tirto.id - Satu waktu di Pasar Madinah, di antara aroma rempah dan riuh pedagang dari berbagai kabilah, tampak Zahir bin Haram tampak sibuk menjajakan hasil bumi dengan pakaian kasar yang basah oleh debu dan keringat.
Zahir adalah lelaki sederhana yang berasal dari wilayah pedalaman, datang ke Madinah untuk berniaga. Namun, hari itu, di tengah kesibukannya, tiba-tiba sebuah pelukan erat datang dari belakang. Ia pun terperanjat, meronta, sekaligus cemas akan sosok yang "menangkapnya".
“Lepaskan aku! Siapa ini?”
Saat berpaling, baru ia sadar sosok yang menyergapnya adalah Rasulullah. Seketika kegelisahannya lenyap. Ia menyandarkan punggungnya ke dada Nabi, saking gembiranya seraya ingin mendapatkan berkah.
Nabi Muhammad lalu berseru dengan nada jenaka, “Siapa yang ingin membeli hamba ini?”
Menurut Syaikh Ali al-Qari, kalimat tanya Nabi Muhammad diucapkan sebagai bentuk canda dan kelembutan, bukan dalam arti merendahkan Zahir. Kata hamba merupakan kiasan karena semua manusia adalah hamba Allah. (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih Jilid 9 Hadis No.4889 hlm. 111)
Zahir menunduk, teringat tubuhnya yang pendek dan wajah yang dianggap tak menarik. Dengan pasrah ia menjawab, “Wahai Rasulullah, jika engkau menjualku, niscaya aku tak laku.”
Mendengar itu, Nabi Muhammad segera meneguhkan hatinya, “Akan tetapi, di sisi Allah, engkau tidaklah murah.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah menjawab, “Engkau di sisi Allah mahal [berharga].”
Hadis tersebut, dinukil dari Majma'u Al Zawaid wa Manba'u Al Fawaid karya Imam Al-Haitsamiy, telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya‘la, dan al-Bazzar. Riwayat lainnya dalam Al-Isti‘aab Fi Ma’rifatil Ashab menyebut, Nabi Muhammad menggunakan kata rabbih (beruntung/menguntungkan) untuk menggambarkan Zahir.
“Bahkan engkau di sisi Allah menguntungkan [bernilai tinggi].” (Edisi Al-Bajawi Jilid 2 Bab Zahir hlm. 509)
Zahir bin Haram, dengan penampilan fisik yang dianggap kurang menarik, status ekonomi sederhana, dan posisi sosial terpinggirkan, digambarkan oleh Rasulullah sebagai simbol kekayaan iman, ketulusan, dan kehormatan di sisi Allah.
Pertukaran Hadiah Antara Badiyah dan Hadhara
Zahir bin Haram berasal dari kabilah Asyja, yang mendiami barat laut Madinah. Asyja punya posisi strategis sekaligus sejarah yang rumit dalam hubungannya dengan Islam awal.
Asyja merupakan bagian dari Bani Ghatafan, yang terdiri dari sekumpulan besar kabilah Arab Najd yang ikut bergabung dalam koalisi Perang Khandaq bersama kaum Quraisy.
Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri(hlm. 290), diceritakan, beberapa kali terjadi peristiwa ketegangan antara mereka dengan umat Islam. Salah satunya percobaan pembunuhan Nabi Muhammad pada tahun 4 Hijriah, tak lama setelah Perang Daumatul Jandal dan tragedi Bi’r Ma‘unah, yang menewaskan sekitar tujuh puluh sahabat.
Namun, suku bangsa itu pula yang menjadi salah satu yang pertama berdamai dan masuk Islam secara massal. Kehadiran Zahir sebagai seorang individu dari Ashja’ di Madinah melambangkan integrasi masyarakat badiyah (pedalaman) ke dalam entitas politik dan agama yang baru di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad.

Dalam literatur klasik, Zahir digambarkan berwajah tidak menarik, bertubuh pendek, dan hidup sederhana, khas penduduk gurun. Namun di balik fisik yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat urban Madinah, ia rendah hati dan jujur.
Dalam budaya Arab pra-Islam, tampilan rupa dan kekuatan kerap dianggap sebagai faktor penting yang mencerminkan kemuliaan batin seseorang. Orang buruk rupa dianggap kurang diberkati.
Pada masa awal masuknya dakwah Islam, Rasulullah sengaja menunjukkan kasih sayang lebih besar kepada sosok seperti Zahir. Tujuannya adalah menegaskan pesan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, melainkan hati dan amal.
Di masa-masa itu, Zahir lebih banyak tinggal di pedalaman. Namun, ia rutin datang ke Madinah untuk berdagang dan bertemu Rasulullah. Setiap kunjungan selalu diwarnai pemberian hadiah sederhana sebagai tanda ketulusan.
Berdasarkan catatan Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih Jilid 9 (Hadis No.4889 hlm. 110), hadiah itu berupa hasil bumi khas gurun, seperti buah-buahan, madu, tanaman, kemangi, dan obat-obatan. Zahir menyiapkan dan memastikan yang dibawa adalah hasil terbaik. Dalam tradisi Arab, hadiah semacam ini disebut tarfah, sesuatu yang baru dan menyegarkan bagi penerima.
Rasulullah menyambut hadiah itu dengan kegembiraan tulus, tanpa menakar nilai materinya. Setiap kali Zahir hendak kembali ke gurun, Nabi Muhammad menyiapkan perbekalan dan kebutuhan rumah tangga yang sulit didapat di pedalaman.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dalam asy-Syamā’il, melalui jalur Ma‘mar dari Tsabit, dari Anas, Nabi Muhammad kemudian bersabda: "Zahiran badiyatuna, wa nahnu hadiruhu [Zahir penduduk desa kita, dan kita adalah penduduk kotanya]."
Syaikh Ali al-Qari menilai, hadis tersebut merangkum makna hubungan keduanya, melambangkan kasih sayang Nabi Muhammad terhadap seorang fakir dari gurun. Bagi keluarga Rasulullah, Zahir menjadi teladan terkait kesederhanaan hidup. Bagi Zahir, Rasulullah dan masyarakat Madinah menjadi bekal ilmu.
Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad bersabda, “Setiap kota memiliki orang pedalaman, dan orang pedalaman keluarga kami adalah Zahir bin Haram.” (Kitab al-Isti‘ab Fi Ma’rifatil Ashab edisi Al-Turki jilid 3 hlm. 162)
Meski tinggal jauh, Zahir tahu bahwa ada seorang pemimpin besar di Madinah yang menantinya dengan tangan terbuka.
Alumni Badar dan Migrasi ke Kufa
Meski detail keluarganya jarang disebut, ahli hadis bernama Ibnu Hibban menyematkan nisbah Zahir sebagai seorang bergelar al-Badari. Itu menunjukkan bahwa beberapa tradisi manuskrip mengaitkan Zahir dengan peristiwa Badar, entah sebagai prajurit atau figur yang, dalam sebagian riwayat, dikelompokkan dalam generasi itu.
Namun, sebagian ulama lain, salah satunya Ibnu Abdil Barr, mencatat adanya perbedaan pendapat tentang apakah ia benar-benar syahid di Badar atau hanya dinisbatkan demikian karena kesamaan nama.
Dengan kata lain, ingatan sejarah tentang Zahir tidak sepenuhnya tunggal. Ada riwayat yang menyebutnya terkait Badar; ada pula yang tidak menegaskannya. Namun, justru di situlah letak dinamika historiografi Islam awal. Tokoh-tokoh yang tidak menempati panggung besar sering hadir dalam fragmen-fragmen kecil, dalam variasi nisbah, dalam selisih redaksi.
Namun, jika benar terlibat dalam Perang Badar, gelar al-Badari menegaskan bahwa Zahir termasuk kelompok elit yang memperoleh jaminan ampunan Allah, terlepas dari pandangan dunia terhadap penampilannya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdiri di garis depan.
Setelah wafatnya Rasulullah, hidup Zahir bin Haram berubah drastis. Sosok yang selalu menyambutnya dengan pelukan di pasar telah tiada. Namun, cinta dan ajaran Nabi Muhammad tetap berakar dalam jiwanya.
Saat itu, banyak sahabat dan kaum muslim pindah ke kota-kota garnisun dan wilayah administratif baru, seperti Kufa, Basrah, Damaskus, dan lainnya. Alasannya beragam, mulai dari penempatan militer, pembagian tanah, peluang ekonomi, atau mengikuti pemukiman kelompok dan keturunan mereka.
Zahir memilih bermigrasi ke Kufa di Irak. Di Kufa, ia tetap hidup sederhana.
Kehadirannya penting secara sosial karena Kufa dihuni beragam kabilah yang baru masuk Islam. Ia tampil sebagai teladan Islam yang ramah, rendah hati, dan penuh kasih.
Namun, sejarah meringkas kisahnya. Tidak ada kronik wafat. Tidak ada yang mengabadikan perannya dalam riwayat politik penting. Ia muncul dalam sejarah hampir hanya melalui satu adegan sederhana di pasar Madinah.
Tapi, justru di situlah maknanya.
Zahir bin Haram bukan tokoh kekuasaan, bukan perawi besar, bukan figur konflik. Ia adalah seorang lelaki biasa yang dimuliakan karena nilai dirinya di sisi Allah. Sejarah mungkin tidak menyimpan kisah akhir hidupnya, tetapi satu kalimat Nabi Muhammad telah menjadikannya ahli surga.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































