Kronik Ramadan

Saat Nabi Muhammad Menaklukkan Mekkah tanpa Pertumpahan Darah

Penulis: Muhammad Iqbal, tirto.id - 26 Mei 2018 00:30 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Setelah gagal pada percobaan pertama untuk memasuki Mekkah, Nabi Muhammad akhirnya berhasil menaklukkan kota suci itu tahun berikutnya. Sebuah penaklukan tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah.
tirto.id - Setelah Nabi Muhammad berhasil memastikan kekuasaannya atas Madinah, ia mulai berkonsentrasi merebut Mekkah. Ia hendak mendatangi kota kelahirannya itu bukan sebagai rasul Allah, tapi sebagai peziarah yang berkunjung ke Kakbah.

Pada 628 M, setahun setelah Perang Parit, Nabi Muhammad tanpa diduga mengumumkan akan pergi ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Karena dia sedang dalam sengketa perang yang belum usai dengan penduduk Mekkah, tentu ini suatu keputusan yang tidak masuk akal.

Muhammad tidak peduli bagaimana kaum Quraisy dalam enam tahun terakhir berusaha keras membunuhnya—yang bisa jadi dengan mudah mereka lakukan saat dia dan pengikutnya melakukan tawaf. Namun, pendirian Muhammad tidak goyah. Dengan lebih dari seribu orang pengikut berbaris di belakangnya, dia mengarungi padang pasir menuju kota kelahirannya, sambil mengumandangkan puji-pujian pertanda kedatangan peziarah tanpa rasa takut di sepanjang jalan: "Labbayk Allahumma labbayk"—“Aku datang, Ya Allah, Aku datang!”

Kumandang puji-pujian Muhammad dan pengikutnya, tanpa senjata dan mengenakan pakaian haji, dan dengan lantang memberitahu kedatangan mereka kepada musuh, pasti kedengaran seperti lonceng kematian di Mekkah. Sesuatu yang tidak bisa dihindari pasti terjadi jika laki-laki ini memasuki kota suci tanpa reaksi apa pun.

Lantaran begitu panik dan bingung, kaum Quraisy segera mengadang Nabi Muhammad dan orang-orangnya sebelum mereka bisa memasuki kota Mekkah. Kedua pihak bertemu di pinggiran luar kota, di sebuah tempat bernama Hudaybiyah. Kaum Quraisy menawarkan gencatan senjata kepada Nabi Muhammad. Penawaran ini sangat bertentangan dengan apa yang diinginkan Nabi Muhammad dan bagi pengikutnya pasti kelihatan seperti suatu penghinaan.

Dalam bukunya, No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam (2005), Reza Aslan meneroka bahwa Perjanjian Hudaybiyah mengusulkan pembatalan ibadah haji Nabi Muhammad dan pengikutnya, dan segera kembali ke Madinah, serta penghentian tanpa syarat semua penyerangan kafilah di sekitar Mekkah. Sebagai gantinya, Nabi Muhammad diizinkan kembali lagi di musim haji tahun berikutnya dan Kakbah akan dikosongkan dari peziarah lain untuk sementara waktu sehingga dia dan pengikutnya bisa berhaji tanpa gangguan (hlm. 147-148).

Tidak cukup dengan pelecehan itu, Nabi Muhammad juga diminta menandatangani perjanjian dengan tidak menggunakan atribusi "rasul Allah", tetapi hanya sebagai kepala suku komunitasnya. Karena pengikut Nabi sangat menyadari posisi Muhammad yang sedang naik di seluruh Hijaz, perjanjian ini kelihatan tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, kepastian kejatuhan Mekkah segera terjadi. Barangkali inilah yang menyebabkan pengikut Nabi Muhammad, yang merasa kemenangan sudah di depan mata beberapa kilometer lagi dari tempat mereka berada, begitu kecewa saat Nabi menerima persyaratan perjanjian itu (hlm. 148).

Umar—yang cepat naik pitam—hampir meledak menahan kesabarannya. Dia bangun dan menemui Abu Bakr.

“Abu Bakr,” dia bertanya sambil menunjuk pada Muhammad, “tidakkah dia Rasul Allah?”

“Ya,” Abu Bakr menjawab.

“Dan tidakkah kita orang Muslim?”

“Ya.”

“Dan tidakkah mereka orang musyrik?’

“Ya”

Akhirnya Umar meledak marah, “Lantas, kenapa kita menerima saja apa yang akan merusak agama kita?”

Abu Bakr, yang mungkin merasa hal yang serupa, menjawab dengan kata-kata yang bisa menjadi penghiburannya: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.”

Muhammad al-Ghazali dalam Sejarah Perjalanan hidup Muhammad (2003) menyatakan, sulit mendedahkan mengapa Muhammad menerima Perjanjian Hudaybiyah ini. Bisa jadi dia punya rencana untuk menggalang kekuatannya kembali dan menunggu waktu yang pas untuk menaklukkan Mekkah secara paksa (hlm. 436).

Bisa jadi Nabi Muhammad juga menjalankan mandat Ilahi dan doktrin jihad untuk "memerangi mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah SWT; tetapi bila mereka berhenti, janganlah ada lagi permusuhan. Kecuali terhadap mereka yang melakukan kezaliman" (Q.S. 2: 193)

infografik kronik fathu mekkah

Menaklukkan Mekkah

Apa pun alasannya, keputusan menerima gencatan senjata dan kembali lagi ke Mekkah pada tahun berikutnya ternyata menjadi momen paling menentukan dalam permusuhan Mekkah versus Madinah. Saat penduduk Mekkah melihat rasa hormat dan pengabdian yang dimiliki musuh mereka, tampaknya sudah sedikit keinginan mereka untuk terus mendukung perang.

Faktanya, menurut Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time (2006), setahun setelah musim ziarah itu, pada 10 Ramadan, 8 Hijriah (630 M), dia kembali lagi bergerak menuju Mekkah. Kali ini dengan sepuluh ribu orang di belakangnya, hanya untuk menemukan penduduk kota menyambutnya dengan tangan terbuka (hlm. 184).

Setelah menerima penyerahan Mekkah, Muhammad menyatakan amnesti massal bagi sebagian besar musuh-musuhnya, termasuk orang-orang yang telah melawannya dalam pertempuran. Dengan hukum kesukuan yang berlaku, alih-alih kaum Quraisy menjadi budaknya, Nabi malah menyatakan bahwa semua penduduk Mekkah (termasuk semua budak) dibebaskan. Hanya enam pria dan empat perempuan yang dihukum mati karena alasan bermacam kejahatan yang pernah mereka lakukan, dan tak seorang pun dipaksa masuk agama Islam.

Semua orang Mekkah juga harus mengambil sumpah setia tidak akan berperang lagi melawan Nabi. Di antara orang Quraisy terakhir yang mengambil sumpah itu ada Abu Sufyan dan istrinya, Hindun. Saat secara resmi masuk Islam, mereka berdua bahkan tetap bangga dengan kepercayaannya terdahulu dan dengan terang-terangan menabalkan rasa jijik terhadap Muhammad dan “kepercayaannya nan picik” (hlm. 185-186).

Ketika semuanya selesai, Muhammad pun berjalan menuju Kakbah. Menurut Lesley Hazleton dalam The First Muslim: The Story of Muhammad (2013), dengan bantuan sepupu dan menantunya, Ali, Nabi Muhammad mengangkat tabir berat yang menutupi pintu Kakbah dan memasuki bagian dalamnya. Satu persatu, dia bawa berhala-berhala di dalam Kakbah ke hadapan kerumuman, mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala, lalu membantingnya ke tanah.

Berbagai berhala dewa dan nabi, seperti Ibrahim yang memegang tongkat magis, dihanyutkan dengan air Zamzam; semuanya, kecuali patung yang menggambarkan Isa dan ibunya, Maryam. Muhammad menaruh patung itu di tangannya dengan rasa hormat, sambil berkata, “Buang semuanya, kecuali yang ada di tanganku ini” (hlm. 287).

Sesaat kemudian, Muhammad membawa keluar berhala yang mewakili dewa utama Hubal. Abu Sufyan menyaksikannya. Nabi menghunus pedang dan menghancurkannya sampai berkeping-keping, mengakhiri penyembahan dewa pagan Mekkah untuk selamanya.

Pecahan patung berhala Hubal digunakan Nabi Muhammad sebagai anak tangga menuju pintu Kakbah yang sudah disucikan—bangunan kudus yang selanjutnya dikenal sebagai “Rumah Allah,” pusat keagamaan yang sepenuhnya baru dan universal: Islam.

====================

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang peristiwa dalam sejarah Islam dan dunia yang terjadi pada bulan suci kaum Muslim ini. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Kronik Ramadan". Kontributor kami, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar IAIN Palangkaraya, mengampu rubrik ini selama satu bulan penuh.

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2018 atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight