tirto.id - Pemerintah Kota Palembang memutuskan mengundur jam masuk sekolah selama kabut asap melanda kota tersebut akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Sekolah tetap menggelar pembelajaran tatap muka, meski BMKG menyarankan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengungkapkan kebijakan itu diambil berdasarkan hasil rapat koordinasi sejumlah instansi terkait perkembangan kondisi udara di kota tersebut. Pemerintah setempat memilih tidak meliburkan sekolah dan pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan.
"Kita tetap offline, kita tidak liburkan sekolah, pembelajaran tetap tatap muka seperti biasa. Hanya jam masuknya saja diundur dan mulai dilakukan," ungkap Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Rabu (26/8/2026).

Pada hari normal, anak-anak mulai dari PAUD hingga SMP masuk sekolah pukul 06.40 WIB. Sejak keputusan diterbitkan, para siswa mengikuti pembelajaran di sekolah mulai pukul 08.00 WIB. Demi menjaga kesehatan, siswa wajib mengenakan masker selama perjalanan dari rumah menuju sekolah serta saat beraktivitas di luar kelas. Kegiatan ekstrakurikuler yang digelar di luar ruangan untuk sementara waktu ditiadakan.
"Pemakaian masker wajib bagi seluruh warga sekolah, terutama anak-anak didik yang rentan terpapar asap," kata Ratu Dewa.
Ratu Dewa juga menginstruksikan fasilitas pelayanan kesehatan harus siaga dan optimal melayani pasien dengan gangguan pernapasan. Anak didik yang mengeluhkan kondisi kesehatan harus segera berobat agar tidak berdampak lebih buruk.
"Kabut asap mengancam ISPA, puskesmas dan rumah sakit harus siaga," kata Ratu Dewa.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menjelaskan kualitas udara di Palembang sudah masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Berdasarkan pemantauan PM2.5 Stasiun Musi 2 Palembang, konsentrasi partikulat halus terpantau pada kategori kuning dan merah.
"Pantauan kami, kualitas udara di Palembang sudah sangat tidak sehat," kata Wandayantolis.
BMKG mencatat kabut asap menyelimuti Palembang akibat terbawa angin dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Sementara itu, asap karhutla di wilayah Musi Banyuasin dan Banyuasin terbawa angin ke Jambi.
"Kualitas udara mengikuti pergerakan dan penyebaran asap. Konsentrasi partikulat halus cenderung meningkat pada malam hingga pagi hari," kata dia.
Dalam kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Anak-anak sekolah disarankan belajar secara daring agar tidak terpapar asap secara langsung.
"Ada baiknya anak-anak, terutama TK dan SD belajar dari rumah karena sangat berisiko," pungkas Wandayantolis.
Masuk tirto.id


































