Menuju konten utama
Mozaik

Kisah Zuhud Abu Dzar, Sahabat Nabi dari Kabilah Perampok

Di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Abu Dzar mengasingkan diri dan hidup miskin. Saat ia wafat, keluarganya tidak memiliki kain kafan untuk jenazahnya.

Kisah Zuhud Abu Dzar, Sahabat Nabi dari Kabilah Perampok
Header Mozaik Abu Dzar Al Ghifari. tirto.id/Fuad

tirto.id - "Naiklah ke lembah ini dan cari tahu untukku tentang lelaki yang mengaku sebagai nabi; ia mengabarkan bahwa berita datang kepadanya dari langit. Dengarkan ucapannya lalu kembali kepadaku," tutur Abu Dzar al-Ghifari kepada Anis al-Ghifari, saudaranya.

Berita samar tentang seorang nabi di Makkah memang telah sampai ke telinga Abu Dzar di gurun Waddan, wilayah keras di jalur perdagangan Quraisy. Anis lalu kembali dan menceritakan pengalamannya, "Aku melihatnya memerintahkan akhlak mulia, dan ucapannya bukanlah syair."

"Belum terobati rasa ingin tahuku," balas Abu Dzar, yang memaksanya berangkat sendiri ke Makkah.

Setibanya di Makkah, seperti dikisahkan Ibnu Atsir dalam Usdul Ghabah fi Ma’rifati ash-Shaḥabah, Abu Dzar berhati-hati. Ia tidak berani bertanya langsung tentang Muhammad karena tahu risiko besar dari kaum Quraisy.

Ia memilih berdiam di Masjidil Haram, hanya bertahan dengan air Zamzam. Dalam riwayat Sahih Muslim (Jilid 16 Bab tentang sebagian keutamaan Abu Dzar R.A hal. 28) ia tinggal di Makkah tiga puluh hari tanpa makanan lain, tubuhnya bahkan menjadi gemuk karena keberkahan air itu.

Pertemuan yang menentukan terjadi ketika Ali bin Abi Thalib melihat dan menampung Abu Dzar di rumahnya selama tiga malam tanpa banyak tanya.

Pada malam ketiga, Ali akhirnya bertanya, "Maukah engkau memberitahuku apa yang membawamu ke sini?"

Abu Dzar menjawab dengan syarat kerahasiaan, "Aku mendengar ada seseorang di sini yang mengaku nabi. Aku mengutus saudaraku untuk mendengar ucapannya, lalu ia kembali dan tidak memuaskanku. Aku ingin menemuinya."

"Engkau telah diberi petunjuk. Aku akan mengantarmu kepadanya. Ikutilah aku. Jika aku melihat sesuatu yang mencurigakan, aku akan berdiri seolah-olah memperbaiki sandalku. Jika aku terus berjalan, maka ikutlah," tutur Ali.

Perjalanan Abu Dzar berubah usai bertemu Rasulullah, dari pencari kebenaran di pinggiran gurun menjadi salah satu sahabat paling saleh dan zuhud dalam sejarah Islam.

Iman dan Kezuhudan

Nama nasabnya ialah Jundub bin Junadah, lahir dari Bani Ghifar, klan Kinanah yang mendiami lembah Waddan. Perawakannya tinggi, berkulit coklat, dan berjenggot lebat. Ia tumbuh dalam stigma sosial karena sukunya dikenal kerap merampok para kafilah.

Namun dari latar yang keras itu, ia figur jujur, sederhana, dan radikal dalam kesetiaan pada tauhid. Diceritakan Ibnu Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyq, bahkan tiga tahun sebelum bertemu Rasulullah, ia sudah ber-tahannuts (menyendiri untuk ibadah).

"Kepada siapa engkau salat?" tanya Anis, satu waktu.

Abu Dzar menjawab, "Kepada Allah."

Anis bertanya lagi, "Lalu ke mana engkau menghadap?"

Dia menjawab, "Aku menghadap ke mana pun Tuhan mengarahkanku. Aku melaksanakan salat Isya hingga ketika di akhir malam aku pun jatuh tersungkur seolah-olah aku kain yang terhampar, sampai matahari menyinari aku."

Saat pertama bersua dengan Nabi di Darul Arqam, ia memberi salam dan dituntun mengucapkan syahadat. Setelah menjelaskan prinsip Islam, Nabi memberi arahan agar Abu Dzar merahasiakan keislamannya dan kembali ke kaumnya.

Nabi lalu menanyakan asal-usulnya. Ketika Abu Dzar mengaku dari suku Ghifar, Nabi terkejut karena suku itu terkenal suka berulah, lantas meletakkan tangannya di keningnya.

"Kembalilah kepada kaummu sampai datang perintahku," sabda Nabi.

Namun Abu Dzar tegas menolak. Ia bersumpah akan mengumumkan keislamannya secara terang-terangan. Benar saja, ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak lantang di hadapan Quraisy, "Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya!" (Tarikh Madinah Damasyq Jilid 66 hal.181)

Tindakannya memicu amarah. Abu Dzar dipukuli hingga pingsan, tubuhnya berlumuran darah. Abbas bin Abdul Muthalib turun tangan menyelamatkannya.

"Celaka kalian! Kalian hendak membunuh seorang lelaki dari Ghifar, padahal jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati wilayah mereka!" ujar Abbas.

Ancaman terhadap ekonomi membuat mereka berhenti. Esoknya, Abu Dzar kembali melakukan hal yang sama, dan sekali lagi diselamatkan oleh Abbas.

Akhirnya ia menerima nasihat Nabi agar kembali ke kaumnya hingga membuka babak baru dalam penyebaran Islam di luar Makkah. Karenanya ia melewatkan beberapa peperangan bersama Nabi. Namun di kemudian hari, ia ikut perang akhir Nabi di Perang Tabuk, lalu menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis dan Perang Yarmuk bersama Umar bin Khattab.

Abu Dzar memulai dakwah dengan mengajak keluarganya sendiri. Anis, akhirnya menerima Islam, disusul oleh ibu mereka. Dari lingkaran inti keluarga, ajakan itu meluas ke klan Ghifar di lembah Waddan. Separuh suku segera masuk Islam sebelum Nabi hijrah ke Madinah, dan sisanya, mulai dari klan Aslam, Muzaina, dan Juhaina, masuk Islam setelah Nabi tiba di Madinah.

Rasulullah lalu mendoakan lewat sabdanya, "Semoga Allah menyelamatkan suku Aslam, dan semoga Allah mengampuni suku Ghifar." (Shahih Bukhari hadis No. 3514 hal. 868)

Di Madinah, Abu Dzar kemudian menjadi pelayan pribadi Nabi. Riwayat menggambarkan kedekatan mereka, di mana Abu Dzar sering diajak berboncengan di atas unta Nabi, berbincang hingga larut malam tentang rahasia wahyu.

Kesalehan dan kezuhudannya diakui Nabi yang menegaskan, "Tidak ada seorang pun di bawah langit dan di atas bumi yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar." (Sunan at-Tirmidzi hadis No. 4154 hal. 531)

Dalam riwayat lain Nabi bersabda, "Barang siapa ingin melihat kezuhudan Isa bin Maryam, maka lihatlah kepada Abu Dzar." (Sunan at-Tirmidzi hadis No. 4154 hal. 532)

Namun, sifatnya yang keras dan idealis kerap dipandang menyusahkan dirinya sendiri. Ini terbukti dalam Perang Tabuk. Ketika untanya tak sanggup melanjutkan perjalanan, ia tidak membiarkan alasan itu menghalanginya menyusul Rasulullah. Abu Dzar lalu memikul barang-barangnya sendiri dan berjalan kaki di tengah panas gurun.

"Wahai Rasulullah, Abu Dzar tertinggal," ujar para sahabat.

"Biarkan dia. Jika padanya ada kebaikan, Allah akan menyusulkannya kepada kalian. Jika tidak, Allah telah membebaskan kalian darinya," jawab Nabi.

Dari kejauhan, sosoknya terlihat menyusul pasukan. "Itu Abu Dzar!" ujar sahabat lain. (Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir Jilid 7 hal. 158-159)

Nabi lalu bersabda, "Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, ia akan mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian."

Selain zuhud, keilmuan Abu Dzar juga banyak diakui. Banyak hadis diriwayatkan darinya, seperti Abu Sarihah al-Ghifari, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas, Muawiyah bin Hudaiy, dan lainnya. Salah satu hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkannya dan paling masyhur adalah tentang manfaat Salat Duha.

"Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.”

Konflik di Masa Kekhalifahan Utsman

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ekspansi Islam ke Syam dan Persia membawa kemakmuran besar. Tetapi bagi Abu Dzar, kemakmuran itu justru ancaman yang dapat mengikis iman dan tauhid. Di Damaskus, ia menyaksikan Muawiyah bin Abi Sufyan membangun istana Al-Khadra dan gaya hidup elite Umayyah. (Tarikh Madinah Damasyq Jilid 66 hal.174)

"Jika bangunan ini dari harta Allah, maka itu pengkhianatan; dan jika dari hartamu sendiri, maka itu pemborosan," tuturnya kepada Muawiyah.

Ia juga menjadikan Surat At-Taubah ayat 34 sebagai senjata kritik, menuntut agar harta berlebih dibagikan kepada fakir miskin.

"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih."

Namun Muawiyah berargumen ayat itu hanya berlaku bagi Ahli Kitab, lalu Abu Dzar menegaskan, "Ayat ini turun untuk mereka dan juga untuk kita." (Kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, Jilid 4, 170)

Ketika Muawiyah mencoba meredamnya dengan hadiah, Abu Dzar menolaknya. Konflik semakin panas. Muawiyah menuduh Abu Dzar pengganggu stabilitas, sehingga melaporkannya kepada Khalifah Utsman.

"Sesungguhnya Abu Dzar telah merusak masyarakat Syam," tulis Muawiyah kepada Utsman.

Abu Dzar dipanggil ke Madinah dan ditawari tempat tinggal yang juga ditolaknya. Ia lalu memilih meninggalkan Madinah dan menetap di Rabadzah, wilayah tandus yang tak layak huni.

Kematian yang Dinubuatkan

Di Rabadzah, Abu Dzar menjalani hidup dalam kemiskinan. Ia menolak segala bentuk bantuan, tetap teguh pada prinsip asketisme hingga akhir hayat. Hanya beberapa ekor kambing dan seorang pelayan yang menemaninya di padang tandus itu. Menjelang wafat pada tahun 32 Hijriah, tubuhnya lemah dan kondisi fisiknya sangat memprihatinkan.

Diriwayatkan Al-Hakim Naisyaburi dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shaḥiḥain, dialog terakhir dengan keluarganya saat ia sekarat, istri dan anaknya menangis karena tidak memiliki kain kafan untuk jenazahnya.

Abu Dzar menenangkannya, "Jangan menangis. Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada sekelompok orang, salah satunya aku: 'Seseorang dari kalian akan meninggal dunia di suatu tanah yang sunyi, dan akan dihadiri oleh sekelompok kaum mukminin'. Dan demi Allah, akulah orang itu."

Ia melanjutkan, "Maka pergilah ke jalan, dan lihatlah siapa yang datang."

Beberapa waktu kemudian, sebuah kafilah dari Kufah yang dipimpin Abdullah bin Mas’ud melintas. Mereka menemukan tubuh Abu Dzar yang terbujur di tepi jalan. Ibnu Mas’ud mengenali wajah sahabatnya, menangis tersedu, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya.

Karena kemiskinan yang ekstrem, jenazah Abu Dzar akhirnya dikafani dengan kain milik seorang pemuda dari rombongan itu. Nubuwah Nabi pun terpenuhi.

"Abu Dzar, engkau berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian."

Baca juga artikel terkait SAHABAT NABI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi