tirto.id - Matahari di Makkah membakar lembah Al-Abta’, hamparan pasir yang kerap dijadikan penyiksaan oleh kaum Quraisy. Seorang perempuan tua terkapar. Usianya sekitar enam puluh tahun, tubuh rapuhnya dipaksa mengenakan baju besi yang menyerap panas hingga membakar kulit. Ia menahan sakit tanpa rintihan penyesalan. Perempuan itu adalah Sumayyah binti Khayyat.
Hari demi hari berganti. Sumayyah dan keluarganya disiksa, lalu dilepas lagi. Ada kesempatan, disiksa kembali. Begitu seterusnya.
Suatu hari, di depan Sumayyah berdiri Amr bin Hisyam, pemimpin Bani Makhzum atau dikenal sebagai Abu Jahal. Harga diri dan gengsi kabilahnya dianggap hancur karena seorang mantan budak berani menolak dewa-dewa leluhur dan memilih Islam. Untuk memulihkan kehormatan, ia turun tangan langsung, menyiksa Sumayyah, suaminya Yasir, dan putra mereka Ammar.
“Tinggalkan agama Muhammad itu sekarang juga!” gertak Abu Jahal dengan suara menggelegar.
“Sebutkan nama Latta dan Uzza dengan penuh keagungan, atau kau dan keluargamu akan mati perlahan di tempat ini!”
Dari bibir Sumayyah yang kering dan berdarah, tak ada kata menyerah. Dengan napas tersengal di bawah panas besi dan batu, ia menatap Abu Jahal tanpa gentar.
“Lakukan sesukamu, wahai Abu Jahal,” ucapnya teguh. “Engkau tidak akan mampu menjauhkan kami dari iman. Kami tidak akan pernah mengingkari Allah dan rasul-Nya.”
Penolakan itu membuat sang tiran kehilangan kendali. Abu Jahal mengikat kedua kakinya pada dua unta, meraih tombak dan menghujamkannya ke tubuh rapuh Sumayyah. Tusukan itu menembus perutnya, darah segar mengalir.
“Ahad… Ahad…(Yang Maha Esa, Yang Maha Esa)” seruan tauhid Sumayyah di lembah penyiksaan. (Sunan Ibnu Majah hadis no.50 hal. 66).
Sumayyah mengembuskan napas terakhirnya. Ia dinobatkan sebagai syahidah pertama dalam sejarah Islam.
Dari Negeri Seberang Menuju Belenggu Perbudakan
Sumayyah binti Khayyat—dalam beberapa catatan disebut Khubbat (Talaqih Fahum Ahl al-Athar hal.335)—bukanlah penduduk asli jazirah Arab. Ia lahir sekitar tahun 550 M, dua dekade sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Asal-usulnya dari Habasyah, wilayah yang kini dikenal sebagai Ethiopia.
Sebagai perempuan berkulit hitam dari negeri seberang, ia tiba di Makkah lewat jalur perdagangan budak. Di era Jahiliyah, perbudakan menjadi tulang punggung ekonomi dan struktur sosial. Manusia diperjualbelikan di pasar, kehilangan hak asasi, dan dinilai hanya dari tenaga yang bisa mereka berikan.
Sumayyah kemudian dimiliki Abu Hudzaifah bin al-Mughirah, tokoh penting Bani Makhzum. Klan ini adalah bangsawan Quraisy yang kaya, berpengaruh, dan angkuh. Bersama Bani Hasyim dan Bani Umayyah, mereka mengendalikan Makkah.
Dalam belenggu perbudakan, Sumayyah menjalani hidup tanpa pelindung keluarga atau suku. Meski demikian, literatur sirah menggambarkannya sebagai perempuan dengan keluhuran budi, ketangguhan fisik dan mental, serta kesabaran yang luar biasa.
Ia dikenal lembut hati meski diperlakukan keras. Tetapi bagi masyarakat Makkah, budak perempuan tetaplah entitas paling rendah, rentan pelecehan, kerja paksa, dan kesewenang-wenangan tanpa akses keadilan.
Kehidupan Sumayyah yang penuh penderitaan mulai berubah ketika Yasir bin Amir tiba di Makkah. Berbeda dengan Sumayyah, Yasir bukan budak sejak lahir. Ia seorang Arab merdeka dari suku Madh’hij, cabang Qahtan di Yaman.
Yasir datang bersama dua saudaranya, Harits dan Malik, untuk mencari saudara mereka yang hilang. Pencarian panjang itu berakhir tanpa hasil, membuat dua saudaranya kembali ke Yaman. Yasir memilih tinggal, terpikat oleh dinamika Makkah sebagai pusat perdagangan dan ziarah.
Untuk bertahan, Yasir akhirnya bersekutu dengan Abu Hudzaifah bin al-Mughirah dari Bani Makhzum, majikan Sumayyah. Abu Hudzaifah kemudian menikahkan Yasir dengan Sumayyah.
Dari pernikahan itu lahirlah Ammar bin Yasir, sekitar tahun 566–570 M, sebaya dengan Nabi Muhammad. Namun karena ibunya masih berstatus budak, Ammar pun lahir sebagai budak. Menurut Ibnul Atsir al-Jazari dalam Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah Jilid 7 hal.152, Abu Hudzaifah lalu memerdekakan Sumayyah dan Ammar. Yasir dan Sumayyah juga membesarkan Abdullah, anak Yasir lainnya, yang kelak ikut gugur mempertahankan iman.
Meski merdeka, keluarga ini tetap miskin dan berada di strata sosial paling rendah. Mereka tidak memiliki asabiyyah—solidaritas kesukuan yang menjadi tameng utama di Makkah. Ketika Abu Hudzaifah wafat, keluarga Yasir kehilangan satu-satunya pelindung.
Keteguhan Hati di Lembah Siksaan
Makkah yang penuh kesewenangan tiba-tiba diguncang oleh ajaran seorang pria yang dikenal jujur tanpa cela, Muhammad utusan Allah. Islam hadir sebagai oase di gurun kezaliman, menawarkan konsep kesetaraan manusia. Kemuliaan tidak lagi diukur dari nasab, harta, warna kulit, atau status sosial, melainkan dari ketakwaan dan amal saleh.
Bagi elite Quraisy, terutama Bani Makhzum dan Bani Umayyah, ajaran ini dianggap ancaman langsung terhadap sistem politik dan ekonomi mereka. Jika Muhammad dari Bani Hasyim diakui sebagai utusan Tuhan, maka dominasi Bani Makhzum akan runtuh. Persaingan lama antarkabilah membuat penentangan terhadap Islam sejak awal sarat dengan ego, gengsi, dan perebutan kuasa.
Karena Muhammad dilindungi Bani Hasyim dan pamannya Abu Thalib, para pemuka Quraisy tidak berani menyentuhnya. Kemarahan mereka dialihkan kepada kelompok paling lemah, yakni budak, mantan budak, dan kaum miskin tanpa pelindung suku.
Keluarga Yasir berada tepat di pusaran kebencian itu. Ammar bin Yasir, putra keluarga ini, sudah lama bersahabat dengan Muhammad dan mengenal kejujurannya. Ketika dakwah Islam dilakukan secara rahasia di Darul Arqam, Ammar termasuk tiga puluh orang pertama yang menerima hidayah. Bersama Shuhaib ar-Rumi, ia mendengarkan lantunan ayat suci dan bersaksi atas keesaan Allah.
Cahaya iman itu segera dibawa pulang kepada Yasir dan Sumayyah, yang seumur hidup dipandang rendah. Islam adalah pencerahan, martabat yang diangkat, harapan abadi, dan kesetaraan di hadapan Tuhan.
Yasir pun mengalami mimpi. Sebuah lembah curam terbelah oleh lautan api, di seberangnya taman indah, tempat Sumayyah dan Ammar memanggilnya. Api itu dimaknai sebagai penderitaan dunia, taman itu sebagai surga. Mimpi itu menjadi petunjuk ilahi, mendorong Yasir, Sumayyah, dan Abdullah bin Yasir untuk memeluk Islam dengan penuh kesadaran.
Dari ratusan penduduk Makkah, hanya tujuh orang pertama yang berani menampakkan keislaman secara terbuka: Nabi Muhammad, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.
Kabar keislaman keluarga Yasir segera memicu amarah besar Bani Makhzum. Bagi mereka, bagaimana mungkin orang miskin, mantan budak, dan sekutu tanpa pelindung berani menolak tuhan-tuhan leluhur? Abu Hudzaifah telah tiada, dan celah itu dimanfaatkan Abu Jahal. Secara adat, keluarga Yasir kini dianggap tanpa status, darah mereka murah, bisa ditumpahkan tanpa balas.
Abu Jahal turun tangan langsung. Sumayyah dan keluarganya dipaksa mengenakan zirah, ditindih batu panas, dibiarkan kehausan dan kelaparan. Mereka dipaksa menyebut nama berhala dan mencaci Nabi Muhammad.
Riwayat mencatat, Nabi Muhammad sering melewati lokasi itu seraya mendoakan mereka, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”
Yasir mengingat mimpinya, dan sabda Nabi memberi mereka energi untuk bertahan. Namun, siksaan terus berlanjut. Yasir akhirnya gugur, menjadi syahid pria pertama dalam Islam, menyusul Sumayyah yang dibunuh dengan tombak Abu Jahal.
Ammar dipaksa menyaksikan kematian orang tuanya, lalu disiksa hingga hampir mati. Dalam kondisi setengah sadar, ia terpaksa mengucapkan kata-kata kekafiran demi menghentikan siksaan. Setelah dilepaskan, ia berlari menemui Nabi dengan tangis penyesalan, merasa telah murtad.
Nabi menenangkan hatinya saat itu. Ammar menjawab bahwa hatinya tetap penuh iman. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya Surah An-Nahl ayat 106, yang memberi keringanan bagi mukmin untuk menyembunyikan iman atau mengucapkan kekafiran jika dipaksa di bawah ancaman maut, selama hatinya tetap teguh. (Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah Jilid 4 hal.123)
Pujian dan Jaminan Nabi
Kematian Sumayyah dan Yasir meninggalkan luka mendalam. Nabi Muhammad sangat menghormati pengorbanan keluarga ini, dan selepas kepergian mereka, perhatian khusus dicurahkan kepada Ammar.
Bentuk kasih sayang paling menyentuh adalah kebiasaan Nabi memanggil Ammar dengan sebutan “Ibnu Sumayyah”—putra Sumayyah. Abdullah bin Mas’ud dalam Shahih al-Jami, meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Ibnu Sumayyah tidaklah diberi pilihan di antara dua perkara, melainkan ia akan memilih yang paling lurus (paling benar) di antara keduanya.”
Menurut Musnad Ahmad yang diriwayatkan Siti Aisyah, hadis tersebut dipicu seorang laki-laki yang datang dan terjadi perselisihan kepada Ali bin Abi Thalib dan Ammar. Lalu Siti Aisyah berkata, “Adapun tentang Ali, maka aku tidak akan mengatakan sesuatu pun tentangnya.” Adapun tentang Ibnu Sumayyah (Ammar), maka ia mendengar dan menyebut sabda Nabi tersebut.
Pujian Nabi Muhammad kepada Sumayyah yang namanya dinisbatkan kepada anaknya, pada masa itu dianggap revolusioner, sebab hadir di tengah budaya patriarkis Arab yang kental.
Sumayyah binti Khayyat mematahkan stigma gender, status, dan warna kulit. Meski tua, miskin, dan tanpa kabilah, ia memilih jalan syahid, menumpahkan darahnya demi menegakkan tauhid. Ia dan keluarganya telah diberi jaminan Nabi, “Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah Surga.”
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






























