Menuju konten utama
Mozaik

Salim Maula Abi Hudzaifah, Qari yang Gugur di Yamamah

Bertahun-tahun hidup di bawah perbudakan, dimuliakan berkat kepiawaiannya melantunkan ayat suci Al-Qur'an, syahid di palagan memperjuangkan Islam.

Salim Maula Abi Hudzaifah, Qari yang Gugur di Yamamah
Header Mozaik Salim Maula Abu Hudzaifah. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suatu malam, Siti Aisyah pulang terlambat. Saat ditanya Nabi Muhammad alasannya, ia menjawab, “Aku mendengar seorang pembaca [Al-Qur’an]. Bacaannya sangat baik.”

Nabi pun penasaran, lalu mengenakan jubah dan melangkah menuju masjid. Di sana, Rasulullah mendapati Salim Maula Abi Hudzaifah yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Ia pun langsung mendoakannya, “Segala puji bagi Allah yang telah menempatkan di dalam umatku orang seperti dirimu.” (Kitab Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah Jilid 2, hlm. 383)

Nama aslinya Salim bin Ma‘qil, lahir di Istakhr, kota di Persia, kini bagian Provinsi Fars, Iran. Masa itu, Istakhr adalah pusat peradaban Sassania, kaya tradisi dan filsafat. Di kota yang sarat peninggalan raja-raja Persia inilah Salim kecil menapaki hidupnya.

Salim merupakan mantan budak, yang kemudian dikenal karena kefasihannya membaca Al-Qur’an, imam salat pada awal hijrah, dan perawi hadis-hadis Nabi.

Menjemput Hidayah di Tengah Badai Penolakan

Ketika remaja, takdir memaksa Salim keluar dari tanah kelahiran. Peperangan, penaklukan, dan perdagangan manusia, yang lazim di era pra-Islam, memaksanya melintasi padang pasir hingga akhirnya tiba di Makkah.

Di kota yang dikuasai aristokrasi Quraisy dan pemujaan berhala itu, ia dijual sebagai budak. Dalam kitabAtthabaqat al-Kubra Jilid 3 karya Ibnu Sa’ad dikisahkan, Salim dibeli oleh Tsubaitah binti Ya‘ar, wanita Anshar yang kelak menikah dengan bangsawan Quraisy, Abu Hudzaifah bin Utbah.

Di bawah naungan majikannya, Salim digambarkan sebagai pemuda pendiam, cerdas, rajin, jujur, dan bertanggung jawab. Karakternya yang tenang itu menarik perhatian Tsubaitah, yang kemudian memerdekakannya. Tsubaitah menjadikan Salim seorang Sa‘iba—status mulia dalam tradisi Arab, ketika budak dibebaskan tanpa ikatan warisan atau perwalian apa pun.

Abu Hudzaifah bin Utbah, suami Tsubaitah, juga melihat ketulusan dan kecerdasan Salim. Meski berasal dari garis keturunan elite yang menjunjung kemurnian darah Arab, ia mengangkat Salim sebagai anak angkat sah di hadapan kaumnya. Sejak itulah Salim dikenal sebagai Salim bin Abi Hudzaifah.

Untuk mengukuhkan kehormatan dan masa depan Salim, Abu Hudzaifah bin Utbah menikahkan pemuda itu dengan keponakannya sendiri, Fatimah binti Walid.

Ketika dakwah tauhid mulai bergema diam-diam di sudut-sudut Makkah, hati Salim dan Abu Hudzaifah langsung tersentuh. Tanpa ragu, mereka mendatangi Nabi Muhammad dan menyatakan diri masuk Islam, menjadikannya golongan yang pertama menjadi muslim, dikenal sebagai as-sabiqunal awwalun.

Ayah Abu Hudzaifah, Utbah bin Rabi‘ah, tokoh Quraisy yang paling keras menentang Islam, murka besar ketika mengetahui putranya bergabung dengan agama tauhid bersama mantan budaknya. Ia pun menggunakan segala cara untuk menekan dan mengintimidasi Abu Hudzaifah agar kembali menyembah berhala.

Namun, iman keduanya justru makin kuat. Begitu pula ikatannya. Itu pula yang membuat Salim kemudian dikenal dengan gelar Salim Maula Abi Hudzaifah. Maula menjadi simbol ikatan hati, yang artinya adalah orang yang dibebaskan, sekutu setia, saudara seagama.

Dalam fase ini, Salim mulai menampakkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Setiap kali wahyu turun, ia berada di barisan terdepan untuk menghafal, mempelajari tata bahasanya, dan menyelami maknanya.

Al-Qur’an sekaligus menjadi pelarian Salim dari kerasnya perlakuan Quraisy. Di malam-malam panjang, ketika kota terlelap, Salim melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdu. Kesalehannya diakui luas, hingga sahabat-sahabat menjulukinya Salim minassalihin (Salim, satu di antara orang-orang paling saleh). [hlm. 82]

Dalam Shahih Bukhari yang masyhur, Nabi Muhammad bersabda, “Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang: ‘Abdullah bin Mas’ud—ia memulai dengan namanya—, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal”.

Suara Keadilan di Tengah Pasukan

Ketika penindasan Quraisy makin brutal, perintah hijrah turun sebagai jalan keselamatan. Salim termasuk dalam gelombang awal muhajirin yang tiba di Madinah sebelum Nabi Muhammad.

Saat tiba waktu salat, Salim ditunjuk sebagai imam salat. Padahal, sebagaimana dikisahkan oleh Abdullah bin Umar berkata dalam hadisnya, di antara makmum salat tersebut, terdapat Umar bin Khattab dan Abu Salamah bin ‘Abdul Asad. Hal ini menunjukkan betapa fasih dan kuat hafalan Al-Qur'an Salim--syariat menetapkan bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling fasih bacaan dan paling kuat hafalan Al-Qur’an.

Momen-momen salat di Quba yang diimami Salim tidak hanya indah dalam tartil, tetapi juga menjadi simbol runtuhnya dinding kasta feodalisme. Muhajirin belajar bahwa peradaban baru Madinah dibangun bukan di atas supremasi suku, melainkan di atas ketakwaan.

Selain terkenal fasih dan merdu dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, Salim Maula Abi Hudzaifah juga sosok yang menjunjung tinggi keadilan, berani berpikir independen, dan tegas menegakkan kebenaran.

Suatu hari, Khalid bin Walid, panglima besar bergelar Pedang Allah, memimpin ekspedisi ke suku Bani Jazima, lalu mendorong mereka menjadi muslim. Akan tetapi, kaum dari suku tersebut tidak pandai mengucapkan aslamna (kami masuk Islam), sehingga mereka berkata shaba’na (maksudnya telah meninggalkan kesyirikan). Khalid menafsirkannya sebagai penolakan, lalu memerintahkan eksekusi terhadap sebagian tawanan. Pertumpahan darah pun terjadi. (Shahih Bukhari hadis 7189 hal. 1776)

Salim, yang menyaksikan langsung tragedi itu, tidak tinggal diam. Ia menolak mengambil nyawa manusia, dan menegaskan bahwa tindakan itu menyimpang dari ajaran Rasulullah. Keberaniannya berhasil menghentikan eksekusi lebih lanjut pada hari itu.

Ketika kabar sampai ke Madinah, Nabi Muhammad sangat berduka. Ia berdoa dengan penuh penyesalan, “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan Khalid.” (Shahih Bukhari hadis 4339 hal. 1060)

Nabi kemudian mengutus Ali bin Abi Thalib membawa diyat (tebusan harta) sebagai kompensasi bagi keluarga Bani Jazima.

Palagan Syuhada di Yamamah

Salim bukan cuma penghafal dan pelantun ayat-ayat Al-Qur'an. Ia juga turut bertempur di palagan, termasuk dalam Perang Riddah, pertempuran sekaligus ujian awal bagi negara Islam yang baru lahir selepas wafatnya Nabi Muhammad. Ia juga ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Ilustrasi perang

Ilustrasi perang. FOTO/iStockphoto

Tatkala Musailamah al-Kadzab, nabi palsu dari Yamamah, berhasil mengumpulkan puluhan ribu pasukan fanatik, Abu Bakar mengirim kekuatan penuh, termasuk barisan hufaz (penghafal Al-Qur’an) yang di dalamnya Salim juga bergabung.

Pertempuran Yamamah berlangsung brutal. Panas gurun membakar kulit, debu menutup pandangan, dan serangan musuh datang bergelombang. Pasukan muslim sempat goyah. Moral mereka jatuh.

Suatu waktu di tengah kekacauan, panji muhajirin terjatuh setelah pemegangnya, Zaid bin Khattab, gugur. Pada momen itu Salim tidak menunggu. Ia melompat ke garis depan, memungut panji, dan mengibarkannya tinggi.

Beberapa sahabat khawatir sebab Salim adalah qari, bukan prajurit. Namun ia menjawab dengan kalimat, “Alangkah buruknya aku sebagai penghafal Al-Qur’an jika aku mundur.” (Kitab Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah Jilid 2 hlm. 384)

Salim bertarung dengan panji di tangan. Pedang musuh menebas, hingga tangan kanannya terputus. Ia segera menggenggam panji dengan tangan kiri. Tebasan berikutnya memutus lengan kirinya. Dalam situasi itu, ia tetap menjepit panji ke dadanya dengan sisa lengannya, menolak membiarkannya jatuh.

Dalam kondisi sekarat, ia terus melantunkan ayat “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul…” (Ali Imran: 144) dan “Betapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikut setia…” (Ali Imran: 146).

Akhirnya Salim tumbang. Darah membasahi pasir Yamamah. Akan tetapi, panji masih melekat di dadanya. Pengorbanan itu pun membakar semangat pasukan muslim. Mereka bangkit, menyerang balik, dan akhirnya menewaskan Musailamah al-Kadzab.

Ketika senja menutup pertempuran Yamamah, tubuh Salim ditemukan terbaring lemah, penuh luka, napasnya tersengal-sengal. Para sahabat lain berlari mengelilinginya, menangis melihat kondisi sang imam Quba yang hampir tak bernyawa.

Di ambang ajal, ketika kesadarannya masih tersisa, pertanyaan terakhir yang keluar dari mulut Salim bukan tentang dirinya, melainkan tentang Abu Hudzaifah, ayah angkatnya.

“Apa yang telah terjadi pada Abu Hudzaifah?”

Para sahabat lalu menceritakan bahwa Abu Hudzaifah telah gugur sebagai syahid. Mendengar itu, Salim meminta agar ia dimakamkan di samping ayah angkatnya. Senyum tipis terlukis di wajahnya. Ruhnya terbang meninggalkan jasad, menyusul sahabat-sahabatnya dalam pelukan syahadat.

Umar bin Khattab, sosok keras yang jarang memberi sanjungan, pernah berkata menjelang wafatnya, “Seandainya Salim masih hidup, aku akan menjadikannya pemimpin melalui musyawarah.” (Jilid 2,hlm. 383)

Baca juga artikel terkait SAHABAT NABI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin