tirto.id - Di tengah riuhnya pusat perbelanjaan, suasana semarak tak selalu mencerminkan denyut ekonomi yang sehat. Banyak orang lalu-lalang, berfoto, atau sekadar duduk mengobrol di kafe.
Namun di balik keriuhan itu, para pedagang dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengeluh. Sebab keramaian tak lagi sebanding dengan transaksi. Fenomena ini kini semakin populer dengan sebutan 'Rojali' atau Rombongan Jarang Beli.
Peneliti Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Sri Mulyani, melihat bahwa istilah 'Rojali' ini mucul dari pengamatan sosial biasa, namun cepat merebak menjadi perbincangan nasional. Ia menggambarkan realita di mana masyarakat masih ingin keluar rumah dan bersosialisasi, tetapi daya beli mereka telah menyusut drastis.
"Mereka hadir di ruang publik, tapi hanya untuk melihat-lihat bukan membeli. Aktivitas konsumtif digantikan oleh hiburan visual dan eksistensial seperti nongkrong, memotret, atau berbagi di media sosial," jelas Sri Mulyani kepada Tirto, Senin (21/7/2025).
Pada kuartal I 2025, konsumsi rumah tangga diketahui hanya tumbuh sebesar 4,89 persen, lebih rendah dibanding rerata sebelum pandemi yang berada di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen. Kinerja ini mencerminkan belum pulihnya daya beli masyarakat secara menyeluruh.
Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok dan biaya hidup seperti listrik, transportasi, dan layanan kesehatan terus mengalami kenaikan. Meskipun inflasi nasional tercatat sekitar 3 persen, tekanan biaya hidup tetap dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat.Kondisi ini, menurut Sri Mulyani, semakin berat karena pendapatan riil cenderung stagnan, terutama di kalangan pekerja informal dan berpenghasilan rendah. Tekanan tersebut turut memengaruhi sektor ritel, yang menunjukkan penurunan kinerja penjualan dengan pertumbuhan tahunan yang tercatat negatif sebesar 0,3 persen menurut data Bank Indonesia.
"Berbagai strategi diskon dan promosi yang biasanya efektif pun kini tidak lagi mampu mendorong konsumsi rumah tangga," jelas dia.
Peneliti Next Policy, Dwi Raihan, mengatakan fenomena 'Rojali' menjadi indikator lain bahwa daya beli masyarakat indonesia memang sedang mengalami masalah. Pasalnya masyarakat indonesia merupakan masyarakat yang memiliki konsumsi tinggi.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kekuatan daya beli masyarakat menenggah Indonesia sangat rentan. Ketika ekonomi lesu, maka daya beli kelas menegah langsung menyusut. Fenomena ini dinilai fenomena musiman tetapi akumulasi dari lemahnya indikator-indikator lain.
"Karenanya fenomena ini perlu mendapat perhatian," kata Raihan kepada Tirto, Senin (21/7/2025).
Raihan menilai fenomena ini akan berakhir ketika daya beli meningkat. Sementara daya beli meningkat jika masyarakat memiliki pendapatan yang diperoleh melalui pekerjaan.
"Terjadinya deindustrialisasi harus mendapat perhatian dan segera diatasi. Perbaikan struktur ekonomi khususnya industri menjadi krusial. Di sisi lain, pelaku usaha harus membuat strategi komunikasi yang efektif dan pemberian diskon untuk menarik orang," jelas dia.
Perlu Langkah Strategis
Lebih lanjut, Sri Mulyani justrumelihat bahwa fenomena 'Rojali' bukan sekadar perubahan gaya konsumsi, melainkan cerminan persoalan struktural stagnasi pendapatan, ketimpangan akses terhadap kebutuhan dasar, serta lemahnya daya beli masyarakat bawah.
Maka solusinya tidak cukup dengan gimik promosi atau stimulus sesaat. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengalirkan konsumsi ke lapisan bawah dan menjaga perputaran ekonomi secara lebih merata. Seperti halnya menstabilkan harga pangan agar tidak membebani rumah tangga miskin.
Selain itu perlu juga mendorong perlindungan sosial berbasis komunitas seperti solidaritas lokal dan skema redistribusi informal, menguatkan konsumsi produktif misalnya dengan membuka akses terhadap pangan lokal, pasar komunitas, atau lumbung pangan kolektif, mengalirkan belanja publik ke sektor kerakyatan, termasuk melalui proyek padat karya di pedesaan dan UMKM.
"Di balik keramaian yang menipu, ada banyak cerita tentang keluarga yang harus menyiasati pengeluaran demi bisa makan tiga kali sehari," jelas dia.
Berdasarkan catatan IDEAS, pada 2024, tercatat lebih dari 4,6 juta orang pernah mengalami kelaparan karena tidak mampu membeli makanan. Bahkan 2,8 juta orang di antaranya tidak makan seharian. Menurutnya ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan krisis sosial yang nyata.
Ini sama halnya dengan rendahnya daya beli bukan hanya soal jumlah uang, tapi soal akses terhadap konsumsi yang layak dan merata. Di sinilah pentingnya membangun ekonomi solidaritas sebuah sistem perlindungan sosial yang tumbuh dari bawah dan didukung oleh kepedulian kolektif masyarakat sendiri.Terlebih, kata Sri Mulyani, fenomena 'Rojali' bukan sekadar tren sosial urban. Ia adalah isyarat bahwa konsumsi rakyat sedang terhambat, bukan karena keinginan berkurang, melainkan karena kemampuan mengecil.
"Jika solusi hanya disandarkan pada dorongan sisi penawaran atau strategi pemasaran, itu tak akan cukup," jelas dia.
Karena yang dibutuhkan dalam hal ini adalah arus balik konsumsi yang berpihak ke bawah, agar perekonomian tumbuh tidak hanya dalam statistik, tetapi terasa hingga ke dapur rakyat. Bukan hanya agar toko kembali ramai pembeli, tetapi agar tak ada keluarga yang harus memilih antara bayar listrik atau makan malam.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































