Menuju konten utama
Gearbox

Legenda Suzuki Truntung Bermula dari Kebun Cengkih di Manado

Popularitas Suzuki Truntung mula-mula dari daerah pergunungan di Manado. Produksinya berhenti pada 1984 seiring kemunculan Carry ST100 atau Carry Bagong.

Legenda Suzuki Truntung Bermula dari Kebun Cengkih di Manado
Suzuki Truntung. FOTO/WIkipedia

tirto.id - Tahunnya 1995. Suharto masih berkuasa. Es krim merek Woody, Miami, dan Campina masih dijual keliling untuk menyaingi Walls. Film seri Satria Baja Hitam menghiasi Minggu sore anak-anak Indonesia, dan kaus bertuliskan "Nirvana" masih jamak dikenakan kawula muda kendati Cobain telah mengakhiri hidup setahun sebelumnya.

Tahunnya 1995. Dan ketika itu saya, bersama dua sepupu yang lebih muda, berangkat ke sekolah saban hari dengan sebuah mobil pikap. Mobil itu kecil, tak punya moncong, dan berkelir abu-abu tua. Saya dan kedua adik sepupu duduk di kabin depan bersama seorang paman yang memegang kemudi. Dua bibi saya, ibu dari kedua adik sepupu itu, naik di bak belakang.

Saya tidak tahu mobil macam apa yang saya tumpangi itu. Yang jelas, salah satu sepupu saya, yang ketika itu masih berusia sekitar 4 tahun, menyebutnya "runtung". Maklum, lidah anak-anak. Di sisi lain, saya tahu persis bahwa paman saya menyebut mobil pikap mungil itu dengan sebutan "truntung". Dan selama bertahun-tahun, begitulah saya mengingat mobil tersebut: mobil truntung.

Lambat laun, seiring bertambahnya usia, saya mulai paham bahwa mobil truntung itu adalah sebuah pikap keluaran Suzuki. Di saat bersamaan, saya juga mulai mengerti bahwa sebutan "truntung" bukan sebutan lokal belaka. Ternyata, seluruh Indonesia sepakat untuk menyebutnya demikian; sama seperti bagaimana orang kita menjuluki Kijang generasi pertama dan kedua dengan sebutan Kijang Buaya dan Kijang Doyok.

Bagi saya, Suzuki Truntung adalah bagian dari memori inti yang takkan pernah bisa terlupakan. Saya masih ingat persis betapa sempitnya kabin mobil itu diisi seorang dewasa dan tiga bocah kecil. Saya masih ingat aroma oli samping yang sesekali menyeruak masuk ke dalam kabin. Akan tetapi, satu hal yang tidak pernah saya ketahui sampai sekarang adalah bagaimana nasib mobil tersebut setelah keluarga saya pindah ke Ibu Kota.

Berawal dari Perkebunan Cengkih

Nama resminya adalah Suzuki ST20, dan ia adalah pikap generasi kedua yang diluncurkan Suzuki di Indonesia. Ia muncul sebagai penerus yang lebih matang dan bertenaga ketimbang pendahulunya, ST10.

ST10 datang ke Indonesia sebagai kendaraan CBU pada 1976. Mobil ini dilengkapi mesin 2-tak berkapasitas 350 cc. Menurut katalog Tokyo Motor Show 1976 yang diterbitkan oleh Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), pada Oktober tahun itu ST10 memiliki dua varian di pasaran: satu dengan bak berlapis FRP (fiberglass reinforced plastic) dan satu lagi versi panel van.

Sayangnya, ST10 tidak mendapat sambutan hangat di Tanah Air. Oleh karena itu, Suzuki Indomobil Motor, selaku ATPM Suzuki di Indonesia, memutuskan untuk menghadirkan ST20 yang punya kapasitas mesin lebih besar, 550 cc, dan sudah memiliki tiga silinder di dapur pacunya.

Selain peningkatan tenaga, ST20 juga berukuran sedikit lebih besar dibanding ST10. Menurut katalog JAMA tadi, dimensi ST20 dua sentimeter lebih lebar dan 16 sentimeter lebih panjang dibanding ST10.

Suzuki ST20 dengan mesin 2-tak 3 silinder berpendingin cairan dengan kubikasi 550 cc tadi mampu menghasilkan torsi maksimal 54 N⋅m pada 3.000 rpm. Mobil ini dibekali transmisi manual 4-percepatan dengan sistem pengapian karburator dan platina. Adapun, daya yang dihasilkan mesin berkode LJ50 tersebut mencapai 30 tenaga kuda.

Yang membuat mesin ST20 berbeda dari kebanyakan mobil adalah sistem pelumasannya yang menggunakan oli samping dari campuran bensin dan oli, persis seperti motor 2-tak atau Vespa lawas. Itulah sumber aroma khas yang selalu diingat siapa pun yang pernah menumpang atau memiliki Truntung. Oli samping yang ikut terbakar bersama bahan bakar, menghasilkan kepulan asap putih tipis yang menjadi ciri khas mesin 2-tak.

Suzuki Truntung

Suzuki Truntung. FOTO/WIkipedia

Julukan "truntung" lahir begitu saja dari mulut ke mulut. Nama itu berasal dari onomatopoeia (peniruan bunyi) mesin 2-taknya yang terdengar seperti “trun tung.. tung.. tung.. truntung.. tung.. tung". Tidak ada rapat direksi, tidak ada konsultansi dengan agensi, tidak ada keputusan pemasaran untuk pemberian julukan tersebut. Nama itu lahir dari lisan masyarakat, lalu melekat selamanya.

Bagi Suzuki, Truntung bisa dikatakan sebagai mobil yang mengubah arah bisnis jenama asal Hamamatsu, Shizuoka, tersebut di Indonesia. Soebronto Laras, Presiden Komisaris PT Indomobil Sukses International, menuturkan bahwa popularitas ST20 justru berawal dari perkebunan cengkih di Manado.

Soebronto, yang gemar balap reli, turun langsung untuk membuktikan kemampuan ST20 di hadapan para petani. "Jadi Manado pada waktu itu sedang panen cengkeh, uang petaninya itu banyak sekali. Dan waktu kami ke sana bawa ini bersama seniornya Suzuki saat itu, Mr. Nakanishi, saya demonstrasikan bagaimana Suzuki Carry ST20 ini bisa bawa 1 ton cengkih dari bawah ke puncak gunung," kenang Soebronto.

Para petani terkejut. Pikap sekecil itu mampu mendaki jalur pergunungan dengan beban 1 ton di baknya. Awalnya hanya 10 unit ST20 yang dibawa ke Manado. Setelah demonstrasi, permintaan untuk pikap tersebut terus berkembang hingga terjual sebanyak 1.500 unit. Setelah itu, barulah ST20 masuk ke Pulau Jawa.

Di Pulau Jawa, kota-kota seperti Sukabumi, Cirebon, Kuningan, dan Semarang menjadi yang pertama menikmati kehadiran ST20. Keempat kawasan itu sama-sama memiliki area pergunungan dan memang dari sinilah legenda ST20 bermula. Mesin 2-taknya begitu gacor melahap medan terjal sehingga cocok digunakan di area berkontur pergunungan.

Namun, kesuksesan ST20 tidak berhenti di ladang cengkeh. Soebronto meyakini bahwa basis pikap ST20 memudahkan pemiliknya mengubah fungsi dari angkutan barang menjadi angkutan orang. Tanpa karoseri khusus, cukup pasang kanopi di atas bak, tambahkan enam kursi (tiga di kiri, tiga di kanan), ditambah satu di sisi pengemudi, dan jadilah angkutan tujuh penumpang. Dari sinilah, menurut Soebronto, konsep angkutan kota atau angkot bermula di Indonesia.

ST20 diproduksi dari tahun 1977 hingga 1984. Pada 1983, Suzuki melakukan pembaruan dengan melahirkan Suzuki Carry ST100, yang kemudian dikenal sebagai Carry Extra atau "Carry Bagong" karena lampunya yang membulat. ST20 pun pensiun tak lama setelah itu, meski kehadirannya di jalanan Indonesia masih bertahan jauh melampaui masa produksinya.

Pasar Pehobi dan Kolektor

Meski sudah tak seramai dulu, ST20 Truntung masih beredar di kalangan para pehobi dan kolektor. Harga pasaran ST20 saat ini bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta tergantung kondisi. Bahkan sebuah unit pernah ditawar hingga Rp84 juta saat Jambore Suzuki 2019, namun pemiliknya menolak karena masih ingin mempertahankannya. Di pasar daring, beberapa unit masih bisa ditemukan dengan harga mulai Rp13 juta hingga Rp26 juta, tergantung kondisi dan kelengkapan surat-suratnya.

Salah satu alasan mengapa orang masih mau merawat ST20 adalah karena perawatan yang mudah. Seorang anggota komunitas ST20 Club Indonesia bernama Hari mengatakan bahwa perawatan mobil ini tidak sulit karena mesinnya sederhana dan tidak perlu oli mesin, hanya oli samping. Ia bahkan mengklaim mobilnya masih sanggup menempuh perjalanan Jakarta–Yogyakarta tanpa kendala berarti, meski usianya telah lebih dari 45 tahun.

Meski begitu, saat ini, ada satu komponen yang diakui cukup sulit dicari yaitu Reed Valve, atau yang dikenal sebagai "harmonika". Komponen ini adalah membran pada mesin 2-tak yang berfungsi mengatur masukan bahan bakar ke dalam bak engkol. Ukurannya berbeda dari Reed Valve milik motor 2-tak, sehingga tidak bisa saling menggantikan. Di luar itu, suku cadang lain relatif masih bisa ditemukan di pasaran onderdil bekas.

Kini, puluhan tahun setelah ST20 terakhir keluar dari lini produksi, Truntung hidup dalam dua dunia sekaligus. Ia masih eksis secara fisik dan dirawat oleh para kolektor, tetapi juga terus bertahan dalam kenangan orang-orang yang pernah merasakan sensasi mengendarai atau menumpangnya.

Ia bukan kendaraan niaga biasa, melainkan bukti bahwa produk yang berkualitas, seketinggalan zaman apa pun, akan terus menemukan cara untuk bertahan melawan gilasan roda zaman.

Baca juga artikel terkait MOBIL SUZUKI atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi