Menuju konten utama
Gearbox

Grand dan Impressa, Kisah Dua jagoan Honda di Varian Astrea

Varian Astrea yang pernah dikeluarkan Honda bertujuan untuk memenuhi pasar motor bebek dengan fokus pada keandalan, efisiensi bahan bakar, dan fungsional.

Grand dan Impressa, Kisah Dua jagoan Honda di Varian Astrea
Astrea Impressa. FOTO/tangkapan layar TikTok /Astrea Grand

tirto.id - Suatu pagi, Basuki sedang asyik dengan burung kesayangannya saat suara mesin Honda Astrea Impressa milik Mandra memecah keheningan.

"Eh bebek, bebek baruku mau di bawa ke mana?" kata Basuki.

Mandra langsung sewot, "Enak aja ngaku-ngaku, ini motor baru gua!"

Cuplikan iklan itu menampilkan dialog yang relevan dengan sinetron Si Doel Anak Sekolahan (1993-2003) yang juga mereka bintangi. Pariwara Astrea Impressa yang dikendarai Mandra tidak terasa seperti produk iklan, melainkan seolah perpanjangan dari karakter mereka di dalam cerita.

Dari Lekuk Bulus hingga Garis Tegas Impressa

Kelahiran Honda Astrea Grand pada tahun 1991 menandai salah satu lompatan desain bagi Honda. Ia meninggalkan citra kaku dan kotak dari pendahulunya, Astrea Prima, dengan mengadopsi siluet yang lebih modern, membulat, dan aerodinamis.

Generasi awal (1991-1993) dikenal dengan julukan Grand Bulus atau "pantat monyet". Nama ini merujuk pada desain lampu belakangnya yang membulat dan menonjol, mirip cangkang kura-kura atau bulus. Model ini memiliki beberapa ciri khas: blok mesin yang dicat warna abu-abu, sayap (leg shield) berwarna putih, dan sepatbor depan yang polos tanpa reflektor.

Jantung dari Astrea Grand adalah mesin seri C100 berkapasitas 97,1 cc. Mesin 4-tak Single Over Head Camshaf (SOHC) berpendingin udara ini terkenal dengan dua hal utama: keandalan dan efisiensi bahan bakar.

Klaim pabrikan menyebutkan konsumsi BBM bisa mencapai 60 km/liter. Angka ini dikonfirmasi oleh pengujian Tabloid Otomotif pada September 1991 yang mencatatkan angka 60,2 km/liter. Dipadukan dengan transmisi rotari 4-percepatan yang mudah dioperasikan, motor ini menawarkan paket performa yang sangat sesuai untuk kebutuhan harian.

Honda juga menyematkan sejumlah detail untuk meningkatkan kenyamanan. Salah satu inovasinya adalah pijakan kaki pembonceng (foot step) yang terpisah dari lengan ayun (swing arm).

Desain tersebut efektif meredam getaran mesin agar tidak menjalar ke kaki penumpang, sebuah sentuhan kecil yang sangat berarti mengingat motor ini sering digunakan untuk berboncengan. Untuk pengereman, sistem tromol di kedua roda dianggap sudah memadai dan menjadi solusi yang efektif dari segi biaya untuk performa motor saat itu.

Memasuki tahun 1994, Astrea Grand mengalami penyegaran. Desain lampu belakangnya menjadi lebih pipih dan tajam, membuatnya mendapat julukan baru Grand Sabit. Perubahan lainnya termasuk warna blok mesin yang menjadi hitam dan penambahan reflektor di sepatbor depan, memberinya tampilan yang sedikit lebih modern.

Saat Honda Astrea Impressa diluncurkan pada 1997, ia bukanlah sebuah suksesor mekanis, melainkan sebuah langkah strategis untuk menyegarkan identitas produk yang sudah sukses.

Secara teknis, Impressa adalah kembaran dari Astrea Grand model akhir. Ia menggunakan platform mesin C100, sasis monokok, suspensi (teleskopik di depan dan lengan ayun di belakang), serta sistem pengereman tromol yang sama persis.

