16 Juni 1903

Sejarah Pasang Surut Bisnis Ford Motor Company

Ilustrasi mobil Ford. tirto.id/Nauval
Oleh: Dio Dananjaya - 16 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ford berinovasi dengan mengembangkan produksi mobil massal pada awal abad ke-20. Bertahan di abad ke-21 dengan efisiensi.
Jauh sebelum ada Elon Musk, industri otomotif memiliki Henry Ford. Seorang yang tak pernah puas mencoba hal baru. Sepanjang kariernya, di samping mendirikan salah satu pabrikan mobil terbesar di dunia, ia juga berkecimpung dalam bidang pembuatan kapal, konstruksi rumah, pertanian dan perkebunan, siaran radio, hingga penerbangan.

Ensiklopedia Britannica menuliskan, Henry Ford pertama kali membangun mobil eksperimental pertamanya di bengkel belakang rumah yang berlokasi di Detroit Amerika Serikat pada 1896. Kemudian pada 16 Juni 1903, tepat hari ini 117 tahun lalu, Ford Motor Company pun berdiri.

Model T yang hadir pada 1908, jadi produk Ford yang paling sukses pada saat itu. Produk ini awalnya sengaja dibuat Henry Ford sebagai transportasi praktis dan terjangkau bagi masyarakat. Model T cepat diterima karena ia terjangkau, serba guna, memiliki daya tahan baik, serta perawatan yang mudah.

Karena permintaan yang sangat besar, Ford mengembangkan metode produksi massal untuk mencukupi kebutuhannya. Maka pada 1911, ia mendirikan pabrik perakitan pertama di Missouri dan membuka pabrik luar negeri pertama di Manchester, Inggris.


Langkah Ford ini membuat Model T jadi mobil pertama di dunia yang melewati jalur assembly line. Sekaligus mengenalkan sistem produksi yang efisien kepada pabrikan di seluruh dunia. Untuk meningkatkan produktivitas, Ford juga menerapkan sistem upah buruh pabrik sebesar 5 dolar AS per hari untuk 8 jam kerja.

Pada 1914, sekitar 500 ribu lebih Model T laku di seluruh dunia. Demi mengejar permintaan, Ford pun menambah hingga lebih dari 20 fasilitas produksi dan perakitan yang tersebar di seluruh dunia. Pabrikan mobil ini juga berhasil mengakuisisi Lincoln Motor Company pada 1922, yang kemudian jadi merek mobil mewah Lincoln dan Continental milik Ford.

Semenjak itu, bisnis Ford makin maju dan berkembang. Selain Model T yang melegenda, Ford juga memproduksi sejumlah truk dan mobil sedan seperti Mustang yang jadi produk andalan berikutnya. Ford bahkan sempat mengakuisisi serta memiliki saham mayoritas sejumlah produsen mobil global seperti Jaguar, Aston Martin, Volvo, Land Rover, hingga Mazda.

Keluar dari Jepang dan Indonesia

Sayang resesi ekonomi dunia membuat bisnis Ford mengalami kemunduran. Cicit Henry Ford, Bill Ford yang menjabat sebagai Executive Chairman pun melakukan revitalisasi perusahaan pada 2005.

Ia mulai mengubah ukuran produknya yang terkenal besar, menghentikan penjualan model yang tidak efisien dan kurang menguntungkan, menutup 14 pabrik di seluruh dunia, serta memotong hampir 30 ribu pekerja. Ford juga mulai fokus terhadap pengembangan kompak SUV dan mulai melakukan eksperimen dengan teknologi hibrida.

Dengan kondisi pasar yang kurang menguntungkan, Ford mulai kesulitan untuk meningkatkan penjualan dan mempertahankan keuntungan. Di awal 2016, pabrikan asal Detroit ini pun mengumunkan untuk mundur dari pasar Jepang dan Indonesia.


Dilaporkan BBC, Ford disebut tak mampu menghadapi persaingan dengan merek-merek lokal. Tahun 2015, misalnya, Ford hanya berhasil menjual sekitar 5.000 unit di Negeri Matahari Terbit.

"Jepang adalah negara dengan ekonomi paling tertutup, paling berkembang secara mandiri, dengan jumlah merek-merek impor kurang dari 6 persen dari total pasar mobil baru tahunan Jepang," ujar juru bicara Ford Motor Company Neal McCarthy.

Sementara di Indonesia, Ford hanya mampu menguasai sekitar 1 persen pangsa pasar Tanah Air dengan penjualan sebanyak 6.100 unit pada 2015. Seluruh distributor di Indonesia dan impor mobil Ford pun mulai dihentikan pada tahun berikutnya. Kendati demikian, pelayanan servis dan garansi tetap akan dilayani dealer mereka.

"Kami telah mengumumkan keputusan bisnis yang sulit untuk mundur dari seluruh operasi kami di Indonesia pada paruh kedua tahun 2016. Hal ini termasuk menutup dealership Ford dan menghentikan penjualan dan impor resmi semua kendaraan Ford," kata Managing Director PT Ford Motor Indonesia, Bagus Susanto, seperti dikutip dari Detik.

Padahal, Ford diketahui telah beroperasi di Indonesia sejak 2002. Jaringan dealer serta brand image di Indonesia juga telah dibangun dengan susah payah. Banyak pihak yang menyayangkan kepergian Ford, termasuk para konsumen setianya.


Ford Hari Ini

Setelah mengetatkan ikat pinggang sejak beberapa tahun yang lalu, Ford mengurangi sekitar 800 pekerjanya sampai Agustus 2019. Rencana ini disebut termasuk dalam strategi revitalisasi tahap akhir.

Jim Hacket, CEO Ford Motor Company, kepada New York Times menyebutkan pemangkasan karyawan ini dapat menghemat keuangan perusahaan hingga 600 juta dolar AS atau sekitar Rp8,5 triliun. Sebagai catatan, pada 2018 Ford telah menghilangkan sekitar 1.500 pekerjanya di Amerika Serikat.

Hacket berujar, upaya pengurangan karyawan ini dilakukan untuk menghadapi penjualan yang melambat, terutama di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia.

Jessica Caldwell, seorang analis ekonomi di Edmunds, mengatakan Ford telah bergerak agresif dalam memangkas jumlah karyawan. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah perusahaan telah berhasil mengubah operasi dan budaya perusahaan.

"Saya pikir ada banyak pekerjaan dasar, tetapi mereka perlu menyusun strategi untuk menjadi perusahaan yang baru dan lebih efisien. Adapun perubahan besar, kami belum benar-benar melihatnya,” ujarnya, masih dari New York Times.

Meski sudah melakukan revitalisasi di beberapa bagian, Laporan keuangan tahunan Ford menunjukkan perusahaan belum berubah ke arah yang lebih baik. Mayoritas angka penjualan di beberapa pasar terbesar malah cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Penjualan wholesales Ford di Amerika Serikat pada 2016-2019, misalnya, secara berturut-turut mencatatkan angka 2,588 juta unit, 2,566 juta unit, dan 2,540 juta unit. Sementara di Amerika Utara, angka penjualan turun dari 3,019 juta unit ke level 2,967 juta unit, dan menjadi 2,920 juta unit.



Situasi yang sama juga terjadi di pasar Cina dan Asia Pasifik. Walau demikian, Ford mengalami sedikit raihan positif di pasar EU21 yang mencakup Inggris Raya, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Yunani, Hungaria, Irlandia, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Rumania, Rusia, Swedia, dan Swiss.

Di kawasan itu, distribusi mobil Ford dari pabrik ke dealer pada 2016 tercatat sebanyak 1,387 juta unit. Jumlahnya meningkat menjadi 1,429 juta unit tahun 2017, dan menjadi 1,439 juta unit pada 2018. Dilansir Auto News, para eksekutif Ford mengatakan, bisnis mereka di Eropa merupakan bisnis yang sehat.

Ford bahkan disebut menjadi pemimpin pasar kendaraan komersial di Eropa dan mencapai rekor penjualan pada 2018 berkat impor mobil Mustang generasi baru. Berbeda dengan keadaan di negara asalnya, Ford percaya pasar mereka di Eropa masih bisa diselamatkan dengan mobil-mobil tradisional seperti sedan maupun hatchback.

Padahal di Amerika Serikat, revitalisasi perusahaan membuat Ford menghentikan penjualan sedannya dan hanya menyisakan SUV, truk, serta beberapa mobil listrik. Meski begitu, strategi ini diprediksi masih sejalan dengan proyek masa depan perusahaan.

Seperti diketahui, Ford telah memiliki rencana aliansi dengan Volkswagen dalam pengembangan truk pikap, van komersial, dan kendaraan otonom. Perubahan strategi pemasaran ini diperlukan agar rencana mereka berjalan dengan baik.

Kini Ford masih sama seperti awal muncul: Selalu tak puas dan mencoba hal baru. Hal ini terus dilakukan oleh perusahaan guna menemukan sejumlah peluang, seperti ketika Ford berhasil memproduksi mobil dan menghadirkan Model T, produk yang mengubah nasib Henry Ford.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 16 Juni 2019 dengan judul "Pasang Surut 116 tahun Bisnis Ford Motor Company". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI OTOMOTIF atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight