Menuju konten utama
Mozaik

Khabbab bin Aratt, Luka Bakar dan Tak Tenang dengan Harta Dunia

Setelah melewati penderitaan, di masa tuanya Khabbab bin Aratt takut harta yang ia miliki adalah kenikmatan yang disegerakan dan di akhirat tak ada lagi.

Khabbab bin Aratt, Luka Bakar dan Tak Tenang dengan Harta Dunia
Header Mozaik Khabbab bin al Aratt. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Umar bin Khattab berangkat dengan pedang terhunus, berniat membunuh Nabi Muhammad. Namun di tengah jalan, Nu’aim bin Abdullah menghentikan langkahnya.

“Ke mana engkau hendak pergi, wahai Umar?” tanya Nu’aim.

“Aku ingin menemui Muhammad, orang yang memecah belah urusan Quraisy, mencela mimpi-mimpi mereka, mencela agama mereka, dan mencaci tuhan-tuhan mereka. Aku akan membunuhnya!” sahut Umar.

Nu’aim lalu mengalihkan perhatian dengan memberi kabar bahwa Fatimah, adik Umar, telah masuk Islam. Umar pun bergegas ke rumah Fatimah. Di ambang pintu, ia mendengar suara lirih Khabbab bin al-Aratt sedang mengajarkan Al-Qur’an kepada Fatimah dan suaminya, Said bin Zayd.

Khabbab segera bersembunyi. Umar masuk dengan amarah dan mulai menginterogasi, “Suara berbisik apa yang tadi kudengar?” tanya Umar.

“Kami tidak mendengar apa-apa,” kata mereka.

Ia mulai menyerang Said, lalu menampar Fatimah hingga berdarah. “Ya, kami telah masuk Islam, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka lakukanlah apa yang engkau mau!”

Melihat darah itu, hatinya luluh, “Berikan kepadaku lembaran yang tadi kalian baca agar aku dapat melihat apa yang dibawa Muhammad ini.”

Mereka menunjukkan lembaran (shuhuf) surat Taha, “Ma anzalna alaykal qurana litasyqa” (Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau celaka.)

Begitu Umar membaca ayat pembuka surat tersebut, nadanya berubah, dari murka menjadi rendah hati, “Alangkah indah dan mulianya ucapan ini.”

Khabbab, keluar dari persembunyian. “Bergembiralah, Umar,” serunya. “Aku berharap engkau adalah jawaban doa Rasulullah: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang ini: Abu al-Hakam bin Hisyam atau Umar bin al-Khattab.”

Ucapan itu mengunci hidayah Umar. Ia menerima Islam, lalu dituntun Khabbab menuju Darul Arqam. Seorang pandai besi tertindas menjadi pembimbing bagi calon khalifah agung. Demikian seperti dikisahkan dalam Kitab Al-Jami’ Al-Sahih li-Seerat Al-Nubai karya Saad al-Marsafi (972-975).

Ekonomi Pandai Besi di Makkah

Berbeda dengan budak lain yang lahir dalam perbudakan atau berasal dari etnis non-Arab seperti Bilal dari Afrika atau Suhaib dari Romawi, Khabbab berdarah Arab murni dari kabilah terhormat Bani Tamim di Najd.

Ibnu Mandah dan Abu Nu‘aim menelusuri nasabnya hingga Bani Tamim, suku besar yang dikenal fasih berbahasa dan tangguh di medan perang. Nama lengkapnya Khabbab bin al-Aratt bin Jandalah bin Sa’d bin Khuzaimah bin Ka’b bin Sa’d bin Zayd Manat bin Tamim.

Ketika terjadi serangan antarsuku menimpa kampung halamannya, Khabbab kecil ditawan, status merdekanya dicabut, dan ia dijadikan budak. Diceritakan dalam kitab Shuwar min Hayatis Shahabah, ia dibawa ke Makkah, lalu dijual kepada Umm Anmar al-Khuza’iyyah.

“Lalu apa yang membawamu sampai ke tangan para pedagang budak di Makkah?” tanya Umm Anmar.

Khabbab menjawab, “Suatu kabilah Arab pernah menyerang perkampungan kami. Mereka merampas harta, menawan perempuan, dan mengambil anak-anak. Aku termasuk di antara anak-anak yang ditawan. Aku terus berpindah tangan dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya sampai di Makkah dan jatuh ke tanganmu.”

Sejak itu, Khabbab menjadi budak yang terikat secara hukum. Meski biologisnya Tamimi, secara sosial ia masuk lingkaran Khuza’ah. Karena Umm Anmar beraliansi dengan Bani Zuhrah, Khabbab pun disebut bagian dari Bani Zuhrah—sekutu dengan perlindungan minim, tanpa darah Quraisy yang bisa melindunginya.

Ummu Anmar lalu menyerahkan Khabbab kepada seorang pandai besi dari kalangan penduduk Makkah agar ia mengajarinya membuat pedang. Dalam hierarki Quraisy yang memuja perdagangan dan kepemimpinan kabilah, pekerjaan tangan kasar dianggap rendah, meski vital.

Bengkel besi Khabbab jadi ruang pertemuan dengan elite Quraisy. Di tengah debu dan percikan api, ia menempa pedang berkualitas tinggi, yang ironisnya, kelak dipakai kaum musyrik melawan Islam.

Ketika dakwah Nabi Muhammad masih berlangsung secara sembunyi, Khabbab sudah berada dalam kondisi batin yang siap menerima perubahan. Penderitaan yang menjerat hidupnya, berpadu dengan kecerdasan alami, membuatnya peka terhadap rapuhnya moral penyembahan berhala dan ketidakadilan sosial Makkah.

Sejarawan sirah sepakat, Khabbab termasuk assabiqunal awwalun, golongan pertama yang memeluk Islam. Ia kerap disebut sebagai orang keenam yang masuk Islam, bahkan sebelum rumah Al-Arqam dijadikan pusat dakwah.

Khabbab menerima Islam karena menawarkan kesetaraan dan keadilan. Baginya, doktrin itu ibarat air sejuk di gurun penindasan. Ia tidak menyembunyikan keislamannya dan segera menarik amarah penguasa Makkah.

Api dan Besi

Karena Khabbab tidak memiliki kabilah pelindung, tubuhnya menjadi sasaran kekejaman Quraisy. Majikannya, Umm Anmar, saudara laki-lakinya Siba’ bin Abdul Uzza, dan para pemuka Quraisy lain bergiliran menyiksa.

Metode mereka kejam dan terkait langsung dengan profesinya. Batu dan besi dari bengkelnya dipanaskan hingga membara, lalu ia dipaksa berbaring telanjang di atasnya.

“Tidak ada yang memadamkan api itu kecuali lemak dari punggungku,” kenangnya.

Selain sisir besi panas yang mengoyak daging hingga menampakkan tulang, ia juga ditindih batu besar di bawah terik matahari, dipaksa mengucapkan kalimat kufur, seperti yang terjadi pada Bilal bin Rabbah dan Ammar bin Yasir.

“Apa yang kamu katakan tentang Muhammad?” tanya yang menyiksanya.

Khabbab menjawab, “Dia hamba Allah dan rasul-Nya. Dia datang kepada kami dengan agama petunjuk dan kebenaran untuk mengeluarkan kami dari kegelapan menuju cahaya.”

“Apa yang kamu katakan tentang Lata dan ‘Uzza?”

“Dua berhala tuli dan bisu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula membahayakan.”

Mereka lalu mengambil batu panas membara, meletakkan di punggungnya, dan menekannya sampai lemak tengkuknya meleleh.

Lain hari, dinukil dari Tafsir Imam Qurtubhi, Khabbab pernah menagih upah pedang kepada Al-As bin Wa’il, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya.

“Aku tak akan membayar sampai kau kafir kepada Muhammad, ” timpal Al-As bin Wa’il.

“Demi Allah, aku tak akan kafir sampai kau mati lalu dibangkitkan kembali.”

Al-As lalu mengejek, “Apakah aku akan dibangkitkan? Jika begitu, tunggulah. Di sana aku akan punya harta dan anak, lalu aku akan membayarmu.”

Kesombongan Al-As bin Wa’il lalu diabadikan dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 77–80:

“Apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan berkata: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’? Apakah ia mengetahui yang gaib atau telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih? Sekali-kali tidak! Kami akan menulis apa yang ia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya dengan sungguh-sungguh. Dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami seorang diri.”

Celaan dan siksaan terus-menerus sempat membuat Khabbab dan sahabat lainnya putus asa. Mereka lalu mendatangi Rasulullah di bawah naungan Ka’bah.

Dengan nada pedih ia bertanya, “Tidakkah engkau memintakan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?”

Wajah Nabi memerah, ia lalu bersabda: “Umat sebelum kalian ada yang digali lubang lalu ditanam di dalamnya. Ada yang digergaji hingga terbelah dua. Ada yang disisir besi hingga daging terpisah dari tulang. Namun itu tak memalingkan mereka dari agama”.

