Menuju konten utama

Turki dan Pakistan Sepakat Bantu Militer Saudi Lawan Houthi

Turki dan Pakistan akan menyatukan kekuatan militer dengan Arab Saudi untuk melawan kelompok Houthi di Yaman. Houthi berkali-kali menyerang Saudi.

Turki dan Pakistan Sepakat Bantu Militer Saudi Lawan Houthi
Para tentara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi berkumpul di dekat garis depan Jabal Han, sebelah barat kota Taiz, pada 3 Oktober 2026, menyusul pertempuran sengit yang terjadi sebelumnya hari itu; saat itu, kelompok Houthi Yaman dilaporkan berupaya merebut kendali atas jalur utama yang menghubungkan kota Taiz di pedalaman dengan kota pelabuhan Aden di pesisir. Perang saudara yang bermula pada tahun 2014—dan sempat mereda setelah adanya gencatan senjata pada tahun 2022—kembali berkecamuk hebat pada bulan Juli seiring meluasnya konflik Timur Tengah yang memicu pembukaan front pertempuran baru. Kelompok Houthi, yang sebagian besar anggotanya merupakan penganut Syiah Zaidi dan memiliki basis kekuatan utama di wilayah utara negara itu, telah menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat di Yaman sejak awal perang. Sementara itu, pemerintah yang diakui secara internasional—yang telah mendapat dukungan militer dari koalisi pimpinan Arab Saudi sejak tahun 2015—menguasai wilayah selatan, termasuk kota pelabuhan Aden. AHMAD AL-BASHA / AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Turki dan Pakistan bersepakat untuk membantu Arab Saudi melawan kelompok bersenjata Houthi di Yaman. Bantuan ini disebut akan turut diberikan dalam bentuk pengerahan pasukan ke Saudi untuk melawan serangan yang dilancarkan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Seturut Al Jazeera, keputusan itu diumumkan pada Senin (5/10/2026) setelah pertemuan darurat di Riyadh antara para menteri pertahanan dan luar negeri ketiga negara tersebut. Keputusan ini juga menandai diaktifkannya komitmen pertahanan bersama Aliansi Makkah untuk Pertahanan untuk kali pertama sejak ditandatangani pada 7 Agustus lalu.

Perjanjian pertahanan bersama dalam Aliansi Makkah itu memuat klausul bagi negara anggota untuk saling membantu dalam menghadapi serangan musuh. Setiap serangan terhadap salah satu anggota akan diperlakukan sebagai serangan terhadap semua negara.

“Komite sepakat untuk mengaktifkan langkah-langkah pencegahan kolektif, dalam kerangka Aliansi, sebagai tanggapan terhadap serangan dan semua pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut,” kata Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman, dalam sebuah unggahan di media sosial.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Pakistan merilis pernyataan bersama yang menyebut Pakistan dan Turki bersepakat untuk “menyediakan pasukan dan kemampuan militer yang telah disepakati”. Pernyataan itu juga menyebut bahwa kedua negara akan “memastikan pengerahan cepat” pasukan mereka ke Saudi.

Jika digabungkan, ketiga anggota Aliansi Makkah tersebut memiliki kekuatan hampir 1,4 juta pasukan aktif, menurut Indeks Kekuatan Militer Global 2026. Ketiga negara itu juga memiliki 3.400 pesawat militer, 6.000 tank, dan lebih dari 340 aset tempur angkatan laut.

Diumumkan Setelah Pertempuran Besar-besaran di Yaman

Pengumuman Turki dan Pakistan itu dilakukan beberapa jam setelah pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional menyatakan telah melakukan serangan besar-besaran ke wilayah yang dikendalikan Houthi. Kendali atas wilayah itu juga disebut telah direbut kembali dari Houthi.

Beberapa wilayah yang disebut berhasil direbut itu termasuk Mocha, kota pelabuhan penting di kawasan Laut Merah. Selain itu, militer Yaman juga menyebut telah menguasai Selat Bab al-Mandeb.

Serangan besar-besaran itu juga telah dikonfirmasi oleh koalisi militer pimpinan Saudi yang selama ini telah mendukung militer Yaman yang diakui secara internasional. Koalisi militer pimpinan Saudi menyebut turut mengerahkan 100 jet tempur mereka untuk memberikan dukungan udara pada operasi serangan tersebut.

Houthi, di sisi lain, dikabarkan telah kehilangan kekuatan yang cukup masif akibat serangan tersebut. Banyak pejuang mereka tewas dan sejumlah fasilitas persenjataan mereka rusak atau dihancurkan.

Kendati demikian, Houthi mengklaim telah melakukan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang perusahaan minyak milik Saudi, Aramco, di pesisir Rabigh. Kedua lokasi itu disebut jadi salah satu dari beberapa bandara, pangkalan udara, dan lokasi penting lain yang turut diserang.

Hanya saja, sejauh ini Riyadh tak mengonfirmasi klaim Houthi tentang serangan ke wilayah kerajaan itu.

Baca juga artikel terkait ARAB SAUDI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar