tirto.id - Pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan. Rupiah berada di level Rp17.933 per dolar AS, melemah 17 poin atau sekitar 0,09 persen
Pelemahan tersebut melanjutkan tren pada perdagangan Kamis (24/9), ketika rupiah turun 98 poin atau 0,55 persen dari posisi sebelumnya Rp17.818 menjadi Rp17.916 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama penguatan dolar AS setelah keluarnya data aktivitas bisnis Amerika Serikat.
Data Flash Purchasing Managers' Index (PMI) AS untuk September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh cukup kuat. PMI Composite, yang menggabungkan aktivitas sektor manufaktur dan jasa, meningkat menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus. Angka tersebut sekaligus menjadi level tertinggi sejak Juli 2021.
Kuatnya aktivitas ekonomi AS juga dibarengi dengan tekanan biaya dan inflasi yang masih persisten. Kondisi tersebut membuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS yang relatif ketat tetap bertahan.
Ketika prospek suku bunga AS cenderung tinggi, dolar AS dan aset-aset yang berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Situasi ini kemudian memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging markets, termasuk rupiah, karena investor cenderung mempertimbangkan daya tarik aset dalam dolar AS.
Dari dalam negeri, salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. BI juga kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.
“Posisi cadangan devisa yang masih kuat di sekitar 146,5 miliar dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga ketahanan eksternal,” ungkap Amru dikutip Antara, Kamis (24/9/2026).
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.315,53 Hari Ini
Pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat. IHSG naik 16,92 poin atau 0,27 persen ke level 6.315,53.
Penguatan tersebut terjadi setelah pada perdagangan Kamis (24/9/2026), IHSG ditutup melemah cukup signifikan sebesar 76,30 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.298,61. Indeks yang mengukur kinerja 45 saham unggulan, LQ45, pada Jumat pagi juga dibuka menguat 1,09 poin atau 0,17 persen menjadi 624,35, setelah sehari sebelumnya ditutup turun 8,68 poin atau 1,37 persen ke level 623,26.
Pelemahan IHSG pada Kamis sebelumnya terjadi seiring dengan koreksi yang juga berlangsung di sejumlah bursa Asia. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, tekanan tersebut tidak terlepas dari pelemahan bursa Wall Street Amerika Serikat dan pasar saham Eropa.
Kondisi di pasar global menjadi perhatian investor karena meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, kekhawatiran terhadap inflasi, serta kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar saham.
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan risiko inflasi karena biaya energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi biaya produksi dan harga berbagai barang serta jasa.
Kekhawatiran tersebut semakin meningkat di tengah ketidakpastian mengenai situasi Timur Tengah. Iran disebut meragukan kemajuan pembicaraan perdamaian di kawasan tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa Teheran tidak akan menyerah kepada Amerika Serikat, meskipun tetap membuka ruang untuk dialog dan diplomasi dengan sejumlah syarat.
Selain Timur Tengah, pasar juga memperhatikan hubungan Amerika Serikat dan China, khususnya rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Washington. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian mengenai perpanjangan gencatan senjata perdagangan kedua negara.
Pertemuan Trump dan Xi diperkirakan menjadi perhatian investor karena kedua negara memiliki hubungan ekonomi yang sangat besar dan kebijakan perdagangan keduanya dapat memengaruhi perdagangan global.
Kondisi pasar saham Indonesia juga masih menghadapi tekanan dari berbagai risiko global. Investor mencermati tingginya imbal hasil obligasi global, pergerakan harga minyak, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
“Di dalam negeri sendiri, situasi tidak kalah menantang karena laju pertumbuhan ekonomi melambat, belanja masyarakat lesu, dan rupiah terus dibayangi risiko melemah akibat penguatan mata uang dolar AS serta keluarnya dana investor asing,” ujar Nico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































