tirto.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat pertumbuhan tabungan kelas menengah masih mengalami peningkatan, meski lajunya mulai melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengungkapkan bahwa secara tahunan (year-on-year/yoy), jumlah nominal dan jumlah rekening tabungan kelas menengah masih mencatatkan kenaikan. Namun, dalam tiga bulan terakhir, pertumbuhan tersebut menunjukkan perlambatan.
"Naik, sekarang agak melambat kenaikannya, tapi naik. Jumlah nominal maupun jumlah rekeningnya naik," ujar Anggito saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026).
Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan, Anggito menilai kondisi tersebut tetap mencerminkan adanya aktivitas ekonomi yang berlangsung. Menurutnya, meningkatnya simpanan masyarakat berarti terjadi pergerakan uang yang signifikan.
"Saya hanya memotret saja. Potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik, itu saja. Khususnya year-on-year. Year-to-date, memang tiga bulan terakhir itu ada perlambatan, tapi tetap naik. Jadi memang ada aktivitas ekonomi yang terjadi," jelasnya.
Meskipun tak menyebutkan persentase kenaikan, Anggito juga menyoroti peningkatan jumlah rekening aktif di perbankan. Ia mencatat, masyarakat yang tidak memiliki rekening semakin berkurang sekitar dua juta orang setiap tahunnya. Kini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening tinggal sekitar 15 juta jiwa.
"Rekening yang aktif juga semakin banyak sekarang, setahun terakhir ini. Jadi itu menunjukkan ekonominya itu aktif bergerak. Perpindahan rekening, pembayaran, penerimaan itu naik," tuturnya.
Lebih lanjut, Anggito menjelaskan bahwa pertumbuhan tabungan merupakan cerminan dari meningkatnya pendapatan masyarakat. Masyarakat yang berpenghasilan lebih tinggi cenderung memiliki kapasitas menabung yang lebih besar, yang berarti konsumsi juga turut meningkat.
"Kalau saving-nya naik, berarti konsumsinya naik. Saving itu bagian dari pendapatan. Pendapatan dikonsumsi, sisanya di-saving. Kalau naik, berarti konsumsinya naik," paparnya.
Meskipun pertumbuhan tabungan kelas menengah melambat, Anggito menyebut bahwa kelompok dengan simpanan di atas Rp5 miliar justru mencatat kenaikan yang paling tinggi dan paling besar.
Sementara itu, dari sisi sektor mikro, Anggito mengakui bahwa pertumbuhan kredit Usaha Kecil dan Mikro (UKM) masih rendah, yakni hanya sekitar 1,6 persen per Juni atau 0,5 persen per Mei. Namun, ia menilai masih banyak indikator lain yang menunjukkan sektor mikro tetap dalam kondisi baik, termasuk peningkatan jumlah rekening kelompok mikro dan super mikro.
"Kita pegang super mikro ini. Rekening-rekeningnya, jumlah rekening yang nambah, jumlah rekening per kelompok,” kata dia.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id




































