Menuju konten utama
Mozaik

Tsauban bin Bujdud: Bayang-Bayang Nabi, Periwayat Penyakit Wahn

Menurut Rasulullah, umat Islam akan dilanda penyakit wahn (cinta dunia & takut mati). Hadis itu diriwayatkan oleh Tsauban yang setia menjadi pengikut Nabi.

Tsauban bin Bujdud: Bayang-Bayang Nabi, Periwayat Penyakit Wahn
Header Mozaik Tsauban bin Bujdud . tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari itu di Madinah, Tsauban bin Bujdud tampak lusuh. Tubuhnya yang dahulu tegap kian menyusut, seakan terkikis oleh kesedihan yang tak terlihat. Kulitnya memucat, pemandangan yang membuat Nabi Muhammad bertanya-tanya tentang kondisinya.

Nabi segera bertanya dengan nada cemas, “Wahai Tsauban, apa yang mengubah warna wajahmu?”

Tsauban menatap Nabi sejenak. Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada penyakit padaku dan tidak pula rasa sakit fisik.”

Ia berhenti sejenak, “Hanya saja, jika aku tidak melihatmu, aku merasa sangat kesepian dan ketakutan yang luar biasa sampai aku bertemu denganmu kembali.”

“Kemudian aku merenungkan tentang akhirat. Aku takut aku tidak akan melihatmu di sana. Karena aku tahu engkau akan diangkat ke tempat yang sangat tinggi bersama para nabi. Dan jika aku masuk surga, aku akan berada di tingkatan yang lebih rendah darimu, dan jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan pernah melihatmu selamanya.”

Keheningan menyelimuti. Di tengah keputusasaan seorang pencinta yang takut terpisah dari kekasihnya, Malaikat Jibril turun membawa jawaban yang terabadikan dalam Surah An-Nisa ayat 69:

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Wajah Tsauban pun berseri-seri. Kecemasan itu sirna, digantikan oleh harapan bahwa cinta dan ketaatan akan menyatukan kembali dirinya dengan Nabi di hari akhir kelak.

Sumpah Pelayan Setia

Jauh sebelum hari itu, perjalanan Tsauban penuh liku. Darahnya mengalir dari silsilah Himyar, sebuah kabilah bangsawan di Yaman yang pernah memimpin peradaban Arab Selatan. Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, nama ayahnya adalah Bujdud, meski ada yang mengatakan Jahdar. Tsauban juga punya julukan Abu Abdullah, Abu Abdul Karim, dan Abu Abdurrahman.

Ia tumbuh di daerah As-Sarat, wilayah pergunungan yang memisahkan Makkah dan Yaman, tempat orang-orang berwatak keras dan mandiri ditempa. Namun, roda nasib berputar kejam pada masa Jahiliyyah. Dalam sebuah konflik antarsuku, Tsauban muda tertangkap.

Statusnya sebagai orang merdeka dirampas seketika. Ia menjadi tawanan perang (Saby) dan digiring ke pasar budak layaknya barang dagangan. Identitas bangsawannya lenyap, digantikan oleh belenggu perbudakan yang membawanya jauh ke utara, ke kota Makkah.

Di sanalah Rasulullah menemukannya. Melihat kejujuran dan potensi dalam diri pemuda itu, Nabi membelinya. Namun, Rasulullah segera memerdekakan Tsauban, lalu memberikan sebuah tawaran yang tak lazim bagi seorang tuan kepada bekas budaknya.

“Wahai Tsauban,” ujar Nabi, “Jika engkau mau, kembalilah kepada orang-orangmu, dan jadilah bagian dari mereka. Namun jika engkau mau, tinggallah bersamaku, menjadi bagian dari kami, Ahlul Bait (keluarga dekat Nabi Muhammad).”

Bagi orang Arab, kembali ke suku adalah kehormatan tertinggi. Namun Tsauban tidak ragu sedikit pun. Ia memilih untuk mengikatkan dirinya pada Rasulullah daripada kemerdekaan di tanah leluhurnya.

Sejak saat itu, ia dikenal sebagai maula, budak yang telah dimerdekakan. Didikan Nabi membentuknya menjadi pribadi yang memiliki harga diri yang tinggi, jauh dari mentalitas peminta-minta. Di Madinah, Tsauban menjadi bayang-bayang Nabi. Ia ada di mana Nabi berada. Ia juga ikut dalam Perang Badar.

Dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya Imam At-Thabarani dikisahkan, suatu hari Rasulullah menyodorkan pertanyaan menantang kepada para sahabatnya, “Siapa yang mau berbaiat kepadaku?”

Tsauban, dengan semangat yang menyala, langsung menyahut, “Aku, wahai Rasulullah.”

Sahabat lainnya berkata, “Bukankah kami sudah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”

Nabi melanjutkan sabdanya, “Dengan syarat, jangan meminta sesuatu pun kepada manusia.”

“Apa yang akan kudapatkan dari itu, wahai Rasulullah?” tanya Tsauban.

Nabi menjawab, “Surga.”

Tsauban lantas memegang janji itu hingga akhir hayatnya. Pernah ketika ia sedang menunggang kuda, cambuknya terjatuh ke tanah. Orang-orang di dekatnya, sudah bersiap mengambilkan cambuk tersebut. Namun Tsauban menolak. Dengan susah payah ia menghentikan untanya, turun dari pelana, memungut cambuk itu sendiri, lalu naik kembali. Ia tidak sudi meminta tolong, bahkan untuk hal sepele, demi menjaga janjinya pada Sang Nabi.

Ia juga menjadi penjaga gaya hidup sederhana keluarga Nabi. Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, pernah suatu kali Rasulullah melihat cucu mereka, Hasan dan Husein, mengenakan perak pada pergelangan mereka.

Siti Fatimah melihat Nabi seakan tidak suka. Ia lalu melepas perhiasan itu dari tangan anak-anaknya dan menyerahkannya kepada Nabi.

“Wahai Tsauban, pergilah dengan ini kepada keluarga si Fulan, yaitu keluarga yang miskin di Madinah, karena mereka adalah keluargaku. Aku tidak suka keluargaku menikmati kebaikan mereka di kehidupan dunia,” sabda Nabi.

Nabi melanjutkan, “Wahai Tsauban, belikanlah untuk Fatimah kalung dari serat (tulang sederhana) dan dua gelang dari gading.”

Tsauban menjadi orang kepercayaan Nabi untuk menjaga kesederhanaan orang-orang yang paling dicintainya dari kilau dunia.

Menuju Syam, Membawa Luka Perpisahan

Tahun ke-11 Hijriyah membawa mimpi buruk yang paling ditakuti Tsauban menjadi kenyataan. Wafatnya Rasulullah membuat Madinah terasa sempit baginya. Setiap sudut kota, setiap tiang masjid, mengingatkannya pada kenangan bersama Nabi, dan kerinduan itu terlalu menyakitkan untuk ditanggung. Tidak sanggup menanggung beban kenangan, Tsauban memutuskan untuk meninggalkan Madinah.

Ia bergabung dengan pasukan Umar bin Khatab dalam pembebasan Islam yang bergerak ke arah Syam (Suriah) dan Mesir. Tsauban akhirnya ia memilih menetap di Homs, sebuah kota di Suriah. Di sana, ia membangun sebuah rumah untuk memulai babak baru sebagai guru bagi penduduk Syam yang baru memeluk Islam.

Meski tinggal jauh dari pusat kekhalifahan dan hidup di era Bani Umayyah yang mulai bangkit, Tsauban tetaplah Tsauban yang kritis. Sebuah peristiwa dramatis terjadi ketika Tsauban jatuh sakit di Homs. Gubernur setempat, Abdullah bin Qurt, tidak kunjung datang menjenguknya—padahal dalam Islam, hak persaudaraan antarmuslim sangatlah ditekankan.

Dengan sisa tenaganya, Tsauban mendiktekan sebuah surat kepada Sang Gubernur. Isinya singkat namun menohok, “Amma ba'd. Seandainya Musa atau Isa memiliki seorang pelayan yang tinggal di tengah-tengah kalian, niscaya engkau akan menjenguknya.”

Ketika surat itu sampai ke tangan Abdullah bin Qurt, Gubernur itu pucat pasi. Ia sadar telah meremehkan seorang maula yang kedudukannya sangat mulia di mata Allah. Dengan panik, Gubernur bergegas menuju rumah Tsauban.

Ketika ia masuk, Tsauban tidak membiarkannya sekadar basa-basi. Ia menarik selendang Sang Gubernur hingga pemimpin itu terduduk, lalu Tsauban menasihatinya dengan keras tentang bahaya jabatan dan tanggung jawab di hadapan Allah.

Hingga akhir hayatnya, Tsauban tetaplah penjaga nilai-nilai kenabian yang tak silau oleh kekuasaan.

Menanti di Telaga

Di penghujung usianya, Tsauban banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang akhir zaman, ia seolah memiliki visi tentang badai yang akan menimpa umat. Dalam Musnad Imam Ahmad, ia meriwayatkan tentang umat Islam yang akan diperebutkan oleh musuh-musuhnya seperti orang-orang lapar memperebutkan makanan di atas nampan karena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati).

“Abu Nadhr menceritakan kepada kami, Mubarak menceritakan kepada kami, Marzuq Abu Abdullah Al-Himshi menceritakan kepada kami, Abu Asma` Ar-Rahabi mengabarkan kepada kami, dari Tsauban mawla Rasulullah saw bersabda,’Hampir tiba masanya bangsa-bangsa akan bersekutu (dan saling mengajak) satu sama lain untuk menyerbu kalian, persis seperti orang-orang yang sedang makan saling mengundang ke hidangan mereka’.”

Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?”

Nabi bersabda, “Bahkan, pada hari itu kalian akan berjumlah sangat banyak, tetapi kalian bagaikan buih seperti halnya buih di dalam arus. Akan dicabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menimpakan Wahn ke dalam hati kalian.” Lalu seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”

Imam Muslim juga meriwayatkan 10 hadis Nabi dari Tsauban yang kemudian dimasukkan ke dalam sahihnya, salah satunya tentang keutamaan menjenguk orang sakit.

“Orang yang menjenguk orang sakit itu (kelak berada) di pertengahan surga hingga ia pulang kembali.”

Menurut Abu Madyan al-Fasi dalam Musta’dzib al-Akhbar bi Atyab al-Akhbar, Tsauban bin Bujdud wafat pada tahun 54 Hijriyah di Homs dan dimakamkan di Damaskus. Ia berpulang membawa serta kerinduan untuk bertemu kembali dengan Nabi di tempat yang dijanjikan Allah, tempat yang sering ia ceritakan dengan penuh harap dalam riwayat-riwayatnya.

Janji Allah dalam surat An-Nisa ayat 69 telah menjadi pegangan hidupnya.

Baca juga artikel terkait SAHABAT NABI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi