Menuju konten utama

Pusat Perbelanjaan Tertekan di Tengah Maraknya Fenomena 'Rojali'

Melihat kondisi ekonomi yang ada APPBI memperkirakan pertumbuhan omzet hanya 10 persen di 2025.

Pusat Perbelanjaan Tertekan di Tengah Maraknya Fenomena 'Rojali'
Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Lombok Epicentrum Mal di Mataram, NTB, Senin (24/3/2025). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan pusat perbelanjaan mengalami penurunan omzet pada 2025.

Dia menargetkan pada tahun ini omzet pusat perbelanjaan dapat tumbuh 20-30 persen. Namun, melihat kondisi ekonomi yang ada pihaknya memperkirakan pertumbuhan omzet hanya 10 persen di 2025.

“APPBI memprediksi 2025 ini tetap tumbuh dibandingkan tahun lalu, tapi tidak signifikan. Paling single digit artinya kurang dari 10 persen, tapi tetap tumbuh,” katanya di pusat perbelanjaan di Cililitan, Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Alphonsuz mengungkapkan, penurunan omzet ini terjadi lantaran daya beli masyarakat sedang tertekan imbas kondisi perekonomian global.

Sehingga, kalangan menengah ke bawah saat ini lebih banyak menahan belanja dan mencari produk satuan yang termurah. Bahkan tak jarang para konsumen di kelas ini dicap rombongan hanya nanya (Rohana) dan rombongan jarang beli (Rojali).

“Selalu ada fenomena Rojali ini dari waktu ke waktu. Karena tadi fungsi pusat belanjanya bukan hanya sekedar belanja. Cuman memang di waktu-waktu tertentu intensitasnya naik seperti sekarang naik tapi saya kira itu karena lebih dari karena (penurunan) daya beli,” tegasnya.

Sedangkan, kelas atas juga menjadi lebih hati-hati untuk mengeluarkan uang dan memilih berinvestasi.

“Sehingga mereka (kelas atas) memilih belanja atau berinvestasi. Jadi saya kira latar belakang faktornya berbeda-beda. Untuk yang kelas menengah atas sama yang kelas menengah bawah itu beda,” ujarnya.

Namun begitu, dia mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap meningkat di tahun ini sebesar 10 persen, tetapi tidak berkontribusi besar terhadap peningkatan omzet.

Pasalnya, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan didominasi oleh kalangan menengah bawah sebesar 95 persen, sedangkan kelas menengah atas hanya 5 persen.

“Kan daya belinya berkurang uang yang dipegang semakin sedikit, tapi mereka tetap datang ke pusat perbelanjaan makanya data APPBI menyatakan bahwa jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap naik meskipun tidak signifikan,” tuturnya.

Hal ini diperparah dengan low season di tahun ini lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebabnya, Idul Fitri yang menjadi peak season jatuh di awal tahun.

Sehingga di sisa tahun ke depan APPBI harus putar otak untuk menggenjot peningkatan kunjungan maupun pendapatan di pusat perbelanjaan. Karenanya, pihaknya akan terus menggelar promosi hingga masuk momen natal dan tahun baru.

“Caranya adalah bagaimana kita memperpendek Low season ini dengan mengadakan berbagai kegiatan promo belanja. Akan kami lakukan terus, sampai dengan nanti menjelang Natal dan tahun baru. Yang terdekat menyambut perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra