Polemik Rasa Khawatir kepada Mereka yang Berpuasa dan Bekerja

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 17 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Polemik soal kekhawatiran puasa terhadap aktivitas fisik yang berisiko pada orang lain sempat muncul di Denmark dan Jerman.
tirto.id - Saat periode Ramadan lalu masih berlangsung, Menteri imigrasi dan Integrasi Denmark, Inger Stojberg memicu perdebatan. Ia menulis kolom di media Denmark, BT pada 21 Mei 2018, soal penganut Islam yang berpuasa bisa berdampak buruk bagi banyak orang, dalam konteks pada pelayanan publik seperti sopir bus yang bekerja atau sektor lainnya.

“Anda harus mempertimbangkan apa risiko yang muncul bagi masyarakat ketika Anda berpuasa,” tulis Politikus parta liberal konservatif Denmark, Venstre itu.

Seperti biasa, Ramadan di Denmark, buruh tetap bekerja seperti biasa di antara mesin yang berbahaya dan jam kerja yang panjang. Transportasi umum seperti bus pada jam sibuk dikendalikan oleh mereka yang belum makan karena berpuasa. Rumah sakit yang tak berhenti menerima pasien seperti hari-hari di luar Ramadan.



“Dengan kata lain, Ramadhan memberi kita beberapa tantangan praktis, keamanan dan produktivitas dalam masyarakat modern,” kata Stojberg. “Ini bisa jadi hal buruk bagi kita semua jika sopir tidak makan dan minum sehari penuh. Tentu saja Anda tidak bisa melakukan hal yang sama di pabrik atau rumah sakit.”

Bagi Stojberg, agama memang masalah pribadi. Namun praktik keagamaan seperti puasa menyangkut masalah sosial. “Saya akan mendorong mereka (penganut Islam Denmark) untuk membuat hari libur Muslim di bulan Ramadhan agar tidak berdampak buruk bagi masyarakat Denmark lainnya,” katanya.

Pendapat Stojberg merambat ke Jerman. Seorang legislator dari Partai Alternatif untuk Jerman (AFD), Martin Sichert meminta Muslim yang berprofesi sebagai dokter, perawat, pilot, sopir bus, dan masinis dilarang bekerja bila mereka berpuasa saat Ramadan.

Sichert mendesak agar para pengusaha memaksa pekerjanya bisa mengambil sisa cuti tahunan selama Bulan Ramadan atau kala menjalani ibadah Ramadan.

“Pasien apa yang harus dioperasi oleh seorang ahli bedah yang tidak meminum apa pun selama 12 jam?” kata Sichert kepada Reuters. "Mengapa orang harus ditangani oleh orang lain yang mungkin menghadapi masalah konsentrasi dan dehidrasi karena mereka berpuasa selama berjam-jam?"

infografik kecelakaan saat ramadan


Puasa dan Kondisi Fisik

Komentar Stojberg memicu kritik dari pada pendukung Muslim dan imigran di Denmark. Poin yang mereka tangkap adalah Stojberg menganggap puasa Ramadan sebagai praktik keagamaan yang berisiko bagi banyak orang.

Kepada The New York Times, Natasha Al-Hariri, konsultan integrasi menganggap Stojberg tak sedang bertindak untuk memperkuat integrasi dan kohesi sosial warga Denmark. "Tapi dia melakukan yang sebaliknya: Dia menggerakkan debat tanpa berdasarkan angka, tidak ada statistik dan tidak ada anekdot," kata Al-Hariri.



Anggota Parlemen Denmark dari partai yang sama dengan Stojberg, Karen Ellemann kepada Associate Perss News menjelaskan, rapat internal partainya telah membahas pendapat Stojberg. Partai Venstre memutuskan itu bukanlah sikap resmi partai yang berujung pada advokasi hukum.

Mantan Menteri Kesetaraan dan Menteri Kerjasama Nordik itu mengungkapkan, orang-orang Partai Venstre memiliki hak untuk mendebat Stojberg. Politikus Venstre yang pertama kali mendebatnya ialah Jacob Jensen melalui akun Facebook. Baginya kekhawatiran Stojberg terkait kecelakaan di Ramadan akibat pekerja Muslim yang berpuasa tak memiliki statistik faktual.

Jensen meminta Stojberg mengacu pada data perusahaan transportasi utama di Denmark, Arriva. “Anda harus percaya Arriva, di mana sekitar setengah dari driver adalah Muslim,” tulis Jensen.

Humas Arriva, Pia Hammershoy Splittorff sempat meminta warga Denmark tetap tenang dan naik bus selama Ramadan yang sudah lewat lalu. Menurutnya tak satupun pengemudi yang berpuasa telah terlibat kecelakaan lalu lintas di Bulan Ramadan.

"Kami tidak pernah mengalami kecelakaan atau kecelakaan yang bisa dihubungkan dengan sopir yang berpuasa. Kami tidak pernah memiliki pengemudi puasa yang menjadi buruk. Jadi itu tidak masalah bagi kami, "katanya kepada BT.

Apa yang menjadi kekhawatiran Stojberg perlu pembuktian. Puasa memang identik dengan kondisi yang tak normal seperti biasanya terhadap kondisi fisik seseorang, khususnya atlet yang beraktivitas fisik yang intensif maupun orang kebanyakan.

Penelitian yang dilakukan Naim Mahroum, peneliti dari Universitas Genoa, Italia bersama 13 peneliti lainnya, dalam riset bertajuk, “Ramadan Fasting Exerts Immunomodulatory Effects: Insights from a Systematic Review” Mahroum dan rekannya merangkum penelitian dari 18 negara. Subjek yang mereka teliti berumur 15-70 tahun yang berpuasa antara 8-17 jam, termasuk para atlet. Salah satu poinnya adalah puasa memang bisa berdampak pada gangguan tidur, kekurangan energi, dan kelelahan akibat perubahan pola waktu makan dan tidur.



Dalam konteks United Arab Emirates (UAE), situs yang fokus soal kampanye keselamatan berkendara RoadSafetyUAE sempat mengimbau para pengendara dan pejalan kaki lebih berhati-hati pada waktu tertentu di Ramadan. Mereka pernah membeberkan puncak kecelakaan di jalan raya terjadi antara pukul 10-11 siang pada Ramadan.

Thomas Edelmann, Managing Director RoadSafetyUAE mengatakan hal itu disebabkan puasa di tengah musim panas. Kondisi musim panas bakal berdampak pada kondisi dehidrasi dan kelelahan yang berpengaruh pada konsentrasi, penglihatan, dan reaksi. Selain itu, aspek psikologis juga tak bisa dipungkiri, pada jam-jam tertentu orang cenderung terburu-buru jelang waktu berbuka puasa.

“Selain berpuasa, pola makan dan tidur yang tidak biasa dapat menyebabkan kelelahan, ketidaksabaran dan gangguan,” kata Edelman kepada Gulf News.

Namun, pada akhirnya belum ada yang bisa membuktikan soal aktivitas puasa berkaitan langsung dengan risiko kecelakaan. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

Baca juga artikel terkait RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Suhendra