Menuju konten utama

Gempa di Bandung Sudah 42 Kali Sehari, Akankah Ada Gempa Besar?

Gempa terus-menerus tidak mesti dikaitkan dengan akan datangnya gempa besar. Gempa ini bahkan sering tidak memiliki gempa utama sebagai awalan.

Gempa di Bandung Sudah 42 Kali Sehari, Akankah Ada Gempa Besar?
Ratusan warga terdampak gempa mengungsi di Lapangan Bola Cibereum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Rabu(18/09/2024). tirto.id/Muhammad Akmal Firmansyah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kabupaten Bandung telah dilanda gempa swarm atau terus-menerus sejak Rabu (16/9/2026). Intensitas gempa yang terjadi dilaporkan mencapai 42 kali dalam sehari. Fenomena ini meningkatkan kekhawatiran publik bahwa fenomena ini merupakan tanda akan terjadinya gempa besar. Namun, bagaimana sains menjelaskannya?

Rangkaian gempa bumi berskala kecil dilaporkan terus terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Para penduduk di wilayah seperti Pangalengan dan Kertasari disebut terus merasakan getaran yang berlangsung sejak Rabu.

Melalui keterangannya pada Kamis (17/9), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena tersebut merupakan bagian dari fenomena seismik di Kabupaten Bandung. Lembaga itu mencatat bahwa sudah ada 118 gempa yang terjadi dalam periode 11 Agustus hingga 17 September 2026.

Rangkaian gempa bumi itu juga disebut BMKG terjadi dengan kekuatan yang bervariasi. Kisaran kekuatan gempa yang tercatat oleh lembaga itu berkisar antara M 1,0 hingga M 3,4.

“Gempa bumi yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung, tanggal 11 Agustus-17 September 2026 hingga pukul 08:00 WIB, BMKG telah mencatat 118 aktivitas gempa bumi dengan kekuatan berkisar M1,0-M3,4,” tulis keterangan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, Kamis.

Akan tetapi, sejak Rabu, aktivitas seismik dilaporkan meningkat secara signifikan. Dalam kurun waktu sehari, terdapat 42 gempa yang tercatat di Kabupaten Bandung.

Dari rangkaian gempa itu, sejumlah peristiwa getaran dirasakan nyata oleh para penduduk di wilayah terdampak. Di Pangalengan dan Kertasari, misalnya, intensitas gempa dilaporkan mencapai III MMI, skala untuk merujuk bahwa getaran terasa nyata oleh manusia meski tidak menimbulkan potensi kerusakan.

Meningkatnya jumlah gempa swarm di Kabupaten Bandung ini kemudian memicu kekhawatiran publik akan fenomena yang terjadi. Belakangan muncul isu bahwa fenomena seismik ini merupakan pertanda akan adanya gempa besar.

Para ahli belakangan mengungkap bahwa relasi antara gempa swarm dan gempa besar rupanya tak sesederhana yang dikhawatirkan.

Gempa Terus-Menerus Bukan Tanda Pasti Gempa Besar

Ahli studi kebencanaan dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono mengatakan, gempa swarm tidak serta merta dijadikan pertanda akan terjadinya gempa besar. Ia menyebut, pencatatan gempa oleh manusia telah menunjukkan banyak kasus gempa swarm dapat mereda, tanpa peristiwa gempa besar yang menyertainya.

Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap,” kata Daryono, dikutip dari Antara.

Lebih lanjut, Daryono menyebut ilmu seismologi tidak mendefinisikan gempa swarm sebagai tanda gempa besar. Berbeda dari anggapan itu, seismologi menjelaskan gempa swarm sebagai rangkaian gempa berulang di suatu wilayah dalam periode waktu yang sama.

Daryono juga menyebut bahwa swarm memiliki karakteristik berupa ketiadaan gempa utama (mainshock). Hal ini berarti bahwa rangkaian gempa terjadi tanpa ada satu peristiwa gempa yang mendominasinya.

Swarm juga disebut Daryono merupakan indikasi adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi. Dalam beberapa kasus, fenomena ini disebut dapat berkaitan dengan pergeseran sesar maupun aktivitas vulkanik maupun hidrotermal.

Oleh karenanya, Daryono menyebut fenomena ini harus dilihat berdasarkan “data seismologi secara terus menerus”. Ia juga mengimbau agar fenomena ini tidak dilihat hanya “berdasarkan jumlah gempa semata”.

Terkait fenomena gempa swarm yang tengah melanda Kabupaten Bandung, Daryono menjelaskan bahwa wilayah terdampak macam Pangalengan memang berada di area dengan deformasi kerak bumi yang kompleks. Selain itu, wilayah itu juga disebut berada di dekat sistem Sesar Garsela, salah satu struktur sesar aktif dengan aktivitas seismik di Jawa Barat.

“Karena itu, masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Yang terpenting adalah tetap waspada dan mengikuti informasi resmi,” kata Daryono.

Alih-alih panik, Daryono mengimbau agar masyarakat dan pemangku kebijakan setempat bersiaga. Hal ini dikarenakan fenomena swarm berpotensi memicu bahaya sekunder seperti tanah longsor.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar