tirto.id - PT Indomarco Prismatama alias Indomaret Group lebih hati-hati dalam membuka gerai barunya di sejumlah daerah. Ini terlihat dari penurunan jumlah outlet anyar Indomaret yang turun dari 1.200 di 2023 dan menjadi 651 di tahun lalu.
Direktur Pemasaran Indomaret, Wiwiek Yusuf, mengakui adanya outlet-outlet yang tutup di beberapa daerah dalam beberapa waktu terakhir. Namun, ia menilai lahir atau gugurnya toko adalah hal biasa di industri ritel.
Ia juga mengeklaim bahwa penutupan gerai di beberapa daerah merupakan bagian dari rencana bisnis perusahaan, alih-alih pelemahan daya beli masyarakat.
“Pasti (ada yang tutup) dalam usaha ada yang buka, ada yang tutup. Kalau yang tutup itu berarti potensinya kurang,” ujar dia, saat ditemui usai Penandatanganan Nota Kesepahaman Indomaret Group dengan Gerakan Pemuda Ansor, di Kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2025).
Di balik penutupan beberapa gerai tersebut, Indomaret pun masih teguh dengan rencananya untuk membuka 1.000 gerai di tahun ini. Namun, pada paruh kedua 2025, Indomaret akan memfokuskan penambahan gerai di wilayah timur Indonesia.
Meski begitu, Wiwiek mengaku masih harus memikirkan alur logistik untuk mencapai wilayah Indonesia timur tersebut. “Kita buka juga di tempat lain. Kira-kira 1.000 gerai sampai akhir tahun di seluruh Indonesia. Wilayah Timur kita mulai (penjajakan). Kita mesti atur logistiknya,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sampai saat ini Indomaret masih belum berencana memperluas area bisnisnya ke daerah barat Indonesia, seperti di Padang. Salah satu sebabnya adalah karena proses perizinan dari pemerintah daerah yang cukup ketat, selain juga biaya logistik yang mahal.
“Kalau Padang karena lebih ke perizinan. Memang kalau saya lihat fair, mereka (jaringan ritel) nggak boleh masuk, (atau) boleh, nggak boleh masuk semua. Timur kan lebih ke logistik. Kita mesti mengatur logistiknya, gimana logistik bisa sampai ke pelosok. Itu mesti kita atur semua,” jelas dia.
Sebagai informasi, pada awal tahun ini, beberapa gerai Indomaret di Bangka Belitung dikabarkan tutup karena omzet yang tak sebanding dengan biaya operasional.
Terkait hal ini, CEO Indomaret Group, Sinarman Jonatan, menilai menjalankan bisnis ritel memang bukan hal yang mudah karena sangat dinamis atau berubah-ubah seiring dengan berubahnya zaman. Karena itulah, setiap ritel juga diharuskan untuk berubah mengikuti zaman.
“Sangat tidak menentu karena masalah-masalah yang sangat kompleks sifatnya. Sehingga, kalau tidak berubah, kita menjadi tertinggal,” tutur Sinarman.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































