Menuju konten utama

Hyrox Klarifikasi Soal Atlet Diare Tetap Bertanding di Cina 2026

Hyrox mengklarifikasi insiden atlet diare saat bertanding di Cina dan akan mengevaluasi prosedur kebersihan serta aturan kompetisi.

Hyrox Klarifikasi Soal Atlet Diare Tetap Bertanding di Cina 2026
Ilustrasi olahraga hyrox. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hyrox akhirnya memberikan klarifikasi terkait kontroversi atlet yang mengalami diare saat bertanding dalam kompetisi di Cina. Hyrox mengakui bahwa insiden di Cina merupakan situasi tidak terduga dan mengatakan akan mengevaluasi kejadian tersebut.

Insiden seorang atlet perempuan Australia bernama Joanna Wietrzyk yang tampil di nomor women’s pro itu viral setelah dirinya tetap melanjutkan perlombaan meski mengalami diare.

Ia bahkan berhasil menyelesaikan pertandingan dengan catatan waktu 1 jam 1 menit 23 detik dan keluar sebagai pemenang.

Kejadian itu kemudian memicu perdebatan di komunitas Hyrox, terutama mengenai kebersihan, penggunaan peralatan bersama, serta keputusan atlet untuk tetap melanjutkan perlombaan.

Kronologi Insiden Atlet Diare saat Bertanding di Hyrox Cina

Peristiwa tersebut terjadi dalam ajang Hyrox Beijing yang berlangsung di National Speed Skating Oval pada 10-13 September. Joanna Wietrzyk, atlet Hyrox asal Australia yang berbasis di Melbourne, turun dalam nomor women’s pro pada Sabtu, seperti diberitakan The Independent, Senin(14/9/2026).

Dalam perlombaan tersebut, sang atlet mengalami kondisi yang membuatnya kehilangan kendali atas buang air besar. Material feses kemudian terlihat menempel pada bagian kakinya.

Meski menghadapi situasi tersebut, ia tidak menghentikan perlombaan dan memilih tetap melanjutkan pertandingan dari satu stasiun ke stasiun berikutnya.

Hyrox sendiri merupakan kompetisi kebugaran dalam ruangan yang menggabungkan lari dengan sejumlah latihan fungsional berintensitas tinggi. Peserta harus menjalani rangkaian lari dan latihan seperti sled push, rowing, burpee broad jumps, serta wall balls.

Format perlombaan dibuat seragam di berbagai negara sehingga catatan waktu peserta dapat dibandingkan secara langsung.

Dalam kondisi tersebut, Wietrzyk tetap menyelesaikan perlombaan hingga garis akhir. Ia kemudian mencatatkan waktu 1 jam 1 menit 23 detik dan keluar sebagai pemenang nomor women’s pro di Beijing.

Namun, keputusan untuk terus bertanding setelah mengalami insiden tersebut segera memicu perdebatan di kalangan komunitas Hyrox. Video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi atlet ketika masih mengikuti sejumlah tahapan perlombaan.

Perhatian publik kemudian tidak hanya tertuju pada daya tahan atlet yang mampu menyelesaikan lomba dalam kondisi ekstrem, tetapi juga pada persoalan kebersihan karena perlombaan menggunakan fasilitas dan peralatan yang sama dengan peserta lainnya.

Setelah insiden tersebut, pihak Hyrox menyatakan telah mengambil tindakan untuk menangani area yang terdampak. Dalam pernyataan berbahasa Mandarin yang diunggah melalui akun Weibo, penyelenggara mengatakan bahwa mereka segera menutup dan mengisolasi area serta lintasan yang terdampak.

“[Kami] segera menutup dan mengisolasi area serta jalur lomba yang terdampak setelah insiden tersebut, melakukan disinfeksi menyeluruh, dan menyingkirkan peralatan yang terdampak," bunyi pernyataan itu.

Hyrox juga menyatakan karpet di lokasi perlombaan akan diganti dan seluruh area venue akan menjalani proses pembersihan secara mendalam setelah rangkaian perlombaan selesai.

Namun, keputusan Wietrzyk untuk tetap melanjutkan kompetisi tetap menuai kontroversi. Atlet Hyrox Isaiah King menjadi salah satu pihak yang mempertanyakan keputusan tersebut.

Ia berpendapat bahwa atlet seharusnya mengambil jeda untuk menyelesaikan masalah tersebut sebelum kembali bertanding.

“Hyrox jelas menyediakan toilet, dan Anda bisa melanjutkan kembali dari titik terakhir Anda, itulah sebabnya ada gelang pergelangan kaki,” ujarnya.

Perdebatan tersebut kemudian semakin melebar karena aturan Hyrox memang mengatur sejumlah tindakan yang dapat berujung pada penalti, termasuk meludah, membersihkan lubang hidung, membuang sampah, dan penggunaan air secara tidak semestinya.

Selain itu, ketentuan dan syarat keikutsertaan Hyrox memberikan kewenangan kepada penyelenggara untuk mengeluarkan atau mendiskualifikasi peserta apabila tindakan mereka membahayakan peserta lain atau melanggar aturan acara.

Kendati demikian, belum jelas dari informasi tersebut apakah insiden yang dialami Wietrzyk secara spesifik masuk dalam kategori pelanggaran yang dapat dikenai sanksi berdasarkan aturan tersebut.

Kritik juga datang dari Cameron Gray, seorang pelatih CrossFit sekaligus atlet Hyrox. Ia menilai persoalan kebersihan dalam insiden tersebut seharusnya tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang abu-abu.

Menurutnya, membiarkan atlet lain menggunakan peralatan yang telah terkena kotoran manusia merupakan persoalan serius yang seharusnya memiliki penanganan tegas.

Kritik terhadap respons penyelenggara juga disampaikan mantan Menteri Kesehatan Malaysia, Khairy Jamaluddin. Ia menyebut pernyataan Hyrox sebagai sesuatu yang buruk dan meminta penyelenggara meminta maaf kepada seluruh atlet yang bertanding di Beijing.

“Anda harus meminta maaf kepada semua atlet yang bertanding di Beijing dan memberikan komitmen tegas bahwa atlet mana pun yang melakukan hal ini lagi akan segera dikeluarkan dari arena pertandingan,” tandasnya.

Klarifikasi Hyrox soal Atlet Diare Tetap Bertanding

Hyrox mengunggah pernyataan resmi tentang insiden tersebut lewat sebuah unggahan di akun Instagram @Hyroxworld pada Senin (14/9/2026).

Penyelenggara mengakui bahwa perkembangan olahraga yang semakin besar membuat mereka menghadapi situasi baru yang semakin kompleks dan membutuhkan aturan serta penjelasan yang lebih jelas.

Dalam konteks insiden di Cina, Hyrox menekankan bahwa olahraga tersebut memang mendorong para atlet untuk mengerahkan kemampuan hingga batas tertinggi. Menurut penyelenggara, keberanian, daya juang, ketangguhan, dan keengganan untuk menyerah merupakan karakter yang membuat atlet elite begitu luar biasa.

Namun, Hyrox juga menyadari bahwa tugas penyelenggara bukan hanya menyediakan arena pertandingan, melainkan memastikan atlet memiliki kerangka aturan dan batasan yang jelas agar mereka dapat bertanding dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Hyrox kemudian menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah memiliki prosedur terkait biokontaminan dan kondisi medis dalam penyelenggaraan lomba. Namun, dalam kejadian di Cina, muncul situasi yang tidak terduga sehingga penerapan prosedur tersebut menjadi tidak jelas.

Menurut Hyrox, protokol yang selama ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan kompetisi elite sekaligus perlombaan dengan jumlah peserta yang besar mengalami kondisi yang membuat batas penerapannya menjadi kabur.

Hyrox juga mengakui bahwa kondisi tersebut wajar memunculkan kekecewaan, pertanyaan, dan pendapat keras dari komunitasnya. Penyelenggara menyatakan bahwa kekhawatiran para atlet maupun anggota komunitas merupakan hal yang sah dan harus didengarkan.

Karena itu, Hyrox mengatakan mereka perlu melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi, mengevaluasi penerapan prosedur, serta mengambil tanggung jawab untuk terus memperbaiki sistem penyelenggaraan kompetisi.

Namun, Hyrox menegaskan bahwa rasa kecewa terhadap kejadian tersebut tidak seharusnya dilampiaskan kepada atlet yang bersangkutan.

“Mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan diri mereka sendiri, berkompetisi di level tertinggi dan menjadikan kompetisi seperti sekarang ini. Tidak ada tempat di komunitas kita untuk ancaman kekerasan atau dorongan untuk melukai atlet,” bunyi pernyataan tersebut.

Hyrox bahkan menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang terbukti melakukan ancaman atau mendorong kekerasan, baik melalui kolom komentar, pesan langsung maupun media sosial. Orang yang teridentifikasi melakukan tindakan tersebut akan dilarang secara permanen mengikuti seluruh ajang Hyrox.

Baca juga artikel terkait ANGKAT BEBAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra