung Madura Depok

Warung Madura 24 Jam, ketersediaan yang selalu ada di saat-saat darurat atau saat toko lain sudah tutup, di Depok, Jawa Barat, Kamis (20/08/26). tirto.id/Putri Azzahra

Demi Kesejahteraan Keluarga

Meski bekerja di waktu-waktu rawan, Muis merasa lingkungannya cukup aman berkat adanya petugas keamanan lingkungan. Dia tidak merasa terlalu khawatir, meski sesekali ada orang dalam pengaruh alkohol yang melintas.

"Kalau sini aku aman banget, soalnya ada satpamnya juga. Di sini jarang (ada keributan). Aku udah 5 bulan enggak ada kejadian apa pun di sini," tuturnya.

Segala jerih payah ini, dari menahan kantuk hingga menghadapi dinginnya angin malam, berhulu pada satu motivasi besar: kesejahteraan keluarga.

“Kan udah punya istri, tanggung jawab, Kak. Iya, apalagi punya anak udah satu," ucap Muis.

Dari tempat Muis, saya berpindah ke Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan. Saya bertamu ke warung Madura yang dikelola Ibnu Mujamil (24).

Berbeda dari Muis, Ibnu menjaga warung milik pamannya dan berjaga bergantian dengan rekan laki-lakinya.

Ibnu sudah 18 bulan ini bekerja sebagai penjaga warung Madura. Baginya, membuka warung 24 jam sudah menjadi sebuah standar dan sulit untuk ditinggalkan. Ada semacam tekanan sosial sekaligus peluang ekonomi yang berkelindan.

"Ya, susah nutupnya. Kan kebanyakan juga pada buka 24 jam," kata Ibnu dengan lugas.

Dia mengaku omzet toko yang dijaganya tergolong kecil untuk ukuran warung Madura. Meski demikian, pendapatan hariannya stabil di angka sekitar Rp3 juta.

Ibnu memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai keamanan usaha di malam hari. Jika kebanyakan orang takut buka di malam hari, Ibnu justru merasa lebih aman. Baginya, keberadaan orang yang berjaga di toko adalah cara terbaik untuk mencegah tindak kriminalitas, seperti pencurian.

"Saya rasa sih, lebih aman 24 jam. Soalnya ada yang dijaga. Kalau ditutup, enggak ketahuan kalau ada yang nyuri," ungkap Ibnu.

Selama 18 bulan beroperasi, dia bersyukur tidak pernah mengalami kejadian buruk, seperti perkelahian, begal, atau gangguan dari orang mabuk.

“Eggak pernah (ada keributan). Aman di sini," tegasnya.

Sama seperti Muis, Ibnu juga melayani para pemuda yang "ngalong" atau begadang hingga subuh. Produk utama yang dicari tetaplah rokok. Mengenai sistem shift, Ibnu juga menerapkan pola yang fleksibel, namun konsisten tergantung siapa yang sedang berjaga.

"Tergantung yang jaga. Kalau yang di sini, sehari-sehari gitu (masing-masing) 12 jam. Ada yang 6 jam, beda-beda. Kalau yang di sini 12 jam," jelasnya mengenai manajemen waktu di warung Madura yang dia jaga.

Mengisi Celah yang Ditinggal Ritel Besar

Keberadaan warung-warung seperti yang dikelola Muis dan Ibnu ternyata bukan sekadar fenomena sporadis. Ada sebuah kesadaran kolektif yang terorganisir di belakangnya. Haji Rawi, salah satu tokoh dari Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), memberikan perspektif yang lebih luas mengenai mengapa warung-warung ini tetap bertahan dan justru semakin menjamur di Jakarta.

Haji Rawi menyebut warung Madura sering dijuluki sebagai “apotek kelontong" karena ketersediaannya yang selalu ada di saat-saat darurat atau saat toko lain sudah tutup. Dia menekankan bahwa keberadaan komunitas ini bukan hanya soal mencari untung, melainkan tentang mengisi celah yang ditinggalkan oleh ritel besar.

"Kenapa Warung Madura itu selalu sampai hari ini bertahan? Karena kami memanfaatkan waktu ketika warung yang besar tutup. Kami multifungsi," ujar Haji Rawi dengan penuh keyakinan.

Lebih jauh lagi, Haji Rawi menjelaskan ada kontribusi sosial yang jarang disadari oleh masyarakat umum. Warung Madura secara tidak langsung berperan sebagai mata dan telinga bagi lingkungan sekitarnya di malam hari.

"Fungsi pertama mencari makan. Fungsi kedua menjadi kepanjangan tangan aparat penegak hukum di sekitarnya. Insyaallah selama 24 jam memang kami bergantian," tambahnya.

Menurutnya, dengan adanya orang-orang yang terjaga secara bergantian di setiap sudut jalan, potensi tindak kriminalitas bisa diminimalisir. Pasalnya, jalanan tidak pernah benar-benar sunyi atau tanpa pengawasan.

Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB pagi. Di warung Ibnu, suasana kembali ramai dan Ibnu bersiap untuk bertukar shift dengan rekannya.

Tiba-tiba, suara knalpot motor terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan warung. Seorang ibu-ibu dengan kerudung panjang turun dari motor sambil menenteng gas, wajahnya terlihat ceria sambil mendekat ke arah Ibnu.

"Bang, gas 1, Bang," ucap ibu itu seraya menyodorkan uang pecahan Rp20 ribuan.

Ibnu bergerak dengan cekatan, seolah matanya sudah memiliki navigasi otomatis di dalam ruang sempit itu. Dia mengambil gas yang baru untuk ditukar.

Setelah pelanggan pergi, Ibnu kembali duduk di kursi plastiknya. Sambil sesekali berbincang dengan rekannya yang akan berganti menjaga warung Madura.

Baca juga artikel terkait TOKO RITEL atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi