tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital di Bintan, Kepulauan Riau, telah habis dipesan atau sold out oleh investor.
Merespons tingginya permintaan infrastruktur digital tersebut, pemerintah bersiap mengembangkan koridor industri data center baru di Bekasi hingga Karawang, Jawa Barat.
"Ke depan AI itu menjadi game changer sekaligus mendirikan industri baru yaitu industri data center. Sekarang seluruh dunia sedang balapan untuk mengembangkan industri data center,” kata Airlangga dalam acara Big Downstream Insight 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut Airlangga, Indonesia kini menjadi salah satu destinasi utama investasi pusat data global. Persyaratan utama pembangunan data center, seperti ketersediaan lahan, pasokan listrik yang andal, dan kecukupan air, dinilai tersedia di Indonesia.
“Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air. Indonesia dilihat memenuhi persyaratan tersebut, maka kawasan ekonomi khusus yang digital di Bintan juga ini sudah dalam tanda petik ‘sold out’," ujar Airlangga.
Dia mengatakan pesatnya adopsi kecerdasan buatan secara global menjadikan industri data center sebagai salah satu penggerak utama ekonomi digital. Karena itu, pemerintah melihat potensi ekspansi di wilayah yang lebih dekat dengan pusat perekonomian dan pasar domestik, seperti Bekasi dan Karawang.
Koridor tersebut diproyeksikan memperoleh tambahan kapasitas listrik yang signifikan untuk menopang operasional data center dalam beberapa tahun ke depan.
"Ini melakukan ekspansi, kemudian di wilayah Bekasi, Karawang yang dekat dengan domestic market juga direncanakan kapasitas yang sekitar 600-700 MW. Per hari ini secara nasional itu bisa mendapatkan tambahan sekitar 500 MW dalam 2-3 tahun ke depan," ungkapnya.
Airlangga mengatakan AI juga membutuhkan basis data yang kredibel agar dapat berkembang. Karena itu, pemerintah akan mendorong pemanfaatan AI di sektor kesehatan atau health care.
Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa serta integrasi data yang terbentuk dari penanganan pandemi Covid-19 dan BPJS Kesehatan, Indonesia dinilai memiliki basis data besar untuk mempercepat riset dan penemuan obat.
"Jadi ini yang harus kita dorong, kekuatan kita di berbagai sektor dengan penduduk 280 juta itu bisa menjadi machine learning atau bahan untuk clinical trial yang lebih cepat sekaligus bisa mendorong perkembangan industri medicine yang sampai saat ini sebetulnya kita ketinggalan," jelas Airlangga.
Secara keseluruhan, Airlangga menilai pengembangan AI dan penguatan infrastruktur digital dapat memaksimalkan potensi ekonomi digital Indonesia.
Apalagi, kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN diproyeksikan meningkatkan nilai ekonomi digital kawasan dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS. Indonesia diperkirakan memegang porsi terbesar, sekitar 40 persen.
“Jadi kalau kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, jadi dari agriculture kita naik eskalatornya ke industri, dari industri harus dinaikkan lagi ke digitalisasi service dan yang lain. Vietnam sudah ke sana, India juga, maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan maka pertumbuhan 8 persen itu bisa dicapai,” ucapnya.
Airlangga menjelaskan struktur industrialisasi terbagi menjadi tiga level. Level pertama merupakan industri berbasis pertanian dan perkebunan. Level kedua mencakup industrialisasi manufaktur konvensional, seperti produksi roti dan mentega.
Sementara itu, level ketiga mencakup industri berteknologi tinggi, mulai dari digitalisasi dan kecerdasan buatan hingga semikonduktor. Menurut Airlangga, Vietnam telah berhasil melakukan lompatan ke industri level ketiga.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































