Menuju konten utama

Demam Padel dan Ancaman Cedera yang Mengintai

Demam padel kian populer di Indonesia, tetapi risiko cedera ikut meningkat. Pemain pemula paling rentan akibat teknik, intensitas, dan minimnya pemanasan.

Demam Padel dan Ancaman Cedera yang Mengintai
Olahraga Padel. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lapangan berdinding kaca itu kini hampir tak pernah sepi. Suara pukulan bola dan raket beradu cepat dengan riuh para pemain yang sibuk memburu poin. Padel, olahraga yang menggabungkan elemen tenis dan squash, mendadak menjadi simbol gaya hidup baru masyarakat urban.

Sifatnya yang dinamis, mudah dipelajari, serta kental dengan nuansa bersosialisasi membuat siapa saja, dari mantan atlet hingga pemula yang jarang berolahraga, tergiur mencobanya.

Geliat padel tak hanya terlihat dari ramainya lapangan. Jumlah fasilitas olahraga ini juga tumbuh pesat. Berdasarkan data Core and Court, jumlah lapangan padel di Indonesia meningkat hampir empat kali lipat, dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu tanda bahwa olahraga asal Meksiko ini tengah digandrungi, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.

Namun, di balik citra menyenangkan tersebut, ada bayang-bayang risiko kesehatan yang mengintai. Di balik popularitasnya yang melonjak dengan cepat, ruang praktik dokter spesialis ortopedi dan klinik fisioterapi justru kebanjiran pasien baru dari kalangan pegiat padel yang mengalami cedera.

Spesialis Ortopedi Rumah Sakit Jakarta, dr. Adrian W. Tarigan, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus cedera akibat padel kini terjadi hampir setiap hari.

"Lonjakan kasus cedera akibat padel ini banyak, dan hampir setiap hari ada pasien yang datang dan mengeluh cedera akibat padel," ujarnya kepada Tirto, Rabu (26/8/2026).

Memasyarakatkan olahraga Padel di Samarinda

Pemain padel mengembalikan bola ke arah lawannya saat mengikuti Kejuaraan Padel Kapolresta Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (2/7/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU

Menurut Adrian, cedera tidak hanya menimpa persendian bawah, tetapi juga menyasar anggota gerak atas. Berdasarkan data penanganan medis di tempat praktiknya, lokasi cedera yang paling sering dialami pemain padel meliputi lutut di posisi teratas, disusul pergelangan kaki atau ankle, siku lengan atau elbow, tulang belakang, hingga bahu.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Banyak masyarakat mengira padel hanyalah versi "ringan" dari tenis lapangan karena ukuran lapangannya yang lebih kecil. Anggapan keliru inilah yang kerap menjadi bumerang.

Padel Tak Semudah Kelihatannya

Ukuran lapangan yang lebih kecil membuat padel tampak seperti olahraga yang tidak terlalu menguras tenaga. Padahal, di balik permainan yang terlihat santai, tubuh pemain dituntut bergerak secara intens.

Dalam satu permainan, pemain harus melakukan sprint jarak pendek, mengerem secara tiba-tiba, mengubah arah dan memutar tubuh dengan cepat, hingga melakukan pukulan atas (overhead) berulang kali. Rangkaian gerakan tersebut memberi beban mekanis yang cukup besar pada tubuh, terutama jika dilakukan tanpa persiapan fisik yang memadai.

Raphael Tournier, fisioterapis bersertifikat sekaligus Pengawas Pelatihan di Institut Pelatihan Fisioterapi Vichy, Prancis, mengungkapkan bahwa padel sebenarnya merupakan salah satu olahraga raket yang cukup berisiko menimbulkan cedera, terutama bagi pemain amatir.

Dalam ulasannya di Padel Magazine (2025), Tournier memaparkan data studi di Prancis. Sebanyak 52 persen pemain padel, baik amatir maupun kompetitif, melaporkan pernah mengalami setidaknya satu cedera dalam 12 bulan terakhir. Tingkat kejadiannya mencapai 5,4 cedera per 1.000 jam bermain.

"Risiko cedera pada padel bahkan 3 hingga 6 kali lebih tinggi daripada yang diamati dalam olahraga tenis di semua kategori," katanya.

Memasyarakatkan olahraga Padel di Samarinda

Pemain padel mengembalikan bola ke arah lawannya saat mengikuti Kejuaraan Padel Kapolresta Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (2/7/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU

Tournier menjelaskan, tingginya angka tersebut dipicu oleh ketidakseimbangan antara beban mekanis olahraga dan kesiapan fisik tubuh. Padel memberikan ilusi seolah-olah siapa saja bisa langsung bermain tanpa kebugaran fisik yang memadai.

Sebagian besar pemain masuk ke lapangan tanpa pemanasan, kurang memahami teknik rotasi batang tubuh, serta meremehkan pentingnya waktu pemulihan.

Profil pemain yang paling rentan biasanya adalah orang dewasa berusia di atas 35 tahun, mantan atlet olahraga lain yang mendadak kembali aktif tanpa persiapan matang, serta pemula yang langsung mengambil porsi bermain dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat.

"Justru kesan keliru inilah yang menjelaskan sebagian besar cedera yang terjadi," ucapnya.

Antara Manuver Tak Terkontrol dan Sisi Psikologis FOMO

Kondisi lapangan yang padat serta pergerakan bola yang cepat tak jarang memicu kecelakaan tak terduga. Hal ini dialami Fahri, seorang pemain amatir yang baru dua bulan aktif bermain padel.

Awalnya, ia rutin bermain tiga kali seminggu untuk menjaga kebugaran. Namun, pekerja swasta di Jakarta itu justru harus menepi dari lapangan akibat kesalahan manuver saat latihan drilling.

"Waktu itu lagi drilling, diservis bola terus-menerus jadi banyak bola berserakan di bawah kaki. Pas lagi gerakan overhead, kaki agak melompat sedikit terus menginjak bola. Akhirnya salah menapak dan jatuh," tutur Fahri saat berbincang dengan Tirto.

Meski sempat melanjutkan permainan karena rasa sakit awal dianggap ringan, efek sampingnya baru terasa pada malam hari. Punggung kakinya membengkak hingga ia berjalan pincang selama tiga hari dan terpaksa menjalani fisioterapi serta menghentikan aktivitas padel selama seminggu.

"Evaluasinya perbaiki gerakan saja, karena harusnya tidak perlu sampai melompat kalau posisinya benar, sama harus lebih waspada kalau banyak bola di sekitar kaki," tambahnya.

Padel Berkebaya

Program Director Indonesia Kaya Renitasari Adrian (kanan) yang berpasangan dengan aktris Titi Kamal (kiri) bermain padel dengan menggunakan baju kebaya saat acara merayakan kebaya dalam gaya hidup aktif generasi muda di Kebayoran Lama, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/bar

Cerita Fahri hanyalah satu dari sekian banyak kasus. Menurut Adrian, pola cedera di lapangan dominan ditemukan pada pemain pemula akibat gerakan manuver yang tidak teruji dan kurang terkontrol.

Akan tetapi, masalah mendasar yang paling sering dijumpai Adrian adalah sikap mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh. Banyak pemain enggan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis saat merasa ada yang tidak beres pada pergelangan kaki, siku, atau lutut mereka.

"Kalau nyeri yang dirasakan masih bisa ditoleransi, biasanya mereka jarang ke ortopedi karena takut akan dilarang untuk olahraga sementara waktu. Mereka merasa rugi kehilangan momen," ungkap Adrian.

Rasa takut kehilangan momen atau Fear of Missing Out (FOMO) ini membuat keluhan awal kerap dianggap angin lalu. Pasien baru berbondong-bondong pergi ke rumah sakit ketika dampaknya sudah telanjur parah, seperti saat lutut atau pergelangan kaki membengkak hebat dan sulit ditekuk hingga mengganggu kemampuan berjalan.

Langkah Pencegahan dan Pertolongan Pertama

Melihat tingginya risiko cedera pergelangan kaki dan lengan yang mengintai, Adrian menekankan pentingnya kesadaran (awareness) sebelum melangkah ke lapangan.

Ia menyarankan beberapa panduan dasar yang wajib dipatuhi para pegiat padel untuk menekan risiko cedera. Pertama, melakukan pemanasan spesifik. Sebelum mulai memukul bola, pemain perlu memahami karakter gerakan padel dan melakukan pemanasan ideal yang menitikberatkan pada peregangan sendi ankle, lutut, serta fleksibilitas siku dan bahu.

Kedua, pentingnya memahami protokol RICE pascacedera. Jika terjadi benturan, terkilir, atau nyeri mendadak, segera terapkan prinsip Rest (istirahat), Ice (kompres es), Compression (balut tekan), dan Elevation (meninggikan area cedera).

Ketiga, observasi gejala ringan. Apabila mengalami nyeri sendi skala ringan, beri jeda istirahat selama 15 hingga 30 menit sambil terus diobservasi.

Keempat, hentikan permainan jika muncul gejala sedang hingga berat. Jika rasa sakit tidak berkurang, terjadi pembengkakan, atau terdapat keterbatasan gerak, hentikan permainan total.

"Kalau sedang dan berat sebaiknya istirahat dan jangan lanjut main," ucapnya.

Pemanasan Masih Dianggap Sepele

Pesatnya pertumbuhan padel belum sepenuhnya diikuti pemahaman mengenai risiko cedera. Di kalangan pegiat baru, olahraga ini masih lebih sering dipandang sebagai aktivitas untuk menjaga kebugaran sekaligus bersosialisasi.

Pendiri komunitas Zenova Padel Club, Maulana Khalilullah Ibrahim atau Aan, tak memungkiri bahwa "demam padel" yang melanda masyarakat perkotaan saat ini membawa dampak yang sangat positif.

"Padel menjadi salah satu aktivitas positif untuk healthy lifestyle, networking, atau sekadar mengisi waktu luang," ungkapnya kepada Tirto.

Lapangan Padel Taman Villa Meruya

Lapangan Padel Taman Villa Meruya. tirto.id/Naufal

Kendati demikian, ia menyoroti masih rendahnya pemahaman para pegiat baru terhadap ancaman cedera fisik di balik kesenangan tersebut.

"Banyak yang masih belum aware mengenai risiko cedera yang possibly terjadi karena olahraga padel, terutama untuk orang yang baru di dunia padel," tambah Aan.

Meskipun tak menerapkan protokol khusus terkait keselamatan saat bermain padel, ia di komunitasnya selalu mengajak anggota untuk datang lebih awal agar dapat melakukan pemanasan sebelum bermain.

"Di komunitas, kami selalu mengingatkan pemain untuk datang lebih awal dan melakukan pemanasan sebelum bermain agar menghindari kejadian yang tidak diinginkan," kata Aan

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - News Plus
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfitra Akbar