Hikayat Ramadan

Riwayat Nabi Muhammad yang Mencintai dan Dicintai Bangsa Indonesia

Oleh: Fariz Alniezar - 18 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Muslim Indonesia mengagungkan Rasulullah dengan pelbagai pujian dan perayaan. Ada lima kitab pujian terhadap Rasulullah yang populer di Indonesia, salah satunya Barzanji.
tirto.id - Alkisah, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki mendampingi gurunya Syekh Ustman yang berziarah ke makam Rasulullah di Madinah. Ketika rombongan tengah khusyuk bermunajat dan bersalawat di depan makam Rasulullah, tiba-tiba Syekh Ustman dibuka mata batinnya sehingga kasyaf bertemu dengan Rasulullah yang tengah diikuti oleh beberapa kelompok manusia di belakangnya.

“Siapakah gerangan [orang-orang tersebut], ya Rasulullah?” tanya Syekh Ustman.

Dengan wajah teduh dan senyum merekah Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang dari sebuah bangsa yang sangat mencintaiku dan aku mencintainya.”

Jawaban itu semakin membuat penasaran Syekh Ustman, “Dari bangsa manakah mereka, ya Rasulullah?”

Senyum kembali mengembang dan Rasulullah menjawab, “Indonesia”.

Saat kembali tersadar, Syekh Ustman segera melontarkan pertanyaan kepada segenap rombongan yang mengikutinya.

“Adakah dari kalian di sini yang berasal dari Indonesia? Aku sangat mencintai Indonesia kerena Rasulullah mencintai mereka,” ungkapnya.

Cerita ini diriwayatkan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, seorang ulama kesohor yang kerap menyambangi Indonesia.

Soal ekspresi rasa cinta terhadap Rasulullah, orang-orang Indonesia memang tiada duanya. Ketulusannya tecermin dari menjamurnya pelbagai forum peringatan maulid Nabi Muhammad.

Di Indonesia, perayaan maulid Nabi bisa digelar saban minggu sepanjang tahun, tidak hanya pada bulan Rabi'ul Awal. Perayaan rasa cinta itu kemudian menjadi salah satu pemantik Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menulis Tahrij Ahadis Maulid Ibnu Dziba.

Di kitab mungil ini, ia tak hanya mengupas sanad dan matan hadis, tapi juga mengupas isu seputar hukum perayaan maulid Nabi yang sejak dulu dituduh oleh beberapa kalangan sebagai aktivitas bidah yang menyimpang dari ajaran Rasulullah.

Sayyid Muhammad mengulas secara argumentatif bahwa ekspresi kecintaan terhadap Rasulullah yang dirayakan melalui kegiatan-kegiatan pembacaan sirah, biografi, dan kasidah puji-pujian adalah perbuatan yang terpuji.

Salah satu argumen penting yang menjadi dasar diperkenankannya merayakan rasa cinta itu, adalah sikap Rasulullah yang mengekspresikan rasa syukur atas hari lahirnya dengan cara berpuasa di hari Senin. Juga ekspresi pamannya, Abu Lahab, yang memerdekakan budak bernama Suwaibah yang didorong kegembiraan atas kelahiran kemenakannya yang bernama Muhammad.

Kelak, ketika Muhammad sudah diangkat menjadi Rasul, Abu Lahab memang menjadi salah satu penentang utama agama yang dibawa oleh Muhammad. Bahkan namanya diabadikan menjadi salah satu nama surat di dalam Alquran. Abu Lahab menjadi penghuni neraka.

Namun, dari riwayat yang diceritakan oleh Abbas, saban hari Senin Allah meringankan siksa Abu Lahab. Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Tahrij Ahadis Maulid Ibnu Dziba (1985: 5), hal terebut disebabkan oleh ekspresi kegembiraannya dahulu ketika mendengar kabar kelahiran Rasulullah.

Kitab-Kitab dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Ada beberapa kitab yang populer dibaca secara massal di Indonesia untuk mengekpresikan rasa cinta kepada Rasulullah. Pertama, Kitab ‘Iqd Al-Jauhar Fi Mawlid An-Nabiy Al-Azhar karangan Syaikh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, seorang ulama yang berasal dari kora Barzan, Kurdistan. Kitab ini di Indonesia lebih populer dengan sebutan Maulid Al-Barzanji.

Kedua, Mukhtashar fi Sirah Nabawiyyah gubahan Imam Abdurrahman Ad-Dziba’i Asy-Syaibani. Ia merupakan ulama ahli hadis yang sangat tekun dan alim di bidang sejarah yang lahir di kota Zabid, Yaman. Banyak kalangan menyebut kitab ini dengan sebutan Maulid Dziba. Kitab ini tidak kalah populer dengan kitab Barzanji.

Ketiga, Simthut Durar yang dianggit oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husyain Al-Habsy. Konon Habib Ali hanya butuh waktu beberapa hari untuk merampungkan penulisannya.

Infografik Hikayat Puja Puji Rasulullah
Infografik Hikayat Puja Puji Rasulullah. tirto.id/Sabit


Keempat, Kasidah Burdah karya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Busyiri, seorang alim dari Alexandria yang hidup pada masa dinasti Ayyubiyah. Kitab ini berisi syair yang bernada puji-pujian terhadap Rasulullah.

Konon, Al-Busyiri yang menderita lumpuh karena strok, bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan meminta izin untuk membuatkan bait-bait pujian. Rasulullah memperkenankan. Beberapa waktu kemudian, ketika bait-bait pujian itu berhasil dirampungkan, Rasulullah mendatangi Al-Busyiri dalam mimpinya.

Al-Busyiri membacakan syair puji-pujian. Rasulullah tersenyum dan mengusap-usap bagian tubuh Al-Busyiri yang lumpuh. Keesokan harinya ketika terbangun, Al-Busyiri sudah bisa berjalan kembali.

Kelima, kitab Dhiyaul Lami’. Kitab ini dikarang oleh Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Syaikh Abu Bakar bin Salim. Ulama ini sampai sekarang masih sering berkunjung ke Indonesia. Ia mencatat rekor yang belum bisa ditandingi oleh pengarang lain yang menulis kitab pujian kepada Rasulullah. Ia merampungkan penulisan kitabnya dalam waktu tidak lebih dari enam jam.

Oleh sebagian kalangan di Indonesia, kitab-kitab yang berisi sanjungan dan pujian serta sejarah hidup Nabi tersebut bukan hanya dibaca, tapi juga dihafalkan

Melihat ekspresi rasa cinta dan juga ramainya majelis maulid Nabi di segenap pelosok Indonesia, tidak mengherankan jika Nabi Muhammad berdasarkan kisah yang diriwayatkan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, begitu mencintai bangsa ini.

==========

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan". Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alniezar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM.

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Irfan Teguh