tirto.id - Matahari pada pertengahan hari Tasyrik di Lembah Uranah, Arafat, siang itu terasa begitu terik. Di atas punggung unta Al-Qaswa, seorang lelaki berusia 62 tahun menatap lautan manusia yang memutih oleh kain ihram di hadapannya. Sosok pria berkharisma itu tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.
Hari itu, di depan lebih dari 100 ribu pasang mata, sebuah kalimat meluncur dari lisan suci Rasulullah. Sang Utusan Allah mengucapkan rangkaian kata yang sontak membuat dada para sahabat dan semua orang di tempat itu seolah bergemuruh menahan sesak.
“Dengarkanlah pesanku baik-baik. Aku akan menyampaikan kepadamu satu keterangan (sebagai wasiat), karena sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini di tempatku berdiri (sekarang) ini.”
Sebagaimana dicatat oleh Abdul Hasan 'Ali Al-Hasan An-Nadawi dalam Sirah Nabawiah: Menelusuri Jejak Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad (2025), riak-riak firasat langsung menjalar di antara para sahabat.
Kalimat Nabi Muhammad yang disampaikan di Arafah pada 9 Zulhijah tahun 10 Hijriah (632 Masehi) dalam rangkaian Haji Wada’ itu bukan sekadar pidato pembukaan. Itu adalah sebuah tanda-tanda pamit, sebuah permulaan dari perpisahan yang abadi.
Turunnya Ayat Penutup Kerasulan
Perjalanan ibadah yang dimulai dari Madinah itu kelak tertanam dalam sejarah dengan banyak nama: Haji Islam, Haji Al-Balagh (penyampaian), Haji Tamam (kesempurnaan), dan yang paling menyayat hati adalah Haji Wada’ alias haji perpisahan.
Bagi umat Islam, momen tersebut setara dengan seribu khotbah. Langkah demi langkah rombongan besar ini bergerak dari Madinah, melintasi Al-Arj, Abwa', hingga lembah Usfan di Sarf, dengan kalimat Talbiyah yang terus berdengung membelah gurun.
Tepat pada Minggu pagi tanggal 4 Zulhijah 10 Hijriah (1 Maret 632 Masehi), Nabi Muhammad beserta rombongan memasuki Kota Makkah. Ketika bayangan Ka'bah menyapa mata, Rasulullah langsung menengadahkan tangan, memanjatkan doa:
"Ya Allah, tambahkan kehormatan, keagungan, kemuliaan dan kewibawaan untuk Rumah-Mu ini. Allahumma Antas salam, waminkas salam, hayyina Rabbana bissalam..."
Dalam sunyinya Makkah pagi itu, Nabi Muhammad mengecup Hajar Aswad, melakukan tawaf dengan berlari kecil, dan menunaikan salat dua rakaat di Maqam Ibrahim.
Melalui momentum inilah, seperti yang diriwayatkan Ibnu Ishaq, Rasulullah memperlihatkan langsung kepada umatnya bagaimana manasik haji yang sesungguhnya dijalankan.
Puncaknya terjadi saat wukuf di Arafah. Di bawah hamparan langit yang mempesona, Allah menurunkan Surah Al-Maidah ayat 3, yang ternyata merupakan wahyu terakhir kepada Muhammad:
"...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu..."
Ayat itu adalah penutup tugas kerasulan. Ada rasa syukur karena Islam telah tegak dengan sempurna. Namun di sisi lain, jika tugas seorang utusan telah selesai, maka waktu kepulangannya kepada Sang Pencipta sudah berada di ambang pintu.
Wasiat Pungkasan Manifes Kemanusiaan
Wasiat di Lembah Uranah bukan sekadar ceramah biasa. Rasulullah memakai kekuatan retorika yang sangat menyentuh, tutur katanya memiliki gaya bahasa istimewa, sarat muatan pragmatik yang menyentuh jiwa.
Di balik untaian kalimat yang panjang, Khotbah Haji Wada’ sebenarnya adalah sebuah deklarasi panjang nan agung tentang kemanusiaan, keadilan sosial, hingga hak asasi manusia yang melampaui zamannya.
