tirto.id - "Segala puji bagi Allah yang telah membuat para Pasukan Salib tunggang langgang dengan menanggung kekalahan memalukan di tangan para mujahidin yang hanya memiliki sedikit sumber daya dibanding mereka. Kami, para mujahidin, telah memenangi perang dengan motor-motor Honda 125 yang harganya sekitar 700 dolar AS."
Kata-kata tersebut diletakkan di bagian kanan bawah dalam sebuah fitur yang diterbitkan di Azan, majalah berbahasa Inggris rilisan Taliban. Tidak ada keterangan soal waktu penerbitan majalah edisi itu. Akan tetapi, sejumlah media, termasuk di tanah air, sudah mengutip isinya sejak Desember 2013 silam.
Fitur tentang sepeda motor Honda tersebut tersebar dalam format digital. Dari tata letaknya, terindikasi bahwa fitur tersebut terdiri dari dua halaman penuh. Dengan latar berwarna hitam, fitur tersebut diberi judul "Steeds of War" (Tunggangan Perang). Di situ terdapat foto dua kombatan Taliban yang tengah menunggangi sepeda motor Honda berwarna merah.
Fitur majalah itu cukup sederhana, tetapi sangat informatif. Pengendara motor digambarkan mengenakan kaca mata hitam dan sarung tangan sebagai pelindung kala berkendara, plus sepucuk AK-47 untuk bertempur. Di belakangnya, kombatan lain membonceng dengan membawa peluncur roket yang misilnya terbungkus rapi di bagian samping motor.
Motor itu juga dilengkapi dengan crash bar yang melindungi bodi serta mesin saat motor jatuh. Menurut Azan, komponen itu juga bisa dimanfaatkan untuk mencantolkan barang-barang yang tidak cukup dimasukkan ke dalam tas samping di dekat amunisi cadangan.
Terakhir, fitur terpenting motor itu adalah pemutar MP3 yang diletakkan di dekat setang. Peranti khusus itu digunakan oleh para kombatan Taliban untuk mendengarkan murotal Al-Quran, nasyid, serta ceramah agama.
Sebenarnya, Taliban tidak menyebut secara khusus tipe motor Hondanya. Mereka cuma menuliskan bahwa motor itu berkapasitas mesin 125cc. Akan tetapi, dari bentuknya, serta menurut laporan militer Inggris yang berhasil menyita satu unit motor tersebut, Honda yang jadi andalan pasukan Taliban itu adalah Honda CG125.
Lahirnya "Motor Perang" Andalan Taliban
Honda CG125 lahir dari sebuah momen gegar budaya. Pada Mei 1974, dua karyawan Honda Jepang bernama Takeshi Inagaki dan Einosuke Miyachi bertolak dari negerinya untuk mengunjungi berbagai negara berkembang. Menurut catatan resmi Honda, mereka berdua sempat menyambangi Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Iran, serta Pakistan.
Misi Inagaki dan Miyachi sangat penting bagi Honda. Sebab, sejak awal dekade 1970-an mereka menyadari bahwa permintaan motor dari negara berkembang sangatlah tinggi. Akan tetapi, produk yang ditawarkan kala itu, mulai dari CS90, CB100, sampai S110, tidak pernah benar-benar sukses di pasaran. Honda menilai, mereka kurang memahami situasi di lapangan sehingga akhirnya memutuskan mengutus Inagaki dan Miyachi.
Di situlah gegar budaya itu terjadi. Inagaki terkejut melihat orang-orang dari negara-negara tersebut menggunakan motor untuk keperluan yang "tidak semestinya".
"Sangat normal untuk melihat seorang anak duduk di tangki, sementara istri si pengendara membonceng di belakang. Tak jarang motor bisa dinaiki sampai empat orang. Kemudian, orang-orang lainnya mengangkut sayur, ayam, sampai babi dengan sepeda motornya. Saya juga sempat melihat ada sepeda motor yang dipakai menarik gerobak," kenang Inagaki.
Selain soal penggunaan, cara para pengguna masa itu merawat motornya juga bikin Inagaki geleng-geleng kepala. Katanya, banyak orang tetap mengendarai motornya meski olinya sudah menggumpal, bahkan sampai rantainya putus. Menurut Honda, ketika itu, konsumen di negara berkembang hanya datang ke bengkel ketika motornya sudah tidak bisa menyala lagi lantaran konsep perawatan rutin masih asing bagi mereka.
Setelah melihat perilaku konsumen negara berkembang yang "menyiksa" sepeda motornya, Honda pun memutar otak. Mereka berniat membuat sepeda motor yang, pada dasarnya, tahan "siksaan".

Singkat cerita, lahirlah Honda CG. Semua aspek yang jadi catatan Inagaki benar-benar dipikirkan dan diaplikasikan, bahkan sampai desain tangki yang bisa dinaiki oleh anak-anak.
Honda CG awalnya dirilis dalam dua versi, yaitu CG110 dan CG125, pada Maret 1975. Thailand jadi negara pertama yang merasakan sepeda motor Honda "khusus negara berkembang" itu karena segala proses pengujian pun memang dilakukan di Bangkok. Dan, tentu saja, tak lama setelah itu CG sampai pula di Indonesia.
Sepintas, bentuknya mungkin agak sulit dibedakan dengan CB125. Namun, begitulah desain motor Jepang klasik yang, oleh sebuah majalah asal AS, diberi istilah Universal Japanese Motorcycle. Padahal, jika diperhatikan baik-baik, CG125 tampak berbeda.
Pertama, soal tangki bensin. Jika tangki CB125 lebih bulat, tangki milik CG125 lebih rata di bagian atasnya karena memang didesain supaya bisa dinaiki anak kecil.
Dari sisi mesin, CG125 menggunakan Overhead Valve (OHV), alih-alih Overhead Camshaft (OHC) seperti CB125. Pasa mesin OHV, posisi camshaft alias noken ada di area silinder, bukan di kepala silinder. Desain ini dibuat supaya ketika terlambat ganti oli, bearing pada noken tidak gampang kendur.
Dengan kemampuannya menahan "siksaan" itulah CG125 jadi sepeda motor populer. Di Indonesia, masa edar dan popularitasnya memang tidak lama, hanya tujuh tahun (1975—1982). Akan tetapi, di negara-negara lain, hingga kini pun sepeda motor seri tersebut masih diproduksi. Bahkan, desain dasarnya tak pernah berubah. Paling-paling, pembaruan hanya diberikan pada striping, desain knalpot, desain tangki, dan desain lampu belakang. Selebihnya, CG125 yang dijual pada 2026 masih terlihat mirip seperti CG125 keluaran 1975.
Selain soal ketangguhan, harga jadi keunggulan lain Honda CG125. Informasi dari Taliban di atas mengindikasikan, pada 2013, harga di Pakistan dan Afghanistan ada di kisaran 700 dolar AS. Pada Desember 2013, nilai tukar rupiah terhadap dolar ada di kisaran Rp12.000. Itu artinya, satu unit CG125, jika dirupiahkan, harganya cuma Rp8,4 juta!
Hingga kini pun harga sepeda motor tersebut masih bisa dibilang sangat, sangat murah, yaitu sekitar Rp14 juta. Sebagai perbandingan, motor Honda termurah di Indonesia adalah Honda Revo yang dibanderol Rp17,9 juta.
Honda CG125 andalan Taliban, yang dipuji habis-habisan lewat majalah Azan, kemungkinan besar merupakan buatan Honda Cina (Wuyang Honda) yang disuplai ke agen pemegang merek (APM) Honda di Pakistan, Atlas Honda.
Selain itu, Wuyang Honda juga mengirim CG125 ke Vietnam. Akan tetapi, versinya bisa dibilang sudah selangkah lebih maju karena telah dilengkapi dengan mesin injeksi. Harganya pun lebih tinggi; jika dirupiahkan, bisa melebihi Rp20 juta per unitnya.
Terlepas dari persebarannya, ia merupakan kepingan penting sejarah otomotif dunia, khususnya soal cara Honda mau bersusah payah mempelajari kebiasaan orang-orang di pasar negara berkembang dan akhirnya menciptakan produk yang dirasa paling pas.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































