tirto.id - Sejak pertama kali hadir di Indonesia pada dekade 1970-an, Yamaha identik dengan dua hal: alat musik dan sepeda motor. Mereka awalnya berdiri sebagai produsen piano, lalu mulai memproduksi sepeda motor sejak dekade 1950-an.
Memang ada produk-produk lain yang diproduksi dan diciptakan oleh Yamaha, mulai dari mesin tempel serbaguna (biasanya untuk perahu dan alat-alat pertanian), genset, sampai pompa air. Namun, karena peruntukannya terbatas, produk-produk ini barangkali tidak sepopuler alat musik dan sepeda motor.
Kendati demikian, keberadaan produk-produk macam mesin tempel dan pompa air itu sebenarnya punya arti penting bagi Yamaha. Sebab, produk-produk itu menunjukkan bahwa mereka punya kapabilitas dalam menciptakan mesin. Bukan cuma mesin sepeda motor, tetapi mesin apa pun. Bahkan, di situs web resminya, bisa dilihat betapa kayanya khazanah permesinan mereka, sampai-sampai mesin kursi roda pun mereka produksi.
Dari sini, terlihat bahwa Yamaha adalah perusahaan serbabisa dan, umumnya, pabrikan-pabrikan Jepang memang beroperasi dengan cara serupa. Mitsubishi punya produk pesawat tempur, Kawasaki memproduksi kapal tanker, dan Honda belum lama ini bahkan melakukan uji coba roket.
Meski demikian, ada satu jenis produk yang mampu diproduksi Yamaha dengan baik, tetapi produk tersebut justru dipasarkan di bawah panji jenama lain, sehingga kemampuan mereka di situ jadi jarang terdengar. Produk yang dimaksud adalah mesin mobil.
Kecanggihan Yamaha dalam Ragam Kerja sama
Yamaha dan mobil. Ya, ini memang terdengar aneh. Akan tetapi, kenyataannya, sejak dekade 1960-an, pabrikan yang didirikan pada 1887 oleh Torakusu Yamaha ini memang sudah aktif terlibat dalam pengembangan mesin untuk kendaraan roda empat. Bahkan, klien mereka bukan cuma sesama perusahaan Jepang, tetapi juga perusahaan Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Kiprah Yamaha di dunia roda empat bermula dari sebuah penasaran. Pada September 1959, dua insinyur Yamaha, Chikara Yasukawa dan Shun Ono, diberangkatkan ke Eropa dan AS untuk melakukan riset selama kurang lebih satu setengah bulan. Misi mereka sederhana: mencari tahu produk apa yang sebaiknya dikembangkan oleh perusahaan.
Saat misi ini berlangsung, Yamaha sudah mulai bermain di dunia otomotif. Pada 1955, mereka sukses merilis sepeda motor pertamanya yang diberi nama YA-1. Fokus Yasukawa dan Ono ketika itu bukan untuk mengembangkan bisnis alat musik, melainkan otomotif.
Dalam cerita perjalanan yang ditulis Yasukawa dan dimuat dalam situs web resmi Yamaha, disebutkan bahwa ide untuk terjun ke segmen roda empat datang dari Yasukawa, khususnya setelah menyaksikan produksi mobil-mobil sport mewah milik Porsche, Mercedes-Benz, dan Pininfarina (rumah desain langganan Ferrari). Yasukawa mengusulkan agar Yamaha memulai kiprahnya di segmen roda empat dengan memproduksi mobil sport karena, menurutnya, skala produksi mobil jenis tersebut masih bisa ditangani oleh Yamaha saat itu.
Singkat cerita, dari perjalanan itu lahirlah Yasukawa Research Lab, sebuah divisi riset kecil yang mulai mengerjakan purwarupa mobil sport pertama buatan Jepang. Yang membuat divisi ini istimewa adalah keberhasilan mereka membangun mesin DOHC (Double Overhead Camshaft), sebuah teknologi mesin berperforma tinggi yang masih langka di dunia kala itu, dengan bahan aluminium sepenuhnya. Purwarupa pertama mereka yang bernama YX-30, selesai pada akhir 1960 dan berhasil mencapai kecepatan 144 km/jam dalam uji coba awal.
Sayangnya, proyek ini tidak berjalan mulus. Berbagai kegagalan teknis, pembengkakan anggaran, hingga kondisi bisnis yang memburuk memaksa lab tersebut dibubarkan pada 1962. Mimpi membuat mobil pun, bagi Yamaha, tampaknya sudah tamat.
Namun, nasib rupanya masih berpihak pada mereka. Hasil karya berupa mesin DOHC itu tidak sia-sia. Beberapa tahun kemudian, Toyota datang mengetuk pintu. Kala itu Toyota sedang berencana membangun sebuah mobil sport kelas dunia dan mereka butuh mitra pihak ketiga yang bisa bekerja cepat. Di situlah kemudian mesin DOHC buatan Yamaha menemukan rumahnya. Pada 1964, Yamaha dan Toyota resmi meneken kontrak kerja sama.
Hasilnya adalah Toyota 2000GT, salah satu mobil sport paling ikonik yang pernah lahir dari Jepang dan bisa dikatakan sebagai supercar pertama Negeri Matahari Terbit. Dalam pengembangan Toyota 2000GT, Yamaha bertanggung jawab atas peningkatan performa mesin, rekayasa sasis, dan bahkan produksi fisik kendaraan. Tiap unitnya dibangun di pabrik Yamaha di Iwata, dengan kecepatan produksi delapan mobil per bulan. Selama empat tahun, 337 unit berhasil diproduksi.
Toyota 2000GT membuktikan bahwa kapabilitas mekanis Yamaha memang istimewa. Mobil itu sempat memecahkan tiga rekor dunia dan tiga belas rekor internasional di sirkuit Yatabe. Tak pelak, reputasi mobil ini pun mendunia, sampai-sampai digunakan sebagai kendaraan James Bond dalam film You Only Live Twice (1967). Sebuah capaian monumental bagi sebuah pabrikan yang belum pernah sama sekali membuat mobil sebelumnya.

Kesuksesan GT2000 pun membuat Toyota semakin percaya diri menggandeng Yamaha. Pada 1983, Yamaha berperan penting membuat mesin yang digunakan di banyak sekali mobil Toyota, mulai dari AE86 Sprinter Trueno, Celica, MR2, hingga Corona dan Corolla. Mesin yang dimaksud adalah 4A-GE, sebuah mesin empat silinder dengan empat katup per silinder. Yamaha berperan dalam pengembangan katup silindernya.
Mengapa mesin itu jadi pencapaian penting? Sebab, penggunaan empat katup per silinder ketika itu adalah sesuatu yang masih langka. Umumnya, mesin-mesin kala itu hanya punya dua katup per silinder. Dengan punya empat katup per silinder, mesin jadi lebih bertenaga, irit bahan bakar, dan lebih responsif. Tak heran apabila mesin ini dipertahankan hingga lima generasi pengembangan sampai tahun 1995.
Dari sana, kerja sama terus berlanjut. Yamaha membantu pengembangan mesin 3S-GE (digunakan di mobil-mobil seperti Celica, RAV4, hingga Camry), lalu 2ZZ-GE (digunakan untuk MR2, Corolla, sampai Wish), hingga akhirnya mesin V10 bernama 1LR-GUE yang diperuntukkan bagi brand premium milik Toyota, Lexus.
Secara khusus, mesin 1LR-GUE tersebut digunakan oleh mobil berperforma tinggi Lexus LFA yang mampu menghasilkan 552 hp pada 8.700 rpm. Peran spesial Yamaha di mesin Lexus itu adalah bagaimana mereka melakukan kalibrasi akustik agar suara mesinnya terdengar sempurna di telinga pengemudi, tanpa rekayasa elektronik tambahan.
Selain dengan Toyota, Yamaha juga menjalin kerja sama dengan Ford Motor Company. Pada 1984, sebuah perjanjian kerja sama diteken kedua belah pihak dan lahirlah sebuah mesin berperforma tinggi bernama SHO (Super High Output). Mesin ini merupakan mesin V6 3.000 cc DOHC 24 katup yang mampu menghasilkan tenaga hingga 220 hp dan digunakan untuk mempersenjatai Ford Taurus SHO. Tak seperti sebelumnya saat bekerja sama dengan Toyota, kali ini Yamaha benar-benar mengembangkan dan memproduksinya sendiri.
Kerja sama lainnya adalah dengan pabrikan asal Swedia, Volvo. Premis dari kerja sama ini menarik karena Volvo ingin memiliki mesin V8 bertenaga besar untuk mobil premiumnya. Akan tetapi, sebagaimana yang terkenal dari Volvo, yang jadi pertimbangan utamanya adalah keselamatan.
Biasanya, mesin V8 dipasang secara membujur. Sementara, Volvo ingin mesin V8 yang bisa dipasang secara melintang agar tidak menghantam kabin penumpang saat terjadi benturan dari arah depan. Tantangan tersebut dijawab Yamaha dengan mesin V8 4.400 cc berkode B8444S. Yang spesial dari mesin ini adalah sudut antarsilindernya tidak 90 derajat seperti mesin V8 pada umumnya, melainkan 60 derajat, sehingga ukurannya lebih kompak dan bisa dipasang melintang.
Sama seperti mesin yang digunakan Ford, mesin untuk Volvo ini juga dirancang dan dibangun secara mandiri oleh Yamaha. Mesin V8 pertama dalam sejarah Volvo itu kemudian dipasang pada SUV XC90 dan sedan S80. Belakangan, mesin ini juga diadopsi oleh pabrikan kecil asal Inggris, Noble Automotive, untuk mengembangkan supercar M600 yang dipasangi twin-turbo sehingga tenaganya melonjak jadi 650 hp.
Selain itu, ada satu kolaborasi lain yang dilakukan Yamaha dengan pabrikan asal Jerman, Audi. Kolaborasi ini menarik karena awalnya Yamaha terinspirasi terjun ke dunia mobil setelah berkunjung ke markas Porsche dan kini Porsche adalah bagian dari Audi.
Kali ini, Yamaha tidak memproduksi mesin, melainkan sistem suspensi bernama REAS (Relative Absorber System). Para insinyur Yamaha awalnya diam-diam memasang sistem ini ke sebuah sedan Audi A4 tanpa sepengetahuan atasannya. Namun, ternyata hasilnya mengesankan. Akhirnya, setelah diuji berkali-kali di sirkuit Nürburgring, sistem ini diadopsi Audi RS6 yang dijuluki "Porsche empat pintu". Awalnya terinspirasi oleh Porsche, Yamaha akhirnya bisa "membuat Porsche-nya sendiri".
Kiprah Yamaha di F1
Bicara kiprah Yamaha di dunia roda empat, tak lengkap jika belum bercerita soal sepak terjang mereka di ajang balap Formula One (F1). Perlu diketahui, Toyota adalah salah satu pemegang saham di Yamaha. Akan tetapi, Yamaha yang notabene bukan produsen mobil, malah lebih dulu terjun di F1 dibanding Toyota. Yamaha masuk F1 pada 1989, sementara Toyota baru masuk tahun 2002.
Yamaha mulai membangun mesin mobil balap sendiri sejak 1984. Mesin OX66 V6 mereka memenangi debutnya di Kejuaraan F2 Jepang pada 1986, dan pada 1989, mereka resmi masuk Formula 1 sebagai penyuplai mesin, bermitra dengan tim Zakspeed.
Meski debut di F1 tidak berjalan mulus, Yamaha tidak menyerah. Mereka kembali pada 1991 dengan mesin V12 OX99 yang disuplai ke tim Brabham, lalu berlanjut ke Jordan dan Tyrrell. Selama delapan tahun berkompetisi, mesin Yamaha tampil dalam 116 balapan. Mereka memang tidak pernah memenangi satu balapan pun. Akan tetapi, pada Grand Prix Hongaria 1997, Damon Hill dari tim Arrows sempat hampir memenangi balapan sebelum akhirnya gagal finis karena perkara teknis.
Sebagai buah sampingan dari program F1 itu, Yamaha sempat membangun purwarupa supercar bernama OX99-11 pada 1992. Mobil itu menggunakan mesin V12 F1 yang tenaganya dikebiri menjadi 400 dk dan dikemas dalam sasis serat karbon dengan posisi duduk pengemudi di tengah seperti mobil balap. Akan tetapi, proyek ini ditutup karena ditaksir harga jual per mobil bisa mencapai 800 ribu dolar AS dan itu dinilai terlalu mahal. Total, hanya ada tiga unit yang sempat diproduksi.

Menakar Ceruk dan Kemampuan
Dari semua informasi tentang kiprah Yamaha di dunia roda empat, sebetulnya bisa disimpulkan bahwa pabrikan ini lebih dari sekadar mampu untuk membuat mobil. Pertanyaannya, mengapa tidak mereka lakukan?
Sebetulnya Yamaha bukan tidak pernah menunjukkan upaya serius. Pada 2013, 2015, dan 2017, misalnya, Yamaha memamerkan tiga mobil konsep berturut-turut di Tokyo Motor Show, mulai dari city car Motiv.e, mobil sport Sports Ride, hingga pikap elektrik Cross Hub. Semua mobil itu merupakan hasil kolaborasi Yamaha dengan desainer F1, Gordon Murray.
Akan tetapi, sejak 2015 pun wacana Yamaha terjun ke dunia mobil, meski sudah memamerkan concept car, sudah ditampik CEO-nya kala itu, Hiroyuki Yanagi. Ketika ditanya apakah Yamaha bakal memproduksi mobil dalam jangka waktu menengah, Yanagi menjawab singkat, "Tidak, kurasa tidak."
Empat tahun berselang, keputusan itu dikonfirmasi secara resmi dengan lebih tegas lagi. Juru bicara Yamaha menyatakan bahwa mobil bukan lagi bagian dari rencana jangka panjang perusahaan, karena mereka tidak menemukan cara untuk membuat kendaraan yang benar-benar menonjol di tengah persaingan yang sangat ketat.
Faktanya, industri otomotif memang kejam. Dibutuhkan investasi raksasa, jaringan distribusi global, layanan purna jual, dan persaingan harga yang brutal untuk bisa merengkuh kesuksesan. Ketimbang memikirkan itu semua, Yamaha tampaknya memilih menjadi otak di balik layar dengan menyuplai teknologi, merancang mesin, dan memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan orang lain.
Dan pilihan itu, sepertinya, bukan pilihan yang buruk. Saat ini Yamaha sedang mengembangkan motor listrik berperforma tinggi untuk generasi berikutnya. Divisi motorsport Subaru (STI) pun telah menggandeng Yamaha untuk unit motor listrik bagi hyper-EV masa depan. Bahkan, JAXA (badan antariksa Jepang) sudah memesan motor listrik Yamaha untuk sistem propulsi pesawat hybrid.
Pada akhirnya, bisa dibilang bahwa Yamaha sudah berada di posisi yang cukup nyaman. Mereka tahu persis di mana letak keahlian sekaligus keterbatasan. Alat musik, sepeda motor, dan mesin-mesin lainnya akan tetap mereka seriusi. Namun, untuk mobil, tanpa pesanan yang spesifik dari klien, rasanya Yamaha memang tidak akan pernah benar-benar terjun ke dunia itu secara penuh.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id































