tirto.id - Isu mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi perhatian publik dan turut memunculkan pertanyaan mengenai riwayat pendidikan yang ditempuhnya di Singapura. Di tengah perdebatan mengenai dokumen dan latar belakang pendidikan Gibran, sebagian masyarakat kemudian penasaran bagaimana sebenarnya sistem pendidikan di Singapura. Apakah sesederhana di Indonesia?
Pertanyaan menjadi penting dijawab karena sistem pendidikan Singapura memang menggunakan istilah dan struktur yang tidak sepenuhnya sama dengan Indonesia. Jika di Indonesia masyarakat sangat familiar dengan pola SD, SMP, SMA/SMK, lalu kuliah, Singapura mengenal jenjang seperti Primary School, Secondary School, dan Post-Secondary Education, dengan beberapa pilihan jalur setelah sekolah menengah.
Apakah Sistem Pendidikan Singapura Lebih Sederhana Daripada Indonesia?
Jika dilihat dari nama jenjangnya, sistem pendidikan Singapura memang terlihat lebih sederhana. Hanya saja, jika ditelusuri sampai pilihan jalur setelah sekolah dasar dan menengah, sistemnya justru cukup berlapis.
Di Indonesia, struktur dasarnya relatif mudah dikenali yakni PAUD/prasekolah/TK, SD atau sederajat, SMP atau sederajat, SMA/SMK atau sederajat, kemudian pendidikan tinggi. Pemerintah Indonesia saat ini juga menjalankan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup 1 tahun prasekolah, 6 tahun SD/sederajat, 3 tahun SMP/sederajat, dan 3 tahun SMA/SMK/sederajat.
Jadi, kalau disederhanakan, anak-anak di Indonesia melewati pola 6 + 3 + 3 tahun setelah satu tahun menjalani prasekolah.
Singapura menggunakan istilah yang berbeda. Anak yang menempuh pendidikan di Singapura akan menjalani Primary School selama enam tahun, kemudian masuk Secondary School. Setelah itu, lantas melanjutkan ke pendidikan post-secondary seperti Junior College (JC), Millennia Institute (MI), Polytechnic, atau Institute of Technical Education (ITE), sebelum dapat melanjutkan ke universitas atau masuk dunia kerja.
Pendidikan primary merupakan pendidikan wajib bagi warga negara Singapura yang tinggal di Singapura, dan secara hukum primary education merupakan program enam tahun yang umumnya dimulai ketika anak berusia enam tahun.
Jenjang Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, pendidikan dasar terdiri atas SD/sederajat dan SMP/sederajat. SD berlangsung selama enam tahun, kemudian SMP tiga tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, siswa memasuki pendidikan menengah selama tiga tahun yang dapat berbentuk SMA, SMK, MA, atau MAK dan bentuk lain yang sederajat.
Pemerintah sendiri mengelompokkan pendidikan menengah menjadi pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
Sebagai perumpamaan, jenjang sekolah anak Indonesia secara sederhana dapat digambarkan seperti menaiki anak tangga. Ada tiga anak tangga utama yakni SD selama enam tahun, SMP selama tiga tahun, lalu SMA/SMK selama tiga tahun.
Setelah itu barulah terdapat berbagai pilihan pendidikan tinggi, seperti universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi.
Perubahan penting dalam pendidikan di Indonesia adalah kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Kebijakan ini memperluas konsep wajib belajar dari sebelumnya 9 tahun menjadi 12 tahun, dan kemudian ditambahkan masa satu tahun prasekolah, sehingga menjadi 13 tahun.
Pemerintah menjelaskan bahwa satu tahun prasekolah tersebut ditujukan terutama untuk memastikan anak usia 5-6 tahun memperoleh akses dan berpartisipasi dalam PAUD sebelum masuk SD.
Struktur Pendidikan Singapura
Di Singapura, pendidikan dimulai dengan Primary School selama enam tahun dan harus mengambil The Primary School Leaving Examination (PSLE) untuk kelulusannya. PSLE semacam ujian akhir untuk siswa.
Setelah enam tahun menjalani pendidikan primary, anak memasuki level Secondary School. Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) membuat perubahan yang cukup penting pada sistem secondary school Singapura melalui kebijakan Full Subject-Based Banding (Full SBB) yang diterapkan sejak 2024.
Dalam kebijakan itu, siswa tidak lagi ditempatkan dalam jalur akademik versi lama yang terpisah secara kaku. Kini siswa dapat mengambil mata pelajaran pada tingkat yang berbeda sesuai kemampuan, kebutuhan dan perkembangan mereka.
Anak tidak lagi dibagi ke stream Express, Normal (Academic), atau Normal (Technical). Yang dihitung adalah level tiap mata pelajaran dan hasil ujiannya.
Menurut penjelasan MOE, level tiap mata pelajaran di awal Secondary 1 ditentukan oleh skor PSLE. Mulai Secondary 2, tingkat itu bisa berubah berdasarkan hasil Secondary 1. Sistem ini dimulai untuk angkatan Secondary 1 tahun 2024.
Mulai 2027, ujian Singapore-Cambridge Secondary Education Certificate (SEC) akan menggantikan ujian N-level dan O-Level, dengan cara para siswa mengikuti mata pelajaran pada tingkat G1, G2 atau G3.
G berarti General. Ketiganya adalah tingkat kesulitan sebuah mata pelajaran:
- G1 setara dengan standar lama Normal (Technical).
- G2 setara dengan standar lama Normal (Academic).
- G3 setara dengan standar lama Express (O-Level).
- G1 memakai huruf A sampai E.
- G2 memakai angka 1 sampai 6.
- G3 memakai A1, A2, B3, B4, C5, C6, D7, E8, dan 9.
Pilihan Jenjang Setelah Selesai Secondary School di Singapura
Perbedaan yang paling mencolok muncul setelah secondary school. Di Indonesia, siswa SMA umumnya melanjutkan ke pendidikan tinggi setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Adapun siswa SMK dapat melanjutkan pendidikan atau masuk ke dunia kerja. Di Singapura, lulusan secondary akan melanjutkan pendidikan ke pilihanjalur post-secondary yang cukup jelas, yakni:
1. Junior College (JC) atau Millennia Institute (MI)
JC merupakan program dua tahun, sedangkan MI tiga tahun, yang mempersiapkan siswa untuk menjalani ujian A-Level. Setelah itu, lulusan dapat melanjutkan ke universitas maupun jalur pendidikan lainnya.2. Polytechnic
Jalur ini lebih berorientasi pada pembelajaran praktis dan keterampilan. Pendidikan politeknik memberikan pengalaman belajar berbasis praktik dan bahkan dapat mencakup kerja sama atau work attachment dengan industri selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.Lulusannya memperoleh status diploma dan dapat bekerja atau melanjutkan ke universitas berdasarkan kualifikasi diploma mereka.
3. Institute of Technical Education (ITE)
Jalur ini memberikan pendidikan dan pelatihan teknis bagi lulusan secondary. ITE menyediakan jalur seperti Nitec, Higher Nitec, hingga diploma tertentu, sehingga siswa yang memilih pendidikan vokasi tidak otomatis berhenti pada pendidikan menengah. Mereka tetap mempunyai peluang untuk meningkatkan kualifikasi dan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.Di level Secondary School Singapura ada pula jalur Integrated Programme (IP). IP adalah program enam tahun yang berujung pada ujian A-Level, IB Diploma, atau NUS High School Diploma.
Siswa IP tidak perlu mengikuti ujian SEC di Secondary 4. Bisa dikatakan ini adalah jalur ekspres menuju universitas yang melewati ujian di tengah jalan.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa Indonesia memiliki pola pendidikan yang sangat mudah dikenali, yaitu PAUD kemudian SD, SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi atau dunia kerja, sedangkan Singapura menggunakan pola Primary, Secondary, Post-Secondary, universitas/dunia kerja.
Singapura tidak bisa dibilang memiliki sistem pendidikan yang lebih sedikit dibandingkan Indonesia, melainkan sistem pendidikannya mengemas jenjang dasar secara lebih ringkas dan kemudian menyediakan banyak percabangan setelahnya. Sedangkan Indonesia, memiliki sistem pendidikan yang membagi tahap pendidikan berdasarkan jenjang sekolah.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