Nabi membingkai ulang penderitaan sebagai warisan para nabi sekaligus penghiburan. Kesabaran menjadi fondasi, sementara janji dan jaminan di akhirat kelak memberi makna pada luka yang mereka tanggung.

Setelah bertahun-tahun bertahan di Makkah, Khabbab akhirnya mengikuti perintah hijrah. Ia meninggalkan bengkel dan alat-alatnya demi menyelamatkan iman. Di Madinah, ia ditampung oleh Kulthum bin al-Hadam, atau menurut riwayat lain oleh Sa’ad bin Ubadah.

Dalam sistem persaudaraan (muakhaat) yang dibangun Nabi, Khabbab dipersaudarakan dengan Jabir bin ‘Atik dari kalangan Anshar, atau menurut pendapat lain dengan Tamim Maula Khirash. Ikatan ini membebaskannya dari stigma “orang asing” yang dulu melekat di Makkah.

Di kota baru itu, Khabbab bertransformasi dari korban pasif menjadi prajurit aktif. Keahliannya dalam persenjataan kini digunakan untuk membela umat. Ia hadir di Perang Badar, pertempuran pertama yang menentukan, dan status badriyyun kelak memberinya kedudukan tinggi dalam hierarki sosial Islam.

Ia juga teguh di Perang Uhud dan berdiri tegar di sisi parit pada Perang Khandaq, dengan semangat yang tak luntur oleh usia atau luka bakar di punggungnya.

Ketakutan Disegerakannya Kenikmatan

Setelah wafatnya Nabi, Khabbab hidup di tengah kemakmuran. Sebagai veteran elite, ia berhak atas tunjangan besar. Dari miskin dan terhina, Khabbab berubah menjadi kaya. Ia memiliki rumah luas di Kufa dan simpanan mencapai puluhan ribu dirham.

Namun, hubungannya dengan harta berbeda dari kebanyakan orang. Ia tidak menyimpannya di balik pintu terkunci. Uang itu diletakkan terbuka di rumahnya, siap diambil siapa saja yang membutuhkan.

Ia bersumpah: “Di tempat ini ada delapan puluh ribu dirham. Demi Allah, aku tidak pernah mengikatnya dengan tali dan tidak pula menutupnya dengan kunci.”

Kekayaan justru menimbulkan kegelisahan baru. Khabbab dihantui oleh konsep istidraj—kenikmatan dunia yang bisa jadi hukuman terselubung, kenikmatan yang disegerakan. Ia takut bahwa harta ini adalah bayaran kontan atas penderitaan masa lalu, sehingga tidak ada lagi pahala tersisa di akhirat.

“Aku menangis karena sahabat-sahabatku telah pergi dan tidak mendapatkan apa pun dari pahala mereka di dunia ini, sedangkan aku masih hidup dan telah memperoleh bagian dari harta ini. Aku khawatir itu menjadi balasan pahala amal-amal tersebut,” ujarnya sambil terisak ketika ada sahabat menjenguknya.

Khabbab lebih tenang dengan luka bakar di punggungnya daripada tumpukan dirham, karena luka menjanjikan surga, sedangkan harta berpotensi melalaikan.

Menjelang akhir hayatnya di Kufa, sekitar tahun 37 H, Khabbab dilanda sakit parah yang berkepanjangan. Sebelum wafat, Khabbab berwasiat agar ia dimakamkan di tempat terbuka di luar kota sebagai syiar dan pengingat publik, sekaligus memutus eksklusivitas pemakaman kabilah. Pada masa itu, tradisi penduduk adalah memakamkan jenazah di halaman rumah atau area suku masing-masing.

Ia wafat pada usia sekitar 73 tahun, menjadi sahabat Nabi pertama yang dimakamkan di pemakaman umum Kufa. Sejak itu, lahir beberapa pemakaman umum lainnya bagi kaum Muslimin.

Diriwayatkan, Ali bin Abi Talib, saat kembali dari medan perang atau berada di Kufa, melihat kuburan baru yang menyendiri di luar kota. Ketika diberitahu bahwa itu makam Khabbab, Ali berdiri dan mendoakannya, “Semoga Allah merahmati Khabbab. Ia masuk Islam dengan penuh kerelaan, berhijrah dengan kepatuhan, hidup sebagai mujahid, dan tubuhnya diuji dengan berbagai cobaan. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Baca juga artikel terkait SAHABAT NABI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi