Menuju konten utama
Edusains

5.500 Tahun Lalu, Sampar Mencekik Para Pemburu dan Peramu

Sampar yang disebabkan bakteri Yersinia pestis telah ada sebelum peradaban pertanian mulai tumbuh. Korbannya adalah kelompok pemburu dan peramu. 

5.500 Tahun Lalu, Sampar Mencekik Para Pemburu dan Peramu
Header Mozaik Wabah Pertama. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada akhir April 2019, seorang penjaga perbatasan berusia 38 tahun di Provinsi Bayan Ulgii, Mongolia bagian barat, merasakan hal yang tidak beres pada tubuhnya. Ia lantas menelepon layanan darurat dari rumahnya, dan melaporkan bahwa dirinya mengalami demam, nyeri perut, dan muntah darah. Namun, tak lama setelah panggilan itu, ia meninggal dunia.

Istrinya, 37 tahun, juga mulai sakit beberapa hari sebelumnya. Ia mengunjungi dokter setiap hari sejak 26 April dengan keluhan demam, diare, sakit perut, muntah, dan sakit kepala. Namun, perempuan ini menyembunyikan sesuatu dari dokternya. Antara tanggal 22 dan 25 April, ia dan suaminya telah memakan daging dan jeroan marmot mentah, yaitu ginjal, lambung, dan kantong empedu hewan tersebut.

Marmot adalah sejenis tupai tanah besar yang sudah lama diburu masyarakat di kawasan Asia Tengah, termasuk di Mongolia, sebagai sumber makanan dan bahan bulu. Akan tetapi, hewan ini menyimpan bahaya yang tidak kelihatan. Ia adalah salah satu reservoir utama Yersinia pestis, bakteri penyebab pes atau wabah sampar.

Sang istri akhirnya didiagnosis pes setelah suaminya meninggal. Ia dirawat di rumah sakit dengan gentamisin dan seftriakson intravena, tetapi ketika itu semuanya sudah terlambat. Ia meninggal pada 1 Mei 2019, meninggalkan empat anak yang usianya antara sembilan bulan hingga dua belas tahun.

Kisah pasangan Mongolia itu mungkin terdengar seperti kejadian langka di era modern. Namun, ia sebenarnya adalah pengulangan pola yang usianya sudah sangat tua; jauh lebih tua dari yang selama ini dibayangkan.

Yersinia pestis adalah nama di balik tiga pandemi terbesar dalam sejarah manusia. Pertama, Wabah Justinianus pada abad ke-6 Masehi yang menghantam Kekaisaran Romawi Timur. Kedua, Maut Hitam atau Black Death yang menyapu Eropa pada abad ke-14 dan menewaskan sekitar separuh penduduk benua itu. Terakhir, Pandemi Pes Ketiga yang dimulai di Hongkong pada 1894 dan menyebar ke seluruh dunia.

Selama ini, para ilmuwan percaya bahwa Yersinia pestis baru menjadi ancaman serius bagi manusia ketika peradaban pertanian mulai tumbuh. Teori ini masuk akal karena, ketika itu, manusia mulai menetap, membangun kota, dan hidup berdekatan dengan tikus dan ternak. Karena sampar dibawa oleh tikus, jarak yang dekat antara manusia dan hewan tersebut, serta kepadatan populasi, membuat penularan jadi begitu cepat hingga akhirnya tak terkendali.

Akan tetapi, pada 18 Juni 2026, terbitlah sebuah artikel di jurnal Nature yang membantah itu semua.

Artikel tersebut menyampaikan hasil temuan tim peneliti internasional pimpinan Ruairidh Macleod, seorang peneliti DNA purba dari Universitas Oxford. Para peneliti itu menganalisis gigi dari 46 kerangka manusia yang ditemukan di empat situs pemakaman kuno di tepi Sungai Angara, Siberia tenggara, tidak jauh dari Danau Baikal yang terkenal sebagai danau terdalam dan tertua di dunia.

Para peneliti menggunakan teknik pengurutan shotgun, yaitu metode untuk mengidentifikasi urutan DNA dalam sampel tanpa harus mengetahui lebih dulu organisme apa yang sedang dicari. Hasilnya, DNA Yersinia pestis ditemukan pada 18 dari 46 individu yang diperiksa, atau sekitar 39 persen.

Angka ini sebenarnya bisa lebih tinggi, karena DNA purba sangat mudah rusak dan sulit terdeteksi. Sebagai perbandingan, tingkat deteksi serupa juga ditemukan di kuburan massal Black Death abad pertengahan di London, yang memang diketahui secara historis sebagai lokasi pemakaman korban pes. Dengan kata lain, para peneliti menduga hampir seluruh individu yang dimakamkan di sana meninggal karena pes.

Penemuan ini luar biasa karena dua hal. Pertama, karena usianya 5.500 tahun. Kedua, karena korbannya bukanlah petani, penduduk kota, atau peternak, melainkan kelompok yang bertahan hidup dengan berburu dan meramu. Mereka adalah orang-orang nomaden yang bergerak dalam kelompok kecil di sepanjang sungai dan masih belum mengenal apa itu memproduksi makanan sendiri.

"Teorinya, penyakit menular tidak benar-benar bisa berkembang dan menghancurkan komunitas secara menyeluruh dengan cara ini," kata Macleod dalam konferensi pers, seperti dikutip Ars Technica. "Fakta bahwa kita menemukan ini terjadi pada kelompok pemburu-peramu prasejarah yang terisolasi menantang teori epidemiologi itu."

Para peneliti menemukan bahwa wabah terjadi dalam dua gelombang terpisah. Gelombang pertama dimulai sekitar 5.500 tahun lalu, dan gelombang kedua menyusul 400 hingga 600 tahun kemudian. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa Yersinia pestis muncul sebagai spesies paling tidak sekitar 5.700 tahun lalu, setelah memisahkan diri dari nenek moyangnya, yaitu bakteri Yersinia pseudotuberculosis yang menyebabkan gangguan pencernaan.

Di situs permakaman Ust'-Ida, tempat paling banyak korban ditemukan, setidaknya dua pertiga jenazah adalah individu di bawah usia 15 tahun. Banyak dari mereka berbagi liang kubur dengan saudara kandung atau anggota keluarga lain. Macleod menyebut sebuah makam yang berisi tiga gadis kecil yang tampaknya meninggal pada waktu yang hampir bersamaan; dua di antaranya adalah saudara kembar dan satu lagi sepupu mereka. Yang termuda berusia empat atau lima tahun.

Genome Yersinia pestis yang berhasil dirangkai dari sampel Siberia ini ternyata adalah yang paling tua yang pernah diurutkan. Strain purba ini belum memiliki sejumlah gen yang kemudian menjadikan keturunannya begitu mematikan dalam skala besar. Ia belum punya gen yang diperlukan untuk bertahan di dalam tubuh kutu, sehingga penularan melalui gigitan kutu, yang menjadi ciri khas wabah bubonik abad pertengahan, kemungkinan besar belum terjadi.

Namun, strain ini tetap berbahaya. Ia membawa gen yang menghasilkan racun superantigen, yaitu protein beracun yang memicu respons imun berlebihan dan tidak terorganisasi. Anak-anak sangat rentan terhadap reaksi seperti ini karena sistem imun mereka masih dalam tahap belajar.

Para peneliti menduga wabah ini menyebar sebagai pes pneumonik, yaitu bentuk pes yang menyerang paru-paru dan menular melalui udara ketika penderita batuk atau bernapas. Ini adalah bentuk pes yang tidak membutuhkan perantara kutu atau hewan lain, dan ia bisa menyebar langsung dari manusia ke manusia dalam satu keluarga atau kelompok kecil.

Lantas, bagaimana wabah ini bisa sampai pada kelompok pemburu-pengumpul itu sejak awal? Para peneliti menduga seseorang dalam kelompok tersebut terinfeksi saat berburu atau menguliti marmot yang sakit, lalu menelan droplet darah yang terkontaminasi, atau menghirup partikel yang terinfeksi. Marmot memang telah lama menjadi reservoir alami Yersinia pestis di kawasan Siberia dan Asia Tengah. Dari satu titik infeksi itu, bakteri menjalar ke seluruh kelompok dan ke kelompok-kelompok yang terhubung melalui ikatan keluarga di sepanjang sungai.

"Dari cara orang-orang dimakamkan, sangat jelas bahwa ada seseorang yang masih hidup untuk mengubur jenazah, yang mengetahui siapa orang-orang ini ketika mereka masih hidup. Dan itu membuat penemuan ini semakin terasa manusiawi," ujar MacLeod.

Sebelum penemuan di Siberia, catatan wabah tertua yang diketahui berasal dari Latvia. Pada 2021, tim peneliti yang berbeda berhasil merekonstruksi genom Yersinia pestis dari sisa-sisa seorang pria berusia 20 hingga 30 tahun yang dimakamkan di situs pembuangan cangkang kerang kuno bernama Riņņukalns, Latvia, sekitar 5.000 tahun lalu. Kala itu, temuan ini sebetulnya juga cukup menggemparkan dunia sains karena korbannya, seorang pria, juga merupakan pemburu-peramu. Namun, karena dianggap kasus tunggal dan bukan wabah, apa yang dialami pria itu tidak cukup untuk menuliskan ulang sejarah.

Apa yang ditemukan di Siberia jelas punya tingkat keparahan yang berbeda dan bahkan menggeser linimasa sejarah ke masa yang lebih lampau lagi. Temuan di Siberia bukan cuma soal wabah paling tua tetapi juga bukti bahwa pes bisa menghancurkan seluruh komunitas manusia, jauh sebelum ada yang dinamakan kota.

"Ada gagasan bahwa masa berburu dan meramu adalah masa di mana tidak ada penyakit, tidak ada patogen," kata Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner dari Universitas Kopenhagen yang ikut dalam penelitian ini, seperti dikutip The New York Times. "Sekarang kita bisa melihat, ternyata menjadi pemburu-peramu pun tidak mudah. Kita bisa terserang pes lagi dan lagi, dan kemungkinan besar itu sudah sangat umum terjadi."

Sejarah manusia dengan pes atau sampar ternyata jauh lebih panjang dan lebih mengerikan dari yang kita duga. Sampar sudah berkali-kali meluluhlantakkan peradaban, dan ternyata sebelum ada peradaban pun ia sudah jadi monster yang begitu mengerikan bagi manusia.

Baca juga artikel terkait WABAH PES atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi