Menuju konten utama

Jejak Perjuangan Ukkasyah dan Mukjizat Nabi di Perang Badar

Ukkasyah bin Mihshan membersamai Rasulullah sejak awal perjuangan Islam di tanah Arab, hingga ia gugur sebagai syahid di sisi lain pertempuran.

Jejak Perjuangan Ukkasyah dan Mukjizat Nabi di Perang Badar
Ilustrasi Mozaik Perang Badar. tirto.id/Nauval
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di padang Badar, sekira 125 kilometer dari Madinah, perang tengah berkecamuk. Laskar kaum Muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit harus menghadapi ribuan orang dari pasukan bangsa Quraisy.

Dalam salah satu fragmen pertempuran yang terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi itu, pedang Ukkasyah bin Mihshan patah akibat menangkis serangan musuh. Beruntung, ia masih bisa menghindar dan menyelamatkan diri.

Ukkasyah bergegas menemui Nabi Muhammad di tengah situasi genting tersebut. Rasulullah pun menunjukkan mukjizatnya. Nabi mengambil setangkai ranting kayu palem, lantas diberikan kepada Ukkasyah.

“Berperanglah dengan ini, wahai Ukkasyah!” kata Rasul dalam suatu riwayat yang dikutip dan dituliskan kembali oleh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri melalui Sirah Nabawiyah (terbitan ulang 2018).

Ukkasyah menggerakkan kayu pemberian Rasulullah di tangannya. Atas izin Allah, sepotong kayu itu seketika berubah menjadi sebilah pedang yang kokoh, putih berkilau.

Dengan semangat, Ukkasyah kembali maju ke medan laga, berjuang dengan gagah berani dan menjadi bagian dari kemenangan kaum Muslimin di pertempuran yang barangkali sempat mustahil dimenangkan: Perang Badar.

Perang Badar bisa saja menjadi pertempuran yang tak seimbang. Bayangkan, prajurit kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 313 hingga 317 orang harus meladeni nyaris seribu pasukan Quraisy.

Pedang Ukkasyah yang berasal dari ranting kayu itu, pedang hasil mukjizat Rasul itu, kemudian diberi nama al-Aun, yang artinya “pertolongan”. Dan itulah yang terjadi, bersenjatakan al-Aun pemberian Nabi Muhammad, pertolongan Allah di Perang Badar pun datang.

Dari Perang ke Perang Perjuangkan Islam

Dirujuk dari kitab Al-Ishabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang diterbitkan kembali oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (2017), Ukkasyah bin Mihshan berasal dari Bani Ghanam yang merupakan keturunan Bani Asad, salah satu kabilah besar bangsa Arab kala itu.

Ukkasyah bin Mihshan termasuk Assabiqunal Awwalun atau golongan orang yang pertama kali masuk Islam sekaligus salah satu sahabat pertama Rasulullah di masa-masa awal.

Setelah menjadi muslim, Ukkasyah sering mendapat cercaan bahkan siksaan dari orang-orang Quraisy yang tidak lain adalah tetangga atau kerabatnya sendiri.

Kendati begitu, tekad Ukkasyah memang sudah bulat memeluk Islam. Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah lantaran tekanan yang semakin meningkat dari kaum Quraisy di Makkah, Ukkasyah juga turut serta.

Perang Badar merupakan pertempuran besar kaum Muslimin pertama yang terjadi setelah Rasulullah hijrah. Andil Ukkasyah dalam membawa kemenangan umat Islam di perang yang sejatinya tak seimbang itu cukup besar. Cerita yang paling masyhur tentunya kisah pedang dari kayu hasil mukjizat Rasulullah.

Dalam rangkaian pertempuran besar yang dipimpin Nabi Muhammad saat memperjuangkan Islam di masa awal-awal itu, Ukkasyah nyaris selalu terlibat, termasuk di Perang Uhud (625 M), Perang Khandaq (627 M), bahkan di beberapa perang setelah Rasulullah wafat.

Ukkasyah memang dikenal sebagai sosok pemberani, tangkas saat bertempur, dan mahir mengendarai kuda. Bahkan, Rasulullah pernah menyebutnya sebagai salah satu dari "sebaik-baiknya penunggang kuda" di kalangan orang-orang Arab.

Ia juga termasuk sahabat yang sering diandalkan Rasulullah untuk menjalankan misi penting. Salah satunya terjadi pada 627 M ketika Ukkasyah dikirim ke sumber air di Ghamrah atau Al-Ghamir, di sisi barat daya Arab Saudi, dekat Laut Merah.

Ghamrah kala itu dikuasai oleh orang-orang Bani Asad, suku bangsa Quraisy yang tidak lain masih terhitung leluhur Ukkasyah sendiri. Tiga tahun sebelumnya, pasukan Muslim pernah berupaya menaklukkan kawasan kaum kafir ini, namun belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Ukkasyah lantas dipercaya memimpin 30-40 orang pejuang Muslim dalam misi yang sama. Dikutip dari Ar-Rahiq Al-Makhtum atau The Sealed Nectar karya Syekh Saifur Rahman Al Mubarakpuri, para pejuang ini berhasil merebut sumber air sekaligus membawa pulang ratusan hewan ternak ke Madinah.

Atas andil penting Ukkasyah, ekspedisi ini kemudian dikenal sebagai Ekspedisi Ghamrah atau Ekspedisi Ukkasyah bin Mihshan.

Sahabat yang Dijanjikan Masuk Surga

Ukkasyah gugur saat bertempur dalam rangkaian Perang Riddah di Nejd (dekat Riyadh sekarang) pada 633 M. Dalam Tarikh ath-Thabari karya Imam Thabari (terjemahan tahun 2012) dituliskan, perang ini disebut juga perang melawan kemurtadan, yakni memerangi suku-suku Arab yang keluar dari Islam dan menolak membayar zakat.

Perang Riddah terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq selama tahun 632 dan 633 M setelah wafatnya Nabi Muhammad. Oleh Khalid bin Walid yang memimpin perang, Ukkasyah dan seorang sahabat lainnya yakni Tsabit bin Arqam ditugaskan untuk memantau kekuatan musuh.

Sayangnya, aksi mereka ketahuan oleh patroli lawan. Ukkasyah dan Tsabit dikeroyok kaum pemberontak hingga mengembuskan napas penghabisan, mereka gugur sebagai syahid.

Dikisahkan, Ukkasyah bin Mihshan termasuk sahabat Rasulullah yang dijanjikan masuk surga tanpa dihisab, sebagaimana dikutip dari hadis sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut ini:

Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.”

Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.”

Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!”

Kemudian seorang laki-laki dari kaum Anshar berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.”

Maka, Rasulullah menjawab, “Ukkasyah sudah mendahuluimu.” 

(HR Bukhari 6542)

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Mozaik
Penulis: Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya