Menuju konten utama
Mozaik

Siksaan Pedih Tak Meruntuhkan Iman Ammar bin Yasir

Kedua orang tua Ammar dibunuh. Sementara tubuhnya dijemur di terik matahari sembari ditindih batu. Namun, siksaan demi siksaan itu tak meruntuhkan imannya.

Siksaan Pedih Tak Meruntuhkan Iman Ammar bin Yasir
Header Mozaik Ammar bin Yasir. tirto.id/Mojo

tirto.id - Setiap hari, saat matahari Makkah membakar pasir, Abu Jahal dan algojonya menyeret keluarga Ammar bin Yasir keluar. Mereka dipaksa mengenakan baju besi panas, ditindih batu besar, dan dipaksa berjemur seharian hingga hampir mati lemas.

Rasulullah yang saat itu tak memiliki kekuatan politik, hanya bisa memberi penghiburan, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah Surga.”

Ibu Ammar, Sumayyah binti Khayyat, meski renta dan lemah, menunjukkan keberanian yang membuat Abu Jahal frustrasi. Ia menghina Sumayyah dengan kata-kata keji. Sumayyah meludah ke wajahnya dan menjawab, “Semoga engkau dihinakan oleh Allah, wahai musuh Allah! Engkau lebih kecil di mataku daripada kumbang tanah yang aku injak.”

Dikuasai amarah, Abu Jahal menikam Sumayyah. Darahnya membasahi pasir Makkah, menorehkan namanya sebagai syahidah pertama dalam Islam. Tak lama kemudian, ayahnya, Yasir pun wafat akibat siksaan. Ammar menyaksikan kedua orang tuanya dibunuh di depan matanya sendiri.

Siksaan terhadap Ammar juga semakin kejam. Dalam kondisi itu, ia dipaksa mengucapkan pujian bagi berhala dan celaan bagi Nabi. Lidahnya, tak lagi dikendalikan oleh kehendak, akhirnya mengucapkan kata-kata itu.

Ketika dilepaskan, Ammar merasa hancur. Ia datang kepada Rasulullah dengan air mata dan tubuh penuh luka.

“Aku tidak dibiarkan pergi sampai aku berkata buruk tentangmu dan memuji tuhan mereka,” isaknya.

Nabi bertanya, “Bagaimana hatimu saat mengucapkannya?”

Ammar menjawab, “Tenang dalam iman.”

Nabi lalu menenangkan sahabatnya: “Jika mereka kembali menyiksamu, maka ucapkanlah lagi apa yang kau ucapkan.”

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 106, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”

Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya Jami' Al Bayan Fi Ta'wil Al-Qur'an, pengecualian pada ayat tersebut berlaku bagi orang yang dipaksa. Adapun selainnya, yaitu yang dengan sengaja memilih kufur setelah iman, maka mereka termasuk orang yang disebut dalam ancaman ayat.

As-Sabiqunal Awwalun, Cahaya dari Darul Arqam

Ammar bin Yasir lahir di Makkah. Ayahnya, Yasir, berasal dari Bani ‘Ans, cabang suku besar di Yaman. Satu waktu, Yasir bersama dua saudaranya menuju Makkah untuk mencari saudara mereka yang hilang. Hasilnya sia-sia, dua saudaranya itu telah kembali ke Yaman, sementara Yasir memilih tinggal.

Di Makkah, Yasir bertahan lalu masuk sistem wala, semacam aliansi perlindungan dengan Abu Hudhayfah bin Al-Mughirah dari Bani Makhzum, klan kuat pesaing Bani Hasyim. Dengan ikatan janji setia, Yasir menjadi sekutu, meski tetap di lapisan sosial kedua.

Aliansi itu menguat lewat pernikahan. Abu Hudhayfah menikahkan Yasir dengan budaknya, Sumayyah binti Khayyat. Meski berstatus budak, Sumayyah dikenal cerdas dan pintar. Dari pasangan ini lahirlah Ammar bin Yasir, sekitar tahun 566 Masehi, hampir bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad.

Kelahiran Ammar membawa status yang rumit. Ia tumbuh sebagai klien Bani Makhzum, berada di antara kemerdekaan dan keterikatan. Ammar lahir sebagai anak dari garis Qahtani sekaligus budak Makhzum. Ayahnya sekutu, ibunya budak, dan dirinya tumbuh sebagai klien. Ia hidup di lapisan sosial bawah, tanpa modal politik, bergantung penuh pada perlindungan klan.

Marginalisasi ganda itu membentuk pandangan hidupnya. Dari pengalaman itu, ia mengenal rapuhnya perlindungan hukum, kerasnya hierarki ekonomi, dan ketidakadilan yang menindas kaum lemah.

Ketika Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, seruannya bergema pelan di lorong-lorong sempit Makkah. Ammar bin Yasir, termasuk di antara mereka yang menangkap seruan itu.

Suatu hari, seperti diceritakan risalah Al-Mustadrak ‘ala Ash-shahihain, di tengah ketegangan kota yang mulai mencurigai gerakan baru ini, Ammar menuju rumah Al-Arqam di bukit Safa, markas rahasia Nabi. Di depan pintu, ia bertemu Suhaib bin Sinan, pemuda asing dari Byzantium yang juga terpinggirkan.

Ammar bertanya, “Apa yang engkau cari di sini, wahai Suhaib?”

Suhaib balik bertanya, “Dan engkau, apa yang engkau cari?”

Ammar menjawab, “Aku ingin menemui Muhammad, mendengar langsung apa yang ia katakan.”

Suhaib tersenyum lega, “Aku pun menginginkan hal yang sama.”

Keduanya lalu masuk bersama menemui Nabi yang menerangkan ayat-ayat tentang keesaan Allah dan kesetaraan manusia. Mereka bersyahadat, lalu menghabiskan waktu hingga malam sebelum menyelinap keluar menghindari patroli Quraisy.

Ammar segera membawa kabar gembira kepada orang tuanya. Yasir dan Sumayyah, yang mengenal kesalehan putra mereka, tidak ragu sedikit pun. Keluarga kecil ini menjadi salah satu keluarga pertama yang memeluk Islam sepenuhnya, bagian dari as-sabiqunal awwalun.

Ksatria Tanpa Telinga, Dari Badar hingga Yamamah

Setelah bertahun-tahun penindasan, perintah hijrah ke Madinah menjadi titik balik. Ammar yang kehilangan kedua orang tuanya termasuk dalam gelombang Muhajirin yang meninggalkan luka Makkah menuju harapan baru di Yatsrib (Madinah). Di sana, kaum Ansar menyambut mereka dengan persaudaraan yang hangat.

Proyek pertama Nabi di Madinah adalah pembangunan Masjid Quba. Nabi dan sahabat turun tangan mengangkut bata dari lempung. Sementara sahabat lain membawa satu bata, Ammar sering terlihat memikul dua sekaligus. Tubuhnya masih menyimpan bekas luka penyiksaan, kini dipenuhi debu dan keringat.

Rasulullah mendekatinya, menepuk pundaknya, membersihkan debu dari kepalanya, lalu bersabda:

“Wahai Ibnu Sumayyah! Orang-orang membawa satu bata, engkau membawa dua. Pahalamu dua kali lipat. Namun celaka bagimu, wahai Ammar! Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang. Engkau mengajak mereka ke Surga, sedangkan mereka mengajakmu ke Neraka.”

Ammar, dengan kerendahan hati, menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah.”

Dia lalu membuktikan dirinya sebagai prajurit tangguh yang selalu hadir di medan laga. Ia ikut dalam setiap pertempuran besar bersama Rasulullah. Di Perang Badar, Ammar berdiri di barisan depan.

Ketika Abu Jahal akhirnya tewas di tangan dua pemuda Ansar, Rasulullah berkata kepadanya, “Allah telah membunuh pembunuh ibumu.”

Setelah wafatnya Nabi, masa Abu Bakar menghadirkan ujian besar dari nabi palsu Musaylimah Al-Kazzab. Pertempuran Yamamah berlangsung brutal, pasukan Muslim sempat terdesak mundur.

Di saat genting, Ammar yang sudah berusia lanjut naik ke atas gundukan batu. Sebuah tebasan pedang musuh memotong telinganya hingga terlepas, darah mengucur deras membasahi wajah dan janggutnya.

Namun rasa sakit itu tak menghentikan semangatnya. Dengan telinga terpotong, ia berteriak lantang, “Wahai kaum Muslimin! Wahai para penghafal Al-Qur’an! Apakah dari Surga kalian melarikan diri? Aku Ammar bin Yasir! Kemarilah kepadaku! Seranglah bersamaku!”

Abdullah bin Umar menyaksikannya dengan kagum. Ammar tetap berperang gagah berani, telinganya berayun-ayun, namun keberaniannya membakar moral pasukan. Seruan itu menjadi pemantik kemenangan, menjadi simbol keberanian yang menghidupkan kembali semangat umat.

Susu Terakhir dan Nubuat yang Tergenapi

Di masa pemerintahan Umar bin Khattab, wilayah Islam meluas hingga menaklukkan Persia. Kufa, kota garnisun baru di Irak, menjadi pusat militer sekaligus politik yang strategis, namun sulit diatur. Penduduknya terdiri dari berbagai kabilah Arab yang heterogen, kritis, dan sering memberontak.

Umar menunjuk Ammar bin Yasir sebagai gubernur Kufa. “Aku mengirim kepada kalian Ammar bin Yasir sebagai Amir... Mereka adalah termasuk sahabat terpilih Rasulullah, maka dengarkanlah mereka dan ikutilah,” tulis Umar dalam surat pelantikannya.

Dalam kepemimpinannya, Ammar menolak tinggal di istana gubernuran, memilih rumah sederhana, dan menolak pengawal pribadi. Kesederhanaan itu merupakan manifestasi zuhud yang telah mendarah daging.

Namun kesalehan pribadi tidak selalu sejalan dengan kepuasan publik. Penduduk Kufa, terbiasa dengan intrik politik kabilah, mulai menganggap Ammar terlalu lugu untuk menangani administrasi dan sengketa tanah.

Sekelompok elite mengirim surat kepada Umar, mengeluh bahwa Ammar tidak ahli dalam politik. Demi stabilitas wilayah perbatasan, Umar akhirnya menarik dan menggantinya dengan Abu Musa Al-Ash’ari.

Ketika kembali ke Madinah, Umar bertanya, “Apakah engkau sedih ketika aku memecatmu, wahai Ammar?”

Ammar menjawab dengan jujur, “Demi Allah, aku tidak merasa senang ketika engkau mengangkatku, dan aku tidak merasa sedih ketika engkau memecatku. Jabatan hanyalah amanah yang berat.”

Masa kekhalifahan Utsman bin Affan membawa dinamika baru. Ketika Utsman terbunuh dan Ali bin Abi Thalib dibaiat, umat terbelah hingga memicu perang saudara.

Puncak perjalanan hidup Ammar terjadi di Siffin, dataran di tepi Sungai Efrat, tahun 37 Hijriyah. Pasukan Ali dari Irak berhadapan dengan pasukan Muawiyah dari Syam. Ammar saat itu berusia lebih dari 90 tahun.

Ali Izzuddin bin al-Athir menggambarkan Ammar bertubuh tinggi, berkulit sawo matang (cenderung gelap), lebar kedua matanya, dan jarak antara kedua bahunya jauh. Ia tidak mewarnai rambutnya. Ada yang mengatakan pada bagian depan kepalanya terdapat beberapa helai rambut putih.

Semua pihak hafal sabda Nabi, “Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.”

Muawiyah dan panglimanya, Amr bin Al-Aas, sangat menyadari bahaya ini. Ia bahkan dilaporkan gelisah melihat Ammar berada di barisan lawan.

“Demi Allah! Aku telah memerangi bendera ini tiga kali bersama Rasulullah—di Badar, Uhud, dan Khandaq—dan kini aku memeranginya lagi. Kali ini tidaklah lebih baik daripada sebelumnya!” seru Ammar bin Yasir begitu melihat bendera Bani Umayyah berkibar di seberangnya.

Hari itu pertempuran di Siffin berkecamuk hebat. Ammar bin Yasir, yang sedang berpuasa atau sangat kehausan, meminta air. Seorang pengikutnya membawakan mangkuk berisi susu bercampur air. Melihatnya, tubuh Ammar bergetar. Ia tersenyum kecil, air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Allah dan Rasul-Nya telah mengatakan kebenaran,” bisiknya.

Ketika ditanya, ia menjawab, “Rasulullah pernah bersabda kepadaku, minuman terakhirmu di dunia adalah seteguk susu.”

Ia meminumnya dengan khidmat, seolah meneguk takdir. Dengan semangat menyala, tubuh renta itu bergerak laksana singa muda, menebas tanpa gentar. Namun takdir tak bisa ditolak. Sekelompok pasukan Syam mengeroyoknya. Abu Al-Adiya Al-Mazni menusukkan tombak ke tubuhnya, menjatuhkannya dari kuda.

Ammar bin Yasir gugur sebagai syahid, menyusul kedua orang tuanya ke surga yang dijanjikan.

Baca juga artikel terkait SAHABAT NABI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi