tirto.id - Dua dekade sebelum Nabi Muhammad diutus, hiduplah Sinan bin Malik, seorang gubernur al-Uballah di bawah kekuasaan Persia. Ia bergelimang harta dan sangat menyayangi salah satu anaknya bernama Shuhaib.
Suatu hari, saat Shuhaib kecil diajak jalan-jalan bersama ibu dan beberapa pengawal, mereka tiba-tiba diserbu pasukan Bizantium. Di tengah jeritan, Shuhaib direnggut paksa dari pelukan ibunya. Rambutnya yang pirang dan bermata biru membuatnya semakin menarik perhatian para penyerbu.
Shuhaib lalu dipajang di pasar budak, ditawar, lalu dibeli kabilah yang berganti-ganti, dari bangsawan, militer, aristokrat, hingga pendeta. Ia cepat dikenal sebagai budak cerdas, fasih berbahasa Yunani, dan memahami budaya serta perdagangan Romawi. Bahasa Arab sebagai bahasa ibunya nyaris hilang, penampilannya menyatu dengan orang Romawi. Di balik itu, ia melihat langsung korupsi, kerakusan, dan runtuhnya moralitas Bizantium.
Meski ingatan masa kecilnya samar, ia tahu dirinya Arab sejati dari suku an-Namir bin Qasit. Setelah dua puluh tahun, Shuhaib berhasil melarikan diri mengikuti jalur kafilah menuju Makkah, kota suci yang dihormati sebagai pusat ziarah sekaligus tempat perlindungan.
Saat tiba, tubuhnya lusuh, wajahnya merah, rambutnya pirang, dan bahasanya patah-patah bercampur logat Yunani. Penduduk Makkah segera menjulukinya “ar-Rumi”—Orang Romawi.
Menerima Islam
Di Makkah saat itu, hidup tanpa perlindungan kabilah berarti rawan diperlakukan semena-mena. Beberapa riwayat mencatat ia dijual sebagai budak kepada Abdullah bin Jud’an, sepupu Abu Bakar Shiddiq yang dikenal dermawan.
Shuhaib diajarkan seni berniaga hingga cepat menguasai pasar Arab. Ia berkelana, bernegosiasi tajam, meraup keuntungan besar hingga menjelma dari budak malang menjadi elite ekonomi Makkah.
Namun kekayaan tak memberinya ketenangan. Pasar-pasar Makkah penuh dengan praktik penyembahan berhala, pesta pora, dan penindasan kaum lemah, yang mengingatkan Shuhaib pada kebobrokan Bizantium.
Titik balik datang ketika kabar tentang Muhammad bin Abdullah, seorang pria yang mengaku menerima wahyu, menyeru pada Tuhan Yang Esa, menolak berhala, dan membawa ajaran yang menegakkan keadilan.
Nabi dengan pengikutnya itu sering berkumpul di Darul Arqam, di kaki bukit Safa. Meski banyak yang memperingatkan keselamatan dan hartanya, Shuhaib tak gentar mendatangi Muhammad.
Ketika ia tiba di ambang pintu kayu rumah tersebut, ia terkejut saat melihat Ammar bin Yasir.
“Kami pun masuk lalu beliau (Nabi Muhammad) menawarkan Islam kepada kami. Maka kami masuk Islam. Kami tinggal di sana sepanjang hari hingga sore, lalu keluar sementara kami bersembunyi,” tutur Ammar.
Sejak saat itu, nama Shuhaib tercatat sebagai orang ketujuh yang berani mendeklarasikan keislamannya secara terbuka di Makkah. Ia berdiri sejajar dengan Nabi Muhammad, Abu Bakar, Bilal, Khabbab bin al-Aratt, Ammar bin Yasir dan ibunya, Sumayyah binti Khayyat.
Siksaan dan Hijrah
Meski kaya raya, semua orang tahu hartanya tak bisa membeli perlindungan. Abdullah bin Jud’an, pelindung utamanya, sudah lama wafat. Bagi Quraisy, sosok seperti Shuhaib, Bilal, Ammar, dam Khabbab adalah sasaran empuk. Menyiksa mereka merupakan cara untuk menakut-nakuti siapa pun yang berani mengikuti Muhammad.
Shuhaib ditangkap, dirantai, dicambuk, dipukul, lalu dijemur di atas gurun pasir yang membara. Tiga belas tahun penuh penderitaan di Makkah itu berakhir ketika Nabi Muhammad menerima perintah hijrah ke Madinah.
Ia ingin segera bergabung dengan Nabi, namun rencananya terendus Quraisy. Mereka murka bukan karena iman Shuhaib, melainkan karena hartanya. Maka rumah Shuhaib dikepung pasukan bersenjata, mengurungnya siang malam. Ia frustrasi, Nabi sudah berangkat, sementara dirinya terjebak.
Pada malam dingin, ia berpura-pura sakit perut parah, lalu berhasil melarikan diri, melesat menunggang kudanya menembus gelap. Pagi harinya, penjaga Quraisy segera mengejar, mengikuti jejak tapak kuda di gurun.
Dikisahkan dari Sa‘id bin al-Musayyib dalam kitab Shifatush Shafwah, Shuhaib yang kudanya kelelahan akhirnya tersusul. Ia turun, memanjat bukit berbatu, dan bersiap. Busurnya ditarik, anak panah menegang, tubuhnya tegak menghadapi belasan pengejar.
“Wahai kaum Quraisy, kalian tahu aku ini pemanah paling tepat di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan bisa mendekat kepadaku sampai semua anak panahku habis kulepaskan, lalu aku tebas dengan pedangku selama masih ada di tanganku. Lakukanlah sesuka kalian. Jika kalian mau, aku akan tunjukkan harta dan pakaianku di Makkah, dan kalian biarkan aku pergi.”
Gertakan Shuhaib di atas bukit membuat para pemuka Quraisy itu terdiam dan menahan kuda mereka. Kesepakatan terjadi, Shuhaib lalu turun, mengungkap dengan rinci lokasi harta yang ia sembunyikan di Makkah. Para pengejar Quraisy yang mabuk harta segera berbalik arah, meninggalkannya sendirian di gurun.
Shuhaib kembali melanjutkan perjalanan menuju Madinah, menapaki bukit-bukit pasir dengan kaki melepuh, perut kosong, dan tubuh berdebu. Ketika tiba di pintu masuk Madinah, sosoknya yang lusuh segera terlihat oleh Nabi Muhammad dan Abu Bakar yang tengah duduk.
Rasulullah menyambut Shuhaib dengan senyum hangat dan berseru dengan suara penuh suka cita, mengulangi kalimatnya hingga tiga kali:
“Ya Aba Yahya, Rabihal bai'!” (Wahai Abu Yahya, beruntunglah perniagaanmu).
Shuhaib lalu membalas sapaan nabinya, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang mendahuluiku menyampaikan berita itu kepadamu kecuali Jibril.”
Lalu turun wahyu Surat Al-Baqarah ayat 207: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan (menjual) dirinya karena mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Kekayaan dua dekade ditukarnya dengan surga dalam satu transaksi yang bersifat abadi dan menginspirasi jutaan umat setelahnya.
Humoris
Setelah menetap di Madinah, Shuhaib ar-Rumi yang masa lalunya penuh luka, tidak menjadi pendendam atau murung. Justru sebaliknya, ia dikenal ceria, santai, dan memiliki selera humor yang cerdas dan beradab.
Pernah ketika Shuhaib sedang sakit mata, Umar bin Khattab memberi tahu Nabi, “Wahai Rasulullah, lihatlah Shuhaib makan kurma padahal matanya sakit.”
Nabi tertawa lepas ketika dengan wajah jenaka Shuhaib menimpalinya, “Apa salahnya, wahai Utusan Allah? Aku makan dari sisi mataku yang sehat.”
Selain humoris, Shuhaib juga dikenal karena kedermawanannya. Meski datang dalam keadaan miskin, Allah memberkahi usahanya. Ia kembali berdagang dan cepat membangun kekayaan. Namun kali ini, kekayaan hanya singgah sebentar di tangannya, lalu mengalir deras kepada fakir miskin, sahabat, dan siapa saja yang membutuhkan.
Setelah Madinah menjadi pusat negara Islam dan Baitul Mal mulai menyalurkan tunjangan besar bagi para veteran perang, Shuhaib ar-Rumi tetap konsisten menolak hidup bermewah-mewahan.
Latar belakang dan kedermawanannya itu sempat menarik perhatian Umar bin Khattab yang menanyakan mengapa ia memakai julukan “Abu Yahya”, padahal tak punya anak bernama Yahya; lalu mengapa ia mengaku Arab sementara orang mengenalnya sebagai Romawi; dan mengapa ia memberi makanan berlebihan hingga tampak boros.
Shuhaib menjawab dengan tenang, mematahkan satu per satu.
“Adapun julukanku, Rasulullah memberiku julukan Abu Yahya. Adapun nasabku kepada Arab, aku berasal dari kabilah an-Namr bin Qasith; orang Romawi menawanku dari Mosul ketika aku masih kecil. Adapun perkataanmu bahwa aku boros dalam makanan, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan.”
Jawaban itu membuat Umar terdiam. Kritiknya tak lagi menemukan celah, justru berubah menjadi rasa hormat pada prinsip Shuhaib sebagai identitas hidupnya.
Hari-hari Akhir
Tahun 23 Hijriah, Khalifah Umar bin Khattab ditikam Abu Lu’lu’ah saat memimpin salat Subuh di Masjid Nabawi. Luka parah membuat Umar sadar bahwa hidupnya tinggal hitungan hari. Di ranjang sakaratul maut, Umar menolak menunjuk pengganti tunggal atau mewariskan takhta kepada putranya.
Ia membentuk dewan Syura beranggotakan enam sahabat senior—Utsman, Ali, Talhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d bin Abi Waqqas—dengan tenggat tiga hari untuk memilih khalifah baru. Tetapi muncul persoalan lain, siapa yang akan memimpin umat sementara? Lalu menjadi imam salat di Masjid Nabawi dan menjaga stabilitas di tengah vakum kekuasaan?
Umar lalu berkata, “Jika suatu peristiwa terjadi padaku, hendaklah Shuhaib mengimami manusia selama tiga hari, kemudian setelah itu berkumpullah untuk menentukan urusan kalian.”
Keputusan Umar mengejutkan logika politik suku Quraisy maupun Anshar. Dari sekian banyak tokoh elite, ia menunjuk Shuhaib ar-Rumi—mantan budak, pendatang asing, yang dikenal karena iman, kedermawanan, dan integritasnya.
Di mihrab Masjid Nabawi, Shuhaib berdiri sebagai imam umat, simbol bahwa kemuliaan dalam Islam ditentukan oleh takwa dan keteguhan hati, bukan garis keturunan atau status sosial.
Setelah Utsman bin Affan terpilih menjadi khalifah ketiga, Shuhaib mundur dengan tenang, kembali pada kehidupan sederhana. Hari-harinya diisi dengan memberi makan orang miskin, menyebarkan salam, dan meriwayatkan hadis-hadis kenangan bersama Nabi. Lebih dari tiga puluh hadis ia wariskan, sebagian tercatat sahih dalam karya Imam Bukhari dan Muslim.
Ketika fitnah besar melanda umat—pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, lalu konflik berdarah antara kubu Ali dan Mu’awiyah—ia memilih jalan sunyi. Sebagai bagian dari assabiqunal awwalun, hatinya gentar terhadap dosa menumpahkan darah sesama Muslim.
Shuhaib menepi dari hiruk-pikuk politik, fokus ibadah, memandangi kebun kurma, dan menyaksikan tumbuh besar delapan putranya: Utsman, Sayfi, Hamzah, Sa’d, Abbad, Habib, Shalih, dan Muhammad. Hingga akhirnya, pada bulan Syawal tahun 38 Hijriah, Shuhaib mengembuskan napas terakhir di usia sekitar 70 tahun.
Jenazahnya disalatkan langsung oleh pembebas Persia, Sa’ad bin Abi Waqqas, lalu dimakamkan di Jannatul Baqi’, bergabung dengan para syuhada dan sahabat Nabi. Warisannya merupakan simbol keberhasilan Islam menghancurkan sekat ras, kasta, dan status sosial.
Nabi Muhammad sendiri pernah menegaskan, “Empat orang adalah yang paling dahulu [masuk Islam]: aku yang paling dahulu dari bangsa Arab, Salman yang paling dahulu dari bangsa Persia, Bilal yang paling dahulu dari Habasyah, dan Shuhaib yang paling dahulu dari bangsa Romawi.”
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































