tirto.id - Pendiri sekaligus CEO Fast Retailing Co – perusahaan yang menaungi Uniqlo, Tadashi Yanai, mengatakan jumlah penduduk besar di Indonesia, tidak cukup untuk membuat jenama fesyen asal Jepang itu membatasi target pasarnya. Apalagi, ada lebih dari 8 miliar orang yang tinggal di bumi.
“Pasar ini sangat besar. Anda tidak boleh membatasi target audien Anda. Indonesia mungkin berpenduduk banyak, sekitar 80 juta jiwa, tetapi 8 miliar orang tinggal di Bumi. Semua orang di Bumi bisa terlihat seperti pakaian Anda. Jadi, kita bisa sukses di mana pun di dunia,” katanya, dalam Forbes CEO, di Hotel St. Regis, Jakarta Selatan, Rabu (15/10/2025).
Karena itu lah, Uniqlo memutuskan untuk lebih memilih melebarkan sayap bisnisnya ke Inggris, Cina dan Eropa. Namun demikian, saat mencoba memperluas pasar ke Inggris, Uniqlo tidak serta merta mendapatkan kesuksesannya.
Untuk menghadapi pasar yang menantang, Uniqlo merekrut anggota tim kepemimpinan senior dari jaringan ritel besar di Inggris. Namun, mereka sangat fokus membangun kantor pusat yang besar, bukan toko ritel.
“Jadi, toko itu menjadi bencana. Akhirnya kami membuka 21 toko. Saya menutup 16 di antaranya. Saya kehilangan sekitar 120 juta dolar AS. Itulah pengalaman buruk di Inggris. Ya, pada awalnya, kegagalan demi kegagalan terus terjadi. Saya yakin kita adalah contoh tipikal dari banyaknya kesalahan yang dibuat,” kisah Yanai.
Setelah memantapkan jalannya di Inggris, Uniqlo lantas mecoba peruntungan untuk memperluas pasar ke Cina, dengan membuka toko ritel di Shanghai dan Beijing. Melihat bahwa pendapatan warga Cina saat itu hanya satu per dua puluh dari pendapatan saat ini, Yanai berpikir bahwa untuk menarik minat warga lokal, ia semestinya menjual pakaian dengan harga miring.
“Kami mulai menawarkan pakaian murah dengan kualitas yang lebih rendah. Namun, itu adalah sebuah kesalahan. Karena orang Tiongkok cenderung percaya bahwa harga setara dengan kualitas,” imbuhnya.
Kesuksesan pertama yang dicapai Uniqlo adalah di Hong Kong. Sebab, berkaca dari pengalaman sebelumnya, setiap kali menjual produk di Tiongkok, produsen harus menetapkan harga yang tepat.
“Karena sebelum menjual pakaian, Anda harus benar-benar menjual dan mempromosikan merek. Maka kami mulai menikmati kesuksesan tersebut dan beralih ke Korea, Asia Tenggara, Indonesia, Vietnam, Singapura. Dan kemudian saya tidak boleh melupakan toko opera kami di Eropa,” tutur Yanai.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