Rasulullah membuka khotbah dengan pernyataan pamit yang menggetarkan, bahwa waktu kebersamaannya dengan umat sudah hampir usai. Selanjutnya, ada banyak poin penting yang terucap dalam wasiat tersebut.
Dalam pesannya, Nabi Muhammad menyinggung tentang kesetaraan, diskriminasi wajib dihapuskan karena semua manusia sama di hadapan Allah. Kemuliaan hanya ditentukan oleh ketakwaan kepada Tuhan yang pemilik segalanya.
Ihwal hak asasi juga menjadi sorotan: menjamin kehormatan, jiwa, serta harta setiap muslim sebagai sesuatu yang suci. Sistem riba dan praktik balas dendam harus dihentikan, demikian penegasan dari sang utusan Tuhan.
Tak lupa, hak-hak perempuan dan keluarga pun diperhatikan. Menurut Rasul, wanita harus diperlakukan dengan dengan baik, lembut, serta tentunya penuh penghormatan.
Sebagai pedoman hidup, Rasulullah berwasiat kepada umat Islam untuk selalu berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah supaya terhindar dari kesesatan. Nabi Muhammad juga berpesan bahwa seluruh umat Islam adalah bersaudara dan dilarang saling menzalimi.
“Hendaklah mereka yang hadir hari ini menyampaikan pesan ini kepada mereka yang tidak hadir. Boleh jadi, orang yang menerima pesan ini secara tidak langsung justru lebih mampu menjaga dan mengamalkannya,” demikian Rasulullah menutup khotbah di tengah lembah itu.

Pengabdian Sempurna Sebelum Paripurna
Perjalanan pulang ke Madinah dari Makkah ternyata bukan perjuangan yang mudah. Sesampainya di Madinah, rombongan Haji Wada’ disambut mendung kesedihan karena kondisi Rasulullah yang semakin melemah.
Meskipun begitu, merangkum kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri yang dikutip dari terbitan ulang tahun 2014, Nabi Muhammad tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin umat.
Rasulullah bahkan sempat mempersiapkan pasukan besar untuk menghadapi tentara Romawi. Tanggal 26 Safar 11 Hijriah (24 Mei 632 M), Nabi Muhammad menunjuk Usamah bin Zaid –yang saat itu masih sangat muda– sebagai panglima tertinggi pasukan kaum Muslimin tersebut.
Di suatu malam jelang akhir bulan Safar, Rasulullah mengunjungi pemakaman Baqi' al-Gharqad untuk mendoakan para sahabat yang telah gugur. Sepulang dari sana, ia merasakan sakit kepala yang amat hebat disertai demam tinggi.
Kendati demikian, Rasulullah tetap memimpin salat di Masjid Nabawi selama kurang lebih 11 hari dalam masa sakitnya. Hingga kemudian, kondisi kesehatannya terus memburuk sampai tak mampu lagi berjalan ke masjid. Ia pun meminta Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggantikan posisinya sebagai imam salat Subuh berjamaah.
Dari balik tirai kamar, Rasulullah menyaksikan kaumnya sedang menjalankan salat dengan sang sahabat sekaligus mertuanya itu sebagai imam. Nabi Muhammad tersenyum bahagia melihat pemandangan tersebut.
Di dalam kamar yang tenang, di rumah yang bersahaja, saat dhuha menjelang siang, kepala sang rasul bersandar di pangkuan sang istri, Aisyah RA. Bibir Muhammad bergerak perlahan, lamat-lamat melafalkan kalimat terakhirnya:
"Allahummaghfir lii, warhamnii, wa alhiqnii bir-rafiiqil a'laa"
"Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, pertemukanlah aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi.”
Rasulullah mengembuskan napas terakhir pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau tanggal 8 Juni 632 Masehi dalam usia 63 tahun.
Semesta Islam seketika berduka, dan perjalanan ibadah ke Makkah yang baru lalu menjadi lembaran sejarah yang takkan pernah terulang: Wada’, haji pertama sekaligus salam perpisahan sang kekasih Allah.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