Astrea Grand

Deretan motor bebek era akhir 80-an hingga awal 90-an terpajang di salah satu sudut pada Otobursa Tumplek Blek 2018 di Kemayoran, Jakarta, Sabtu. (ANTARA News/Alviansyah P)

Walau suspensinya kurang empuk, banyak anak muda saat itu merasa Impressa lebih gaul dan cocok buat nongkrong. Fitur seperti speedometer digital dan lampu sein otomatis terasa sangat modern pada zamannya.

Perbedaan utama dan satu-satunya yang signifikan terletak pada aspek kosmetik, yaitu corak striping dan pilihan warna baru. Keputusan Honda untuk tidak mengubah jeroan Impressa bukanlah sebuah kemalasan, melainkan sebuah strategi bisnis.

Mereka telah menemukan formula untuk pasar Indonesia: mesin yang irit, perawatannya mudah, dan daya tahannya teruji. Mengubah platform mesin atau sasis secara drastis akan menambah biaya produksi, menaikkan harga jual, dan berisiko menimbulkan masalah baru yang bisa menggerus kepercayaan konsumen.

Produksi Berhenti, Unit Kian Diminati

Era keluarga Astrea berakhir pada awal tahun 2000-an, digantikan oleh seri Honda Supra dan Legenda yang pada awalnya masih berbagi basis mesin C100 sebelum akhirnya dikembangkan lebih lanjut.

Berhentinya produksi menjadi langkah awal transformasi menjadi salah satu motor klasik. Kini, tren merestorasi Astrea Grand dan Impressa kembali marak. Para penggemar berburu suku cadang orisinal demi mengembalikan motor ke kondisi semula, sebuah proses yang menantang dan tidak murah.

Biaya restorasi standar, seperti dilaporkan Kompas, bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta, belum termasuk harga unit motornya. Hal ini mendorong lonjakan nilai jual yang luar biasa.

Jika dulu motor ini adalah kendaraan fungsional, kini ia menjadi aset investasi. Unit bahan restorasi mungkin bisa didapat dengan harga beberapa juta rupiah, namun unit yang terawat baik atau kondisi New Old Stock (NOS) bisa mencapai harga fantastis.

Sebuah contoh ekstrem adalah Honda Black Astrea Impressa tahun 1997 dengan odometer hanya 3 km yang pernah ditawarkan seharga Rp 100 juta di Facebook.

Di balik kebangkitan Astrea, ada peran sentral dari komunitas-komunitas penggemar yang berdedikasi. Dalam kacamata sosiologi, seperti dikutip jurnal Universitas Airlangga, komunitas-komunitas ini merupakan wujud nyata dari modal sosial (social capital). Mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan jaringan vital tempat para anggota saling bertukar informasi, memperjualbelikan suku cadang orisinal, dan memberikan dukungan teknis, sumber daya yang krusial untuk merawat motor-motor tua ini.

Ikatan di antara anggota komunitas ini dapat dijelaskan dengan konsep solidaritas sosial, khususnya solidaritas mekanik yang lahir dari kesamaan nilai, pengalaman, dan hasrat yang sama.

Kegiatan rutin seperti kopdar (kopi darat) dan touring bersama bukan hanya aktivitas rekreasi, melainkan ritual yang memperkuat identitas kolektif dan rasa persaudaraan. Komunitas-komunitas ini secara efektif berfungsi sebagai arsip hidup yang terdesentralisasi, melestarikan pengetahuan teknis yang mungkin akan hilang seiring waktu.

Lebih dari itu, mereka juga menjadi kekuatan ekonomi. Harga sebuah Astrea klasik yang meroket tidak ditentukan oleh dealer atau pabrikan, melainkan divalidasi dan didorong oleh permintaan serta standar yang ditetapkan di dalam ekosistem komunitas.

Sebuah motor bisa dihargai sangat tinggi karena komunitas, melalui dedikasi kolektif terhadap orisinalitas dan sejarah, menganggapnya layak. Dengan demikian, komunitas tidak hanya merawat budaya Astrea, tetapi juga secara aktif membentuk nilai ekonominya di masa kini.

Baca juga artikel terkait MOTOR HONDA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi