10 Agustus 1511

Seratus Tahun Kejayaan Malaka Hancur Akibat Serangan Portugis

Ilustrasi mozaik Alfonso D'Albuquerque. tirto.id/Nauval
Oleh: Iswara N Raditya - 10 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kejatuhan Kesultanan Malaka oleh Portugis pada 1511 membuka masuknya kolonialisme oleh bangsa Eropa di Nusantara.
Pada pertengahan tahun 1511, sebanyak 17 hingga 18 kapal besar berbendera Portugis beramai-ramai menyusuri Laut Jawa dari Gowa menuju Semenanjung Malaya. Tidak kurang 1.200 orang turut serta dalam rombongan armada perang di bawah komando Alfonso de Albuquerque. Dalam beberapa pekan, tibalah orang-orang asing itu di Selat Malaka, dan pertempuran akan segera terjadi.

Tanggal 10 Agustus 1511, tepat hari ini 509 tahun silam, Portugis memulai serangannya ke Malaka. Di sisi lain, seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2008:43), Kesultanan Malaka justru sedang bergolak akibat perseteruan antara sang sultan, Mahmud Syah, dengan anaknya yang bernama Ahmad Syah.

Perangkat militer Malaka sejatinya tidak bisa dipandang enteng, mereka telah dilengkapi dengan persenjataan canggih, termasuk beberapa unit meriam. Tapi, rupanya Portugis memang lebih unggul, juga diuntungkan dengan polemik internal yang sedang melanda kubu lawan. Maka, pada 24 Agustus 1511, Portugis meraih kemenangan. Kesultanan Malaka yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun menyerah dan akhirnya musnah.


Serangan Majapahit Melahirkan Malaka

Berdirinya pemerintahan di Malaka tidak terlepas dari ekspansi Kerajaan Majapahit ke Tumasik pada 1398. Parameswara, penguasa kecil di wilayah yang kini bernama Singapura, terpaksa melarikan diri. Bersama para pengikutnya yang masih tersisa, Parameswara menyusuri pesisir Selat Malaka untuk menjauh dari orang-orang Majapahit.

Setelah menempuh jarak sekitar 250 kilometer, sampailah Parameswara ke suatu tempat di salah satu titik di tepian Selat Malaka. Di lokasi itulah didirikan kerajaan baru dengan nama Malaka (Melaka). Menurut Louise Levathes dalam When China Ruled the Seas: The Treasure Fleet of the Dragon Throne (2014), ia menjadi raja di sana dan bertakhta sejak 1405. Parameswara masih memiliki darah turunan dari Kerajaan Sriwijaya.

Parameswara semula adalah seorang penganut Hindu. Ia kemudian memeluk Islam seiring ramainya pelabuhan Malaka yang merupakan area transaksi kaum pedagang dari Arab dan Gujarat, juga dari wilayah mancanegara lain termasuk Cina. Setelah menjadi muslim, Parameswara lantas menyandang gelar Iskandar Syah sebagai penguasa Malaka.

Kendati telah memeluk Islam, namun Parameswara alias Iskandar Syah tidak menerapkan syariat Islam secara penuh dalam menjalankan pemerintahan di Malaka. A.J. Halimi dalam Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu (2008) menyebut bahwa hanya 40,9 persen undang-undang pemerintahan di Malaka yang sesuai dengan aturan Islam. Begitu pula untuk undang-undang laut. Dari 25 pasal, hanya 1 pasal saja yang mengikuti hukum Islam.


Kerajaan Islam Sahabat Cina

Ramainya pelabuhan atau bandar dagang di Malaka membuat tempat ini menjadi titik penting interaksi antarbangsa. Salah satu bangsa besar di dunia yang banyak berniaga di Malaka adalah orang-orang Cina. Dari situlah Malaka menjalin hubungan dan memiliki relasi yang cukup intim dengan Kekaisaran Cina di Tiongkok.

Tak lama setelah mendirikan pemerintahan di Malaka pada 1405, Parameswara atau Iskandar Syah mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk memohon pengakuan dari pemimpin Dinasti Ming saat itu, Kaisar Zhu Di (1402-1424). Sang kaisar pun memberikan pengakuan resmi dan dibalas dengan pengiriman upeti secara rutin oleh Malaka.

Bahkan pada tahun yang sama Iskandar Syah berlayar ke Cina untuk mengunjungi Kaisar Ming secara langsung. Tahun 1411, untuk kedua kalinya, ia pergi ke Tiongkok. Kali ini seperti dicatat Faridah Abdul Rashid dalam Research on the Early Malay Doctors 1900-1957 Malaya and Singapore (2012:61), ia ditemani sang permaisuri beserta rombongan yang berjumlah 450 orang.

Iskandar Syah memang membutuhkan Cina sebagai antisipasi apabila datang ancaman lagi dari Majapahit, atau dari kerajaan lainnya, termasuk Siam (Thailand). Dan, kekhawatiran Iskandar Syah itu memang pada akhirnya menjadi nyata.

Pada 1409, Malaka diserang Siam, namun datang bantuan dari Cina yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho sehingga keamanan Malaka tetap terjaga (Carl Vadivella Belle, Tragic Orphans: Indians in Malaysia, 2014:6). Sejak saat itu, para rival harus berpikir ulang jika ingin menyerang kerajaan Islam di Semenanjung Malaya tersebut.

Kemitraan antara Malaka dengan Kekaisaran Tiongkok berlangsung cukup lama. Ketika Parameswara atau Iskandar Syah wafat pada 1414, sang putra mahkota Megat Iskandar Syah menyampaikan kabar duka itu langsung di hadapan Kaisar Cina. Megat Iskandar Syah kemudian dinobatkan sebagai penguasa Malaka selanjutnya dan memimpin hingga 1424.


Korban Persaingan Dua Raksasa

Kedatangan Portugis ke Malaka yang akhirnya berbuah keruntuhan kerajaan Islam itu sebenarnya merupakan imbas dari persaingan dengan Cina. Portugis berambisi menguasai bandar dagang strategis di Malaka untuk menghentikan aktivitas niaga Cina sekaligus menyainginya.

Pelabuhan Malaka memang menggiurkan dan akan sangat bermanfaat jika bisa dikuasai. Berbagai komoditi berharga diperdagangkan di situ, seperti emas, timah, kapur, dan tentu saja rempah-rempah, terutama lada yang sangat laku di pasaran Eropa. Malaka pun muncul sebagai kekuatan utama dalam penguasaan jalur Selat Malaka, termasuk mengendalikan kedua pesisir yang mengapit selat itu (A.J. Halimi, 2008).

Raja Portugis saat itu, Manuel I (1495-1521), memang mengincar kota pelabuhan Malaka yang terletak di jalur dagang antara Tiongkok dan India (John Holland Rose, et.al., The Cambridge History of the British Empire Arthur Percival Newton, 1929:11). Misi perebutan Malaka merupakan bagian dari rencana besar Raja Manuel I demi memperluas pengaruh perdagangan Portugis untuk menandingi Cina yang menguasai pangsa perniagaan di Asia.




Ketika Portugis menghabisi Malaka pada 1511, Cina belum sempat membantu, tapi nantinya melakukan pembalasan. Tahun 1520, Kerajaan Portugis mengirimkan utusannya bernama Tome Pires ke Beijing untuk berunding. Namun yang terjadi justru Pires dibui hingga tewas (Kenneth S. Latourette, The Chinese, Their History and Culture, 1964:235).

Sebanyak 23 orang yang turut dalam rombongan Portugis tersebut dihukum mati, sedangkan puluhan orang lainnya disiksa di penjara. Tak hanya itu, Tiongkok juga menghabisi orang-orang Portugis yang ada di wilayahnya, termasuk di Ningbo dan Quanzhou (Ernest S. Dodge, Islands and Empires: Western Impact on the Pacific and East Asia, 1976:226).

Nigel Cameron (1976:143) dalam Barbarians and Mandarins: Thirteen Centuries of Western Travelers in China menyebut bahwa tindakan keras Cina itu dipicu oleh pemberitahuan dari Malaka bahwa Portugis menerapkan siasat licik untuk menyerang Malaka, yakni semula hanya ingin berdagang, tapi kemudian justru menyerang dengan mengerahkan ribuan pasukan.

Malaka yang selama satu abad sejak awal berdirinya menuai kejayaan, terutama dalam perekonomian dan perdagangan akhirnya dihancurkan Portugis pada 1511. Kendati demikian, ambisi Portugis yang ingin menguasai Malaka ternyata tidak sepenuhnya sukses. Keruntuhan Malaka justru memantik kemunculan beberapa kerajaan lokal lainnya yang cukup merepotkan Portugis, seperti Johor, Aceh Darussalam, serta Banten.

Tak hanya itu, serangan Portugis terhadap Malaka juga telah memicu bangsa-bangsa Eropa lainnya, termasuk Inggris, Belanda, juga Spanyol, berbondong-bondong datang ke Nusantara. Situasi ini semakin mempersulit Portugis untuk mewujudkan ambisi besarnya dan akhirnya justru terlempar dari persaingan.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 10 Agustus 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight