tirto.id - Di Indonesia, motor Honda identik dengan produk-produk yang praktis dan mudah digunakan. Model yang populer dari jenama ini selalu berkisar pada jenis underbone atau bebek seperti Astrea dan Supra, atau skuter matik seperti Vario dan Beat. Namun, produk Honda pertama yang resmi dirakit di Indonesia sebetulnya adalah motor naked sport bike.
Motor Honda memang sudah hadir di Tanah Air sejak tahun 1961, dan model yang pertama kali datang adalah motor bebek, yakni Honda Super Cub C100 atau Honda Unyil. Akan tetapi, siapa yang mendatangkan sepeda motor tersebut sulit dilacak, yang jelas bukan PT Federal Motor yang di kemudian hari berubah menjadi PT Astra Honda Motor. Pasalnya, Federal Motor baru didirikan pada 1971.
Nah, Federal Motor inilah yang pertama kali merakit sepeda motor Honda di Indonesia. Ketika itu, mereka mengawali kiprahnya dengan merakit Honda S90Z, varian khusus Indonesia dari Honda S90 yang sebenarnya sudah disetop produksinya pada 1969. Honda S90Z dibekali dengan mesin 4-tak berkapasitas 90cc dan diproduksi sebanyak 1.500 unit pada tahun pertamanya di Indonesia.
Secara umum, Honda S90Z tidak terlalu populer di Indonesia. Jika dibandingkan dengan model bebek, ia jelas kalah jauh dalam hal popularitas. Selain itu, dalam segmen naked sport bike, Honda S90Z juga kalah pamor dari seri CB dan GL. Seri CB bahkan sampai tahun 2025 masih diproduksi dan dipasarkan.
Meski demikian, Honda S90Z (atau di Jepang hanya disebut S90) adalah bagian dari perjalanan Honda, khususnya, pada era di mana karakter dasar sepeda motor Jepang yang ringan, sederhana, dan mudah digunakan mulai terbentuk. Ketika kemudian diterapkan pada model berkapasitas mesin besar, seperti CB750, nilai-nilai itu ikut mengubah lanskap sepeda motor global. Di sini kita sedang bicara soal Universal Japanese Motorcycle (UJM).
Motor Serbabisa
Istilah UJM mungkin terdengar asing bagi konsumen Indonesia. Istilah ini lebih populer di negara seperti Amerika Serikat karena yang pertama kali menciptakan istilah tersebut adalah majalah Cycle Magazine yang berbasis di California.
Istilah ini lahir kurang lebih satu dekade sejak motor yang mengawali perjalanan UJM pertama kali diluncurkan, yakni Honda CB450 keluaran 1965. Ketika diluncurkan, CB450 merupakan motor Jepang paling ambisius dengan mesin 444cc parallel-twin DOHC. Selain karena merupakan motor Jepang ber-cc besar pertama, penggunaan teknologi DOHC, yang kala itu lebih identik dengan dunia balap, juga membuat motor tersebut selangkah lebih maju.
Selain itu, CB450 juga menggunakan horizontally split crankcase yang jauh lebih tahan kebocoran oli, sekaligus memberi jawaban atas kelemahan klasik motor-motor buatan Inggris. Ditambah dengan electric starter yang tidak lazim ditemukan pada motor besar era tersebut, CB450 menjadi statement penting dari Jepang atas bagaimana mereka memandang sepeda motor: lebih mudah digunakan, lebih sederhana, dan lebih bisa diandalkan.
Secara komersial, CB450 tidak begitu sukses. Akan tetapi, dari motor inilah cetak biru UJM lahir, yakni sebagai motor yang praktis, bisa diandalkan (termasuk dari segi performa), dan tidak rewel.
Sementara itu, motor yang benar-benar sukses menjadi pendobrak kemapanan ketika itu adalah Honda CB750 yang diluncurkan pada 1969. Mereka berpedoman pada filosofi yang diperkenalkan CB450, lantas melakukan penyempurnaan di sana-sini.
Dengan mesin empat silinder segaris yang dipasang melintang seperti di arena balap, CB750 menghadirkan pengalaman berkendara yang belum pernah ada sebelumnya pada motor produksi massal. Soal tenaga, jangan tanya karena motor ini mampu menyemburkan 67 hp. Namun, lebih dari itu, aspek khas Honda seperti pengendalian yang halus, penggunaan yang praktis, mesin yang bandel, dan kemudahan diproduksi akhirnya baru benar-benar terlihat.
Kehadiran CB750 di Amerika Serikat langsung menggoyang dominasi pabrikan-pabrikan tradisional macam Harley-Davidson serta jenama Britania seperti Triumph dan BSA. CB750 menawarkan performa yang lebih oke, bobot yang lebih ringan, fitur modern seperti rem cakram depan, dan harga yang jauh lebih kompetitif. Tinggal pencet starter, mesin menyala, motor pun langsung bisa di-gaspol.
Kesuksesan CB750 tidak ditanggapi secara pasif oleh Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki. Mereka pun turut merancang motor dengan formula serupa: mesin empat silinder segaris, sasis sederhana, posisi duduk tegak, dan bisa digunakan untuk keperluan apa pun. Kawasaki jadi yang pertama menyusul Honda dengan Z1-nya pada 1971, disusul Suzuki GS750 pada 1976, dan Yamaha XS Eleven pada 1978. Model-model inilah yang lantas disebut UJM.
Dengan cepat, keberadaan UJM mengangkat pamor dan prestise pabrikan-pabrikan Jepang. Minat konsumen Amerika Serikat, khususnya, atas motor Jepang meningkat drastis pada dekade 1970-an, karena motor-motor Jepang tersebut tidak cuma berperforma tinggi tetapi juga praktis dan tidak rewel. Selain itu, motor-motor juga multifungsi karena bisa digunakan untuk commuting, touring, maupun rekreasi biasa.
Jika dihitung-hitung, masa kejayaan UJM sebenarnya tidak bertahan lama. Namun, ini bukan berarti motor-motor tersebut gagal. Keberhasilan UJM membuat kepercayaan publik pada motor Jepang meningkat drastis dan, dari sana, lahirlah permintaan-permintaan yang lebih spesifik. Jika motor-motor UJM bisa digunakan untuk segala aktivitas, yang kemudian muncul adalah permintaan khusus untuk segmen sport, cruiser, dan lain-lain.

Akhirnya, pada dekade 1980-an, lahirlah motor-motor seperti Honda Gold Wing, Kawasaki Voyager, dan Yamaha Venture Royale untuk segmen touring jarak jauh. Lalu, pada segmen sport, muncullah Honda CB900F, Suzuki Katana, hingga Kawasaki GPZ900R. Sementara di segmen cruiser, dirilis motor-motor seperti Honda Shadow dan Yamaha Virago.
Lambat laun, UJM pun jadi merujuk pada sebuah era khusus, yaitu dekade 1970-an, ketika motor-motor Jepang dibuat dalam satu template yang sama, dan cara ini membuat mereka dipercaya sebagai produsen motor dunia kelas wahid.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Warna UJM di Indonesia
Secara resmi tidak pernah ada motor UJM yang masuk dan dipasarkan ke Indonesia. Untuk pasar Indonesia, motor-motor seperti CB750 dan Z1 memang kelewat besar dan terlalu mahal. Namun, bukan berarti spirit UJM tidak dirasakan konsumen Indonesia. Motor-motor bersasis sederhana dengan posisi berkendara tegak, desain naked yang simpel, dan multifungsi asal Jepang jelas mudah ditemukan di jalan-jalan Indonesia.
Honda, sekali lagi, jadi pelopor. Setelah menghadirkan CB100, CB125, CB175, dan CB200, mereka juga merilis seri GL, mulai dari GL100, GL Pro, GL Max, sampai GL200 alias Honda Tiger 2000. Motor-motor ini menawarkan karakter UJM yang sama seperti “saudara besarnya” di Amerika: mesin bandel, perawatan mudah, ergonomi nyaman, dan kemampuan digunakan untuk harian maupun touring ringan.
Kawasaki mengikuti langkah itu lewat KZ200 (yang di Indonesia populer sebagai Binter Merzy), sebuah UJM kecil yang sampai hari ini masih begitu dicintai berkat karakternya yang gagah dan khas anak muda era 1980-an. Pada era modern, Kawasaki juga memasarkan seri W175 yang dianggap sebagai titisan Binter Merzy, serta W230. Sementara itu, Suzuki punya Thunder 250 dan Thunder 125, sedangkan Yamaha memiliki Scorpio 225 dan XSR155.
Dengan kata lain, meski istilah UJM tidak populer di Indonesia, produk-produk yang membawa semangat UJM sebenarnya sudah lama hadir di Tanah Air. Bodi dan mesinnya memang lebih kecil karena menyesuaikan pasar dan kebutuhan, tetapi gaya dan semangatnya bisa dilacak sampai UJM edisi pertama sekalipun.
Berkaca pada pasar Indonesia, UJM sebenarnya masih memiliki tempat pada lanskap otomotif roda dua modern. Namun, bagaimana sebenarnya kiprah motor jenis ini dalam skala global?
Ternyata setali tiga uang. Menurut sebuah review dari Cycle World pada 2020, motor-motor seperti Honda CB1000R, Kawasaki Z900RS Cafe, dan Yamaha XSR900 dipandang sebagai UJM modern karena mereka membawa kembali spirit UJM dengan mesin lebih bertenaga, teknologi modern, dan kenyamanan berkendara yang pastinya jauh lebih baik.
Secara khusus, Kawasaki Z900RS dipuji sebagai sepeda motor paling UJM di antara para pesaingnya, terutama karena motor itu memang dibekali desain retro klasik yang membuatnya dengan mudah jadi buah bibir. Orang yang mengendarai motor itu akan terlihat seperti mengendarai motor klasik tetapi si pengendara bakal merasakan kenyamanan motor modern.
Di balik kebangkitan kembali UJM ini, ada semacam kerinduan atas sepeda motor serbabisa tengah segmentasi yang begitu terasa di industri otomotif roda dua. Meski demikian, saat ini UJM pun jadi satu segmen khusus yang "menengahi" segmen-segmen lainnya. Fungsinya memang universal, tetapi universalitas itu pun pada akhirnya terkungkung dalam segmentasi yang sama.
Terlepas dari itu, kebangkitan kembali tersebut sudah menunjukkan bahwa UJM memang tidak tergantikan. Sekali waktu ia boleh menghilang dari pasar, tetapi motor-motor ini selalu menemukan jalan untuk kembali.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































