Permusuhan Raja Jawa dengan Anaknya Sendiri

Oleh: Petrik Matanasi - 9 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Pakubuwana XIII digugat oleh putranya sendiri. Ini bukan cerita baru, namun kerap terjadi dalam sejarah Jawa.
tirto.id - Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono (PB) XIII, digugat oleh anaknya sendiri. GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan BRM Aditya Soerya Herbanu, dua orang anak raja, mengajukan gugatan terhadap Paku Buwono XIII. Kasus gugatan perdata itu kemudian disidangkan di pengadilan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Abdul Rauf.

Gugatan perdata itu dipicu oleh keputusan Pakubuwono XIII membentuk Tim Lima. Dilaporkan oleh Antara, Para penggugat mengkhawatirkan hal itu akan menghambat pencairan dana untuk pembayaran gaji abdi dalem dan upacara adat.

Arif Sahudi, salah satu kuasa hukum penggugat, mengatakan bahwa tindakan Pakubuwana XIII membuat keraton kehilangan kepercayaan dari instansi pemerintah terkait dengan tidak diberikannya anggaran dengan perincian gaji/upah terhadap 514 orang abdi dalem senilai Rp900 juta dan bantuan upacara adat senilai Rp200 juta, sehingga total kerugian mencapai Rp1,1 miliar.

Perseteruan antara raja dan anak-anaknya bukanlah cerita asing dalam sejarah kekuasaan Jawa. Apa yang terjadi dengan Pakubuwana XIII dan anak-anaknya masih terhitung mendingan. Ada beberapa cerita perseteruan anak-bapak dalam sejarah kekuasaan yang berakhir dengan pertumpahan darah.

Amangkurat I yang Cemburu pada Putranya

Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah Raja Besar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Pahlawan Nasional ini dua kali menyerang maskapai dagang VOC Belanda di Batavia, meski gagal. Sepeninggalnya, Mataram mulai suram. Penggantinya adalah Raden Mas Sayidin, yang dikenal sebagai Amangkurat I. Banyak sejarawan nasionalis menyebut para pengganti Sultan Agung adalah raja-raja lemah, karena berdamai bahkan tunduk pada VOC Belanda.

“Amangkurat I, segera setelah naik tahta, langsung mengikat perdamaian dengan Kompeni (VOC). Meneruskan perang sudah tidak ada gunanya,” tulis Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008). Persehabatan itu membuatnya memperoleh banyak senjata, berlian dan barang lainnya dari VOC. Sebaliknya, kepada VOC, Amangkurat I kirimkan kayu dan beras.

Sebagai raja yang tinggal di keraton, hidup Amangkurat I tak jauh dari perempuan. Dunia laki-laki di keraton tak jauh dari harta, tahta dan tentu saja perempuan. Soal perempuan, kebanyakan raja punya selir banyak. Menurut Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia (2006), punya lebih dari 40 selir. Selain selir tentu saja, Ratu Kulon putri Pangeran Pekik dari Surabaya sebagai permaisurinya.

Soal perempuan, Marle Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008) menulis, “Tahun 1637, ketika masih berstatus Putra Mahkota, dia telah terlibat skandal yang melibatkan istri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna. Setelah naik tahta, di tahun 1647, Wiraguna diutus ke Jawa bagian ujung timur, seolah mengusir pasukan dari Bali, di sana juga Wiraguna terbunuh.”

Dari rahim Ratu Kulon, Amangkurat I punya anak: Raden Mas Rahmat. Karena Ratu Kulon meninggal dunia, sedari kecil Raden Mas Rahmat tinggal di Surabaya bersama Pangeran Pekik, kakeknya, yang teramat sayang padanya. Ratu Kulon jelas bukan satu-satunya perempuan dalam hidup Amangkurat I. Ada Ratu Malang, selir kesayangannya. Sebelum jadi selirnya, perempuan ini adalah istri seorang dalang. Ketika Ratu Malang meninggal dunia pada 1667, konon karena diracun, dengan penuh syak wasangka 40 selir lainnya dibunuh. Ia curiga kematian itu dipicu oleh rasa cemburu para selir.

Kehilangan Ratu Malang, membuat punggawa sang raja berkelana mencari pengganti Ratu Malang. Ditemukanlah gadis belia bernama Rara Oyi di daerah sekitar Surabaya. Namun ia belum cukup umur. Ki Mangunjaya, ayahnya, merelakan anaknya untuk dijadikan selir raja. Menurut G Moedjanto dalam Konsep Kekuasaan Jawa dan Penerapannya oleh Raja-raja Mataram (1987), kala itu, orangtua akan senang jika anaknya jadi selir bangsawan, apalagi raja.

“Karena masih kecil, perawan itu dititipkan kepada satu keluarga bangsawan,” tulis Parakitri. Menurut Hermanus Johannes de Graaf, dalam bukunya Runtuhnya Istana Mataram (1987), Rara Oyi dititipkan ke pembesar setempat, Tumenggung Wirareja.

Belum sempat memetik Rara Oyi sebagai selirnya, Raden Mas Rahmat yang sudah jadi Putra Mahkota Mataram bertemu gadis yang beranjak dewasa. Kecantikannya membuat Putra Mahkota mabuk kepayang. Pangeran Pekik tahu apa yang dirasakan cucunya. Dia tak tinggal diam atas apa yang dirasakan cucunya. Dia mempertemukan cucunya dengan Rara Oyi yang sedianya akan dijadikan selir mantunya.

Mengetahui hal itu, Amangkurat I marah besar. Tanpa ampun dia perintahkan kaki-tangannya untuk menghabisi Pangeran Pekik dan keluarganya. Yang terbunuh bukan hanya Pekik dan keluarganya saja, namun juga para pendukung Pekik. Surabaya banjir darah.

Infografik Amangkurat

Dendam Sang Putra Mahkota

Putra Mahkotanya kemudian hidup di bawah pengawasan ayahnya dan nyaris tak diampuni. Sang raja paranoid itu pun menyuruh Raden Mas Rahmat untuk menghabisi Rara Oyi dengan tangannya sendiri. Kedudukan Raden Mas Rakmat sebagai putra mahkota bahkan terancam. Hanya itu caranya mendapatkan pengampunan ayahnya.

Ketimbang cintanya, si putra mahkota itu lebih memilih nyawanya. Meski begitu, putra mahkota begitu dendam pada ayahnya sendiri. Diam-diam, dia bersekutu dengan Raden Kajoran dan Trunajaya dari Madura. Trunajaya, belakangan bertemu orang-orang Makassar yang dipimpin Karaeng Galesong. Persekutuan Madura-Makassar itu kemudian menjadi gerakan pemberontakan yang tak bisa diatasi Amangkurat I.

Dalam sebuah serbuan orang-orang Madura ke pusat pemerintahan Mataram di Plered, Amangkurat I tak mampu bertahan. Ia melarikan diri ke arah barat dan meninggal di Tegalarum pada 1677 dalam status sebagai pelarian. Setelahnya, atas restu VOC, Raden Mas Rahmat naik tahta sebagai Amangkurat II. Pada akhirnya, Amangkurat II sendiri yang menghabisi Trunojoyo sekutunya dulu, lagi-lagi dengan bantuan VOC.

Cerita permusuhan Bapak-Anak di Keraton tak hanya terjadi di Mataram. Di Banten, ada permusuhan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya Sultan Haji. Mereka berebut tahta. Si anak bersekutu dengan VOC juga untuk merealisasikan kehendaknya. Dan sang ayah, karena melawan putranya yang didukung VOC, kemudian menjadi Pahlawan Nasional juga.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS