Menuju konten utama

Fakta-Fakta Kebakaran Hutan Kalimantan: Update Titik dan Dampak

Update titik panas karhutla di Kalimantan. Dampaknya meluas, dari kabut asap, gangguan kesehatan, penerbangan hingga pendidikan.

Fakta-Fakta Kebakaran Hutan Kalimantan: Update Titik dan Dampak
Sejumlah warga berolahraga jalan sehat di Jalan Danau Mare yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (18/8/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Kehutanan mencatat penurunan signifikan jumlah titik panas atau hotspot nasional kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026. Namun sejumlah titik api masih ditemukan di Kalimantan.

Di Kalimantan Barat, jumlah hotspot merosot dari 784 titik menjadi 82 titik, atau berkurang sebanyak 702 titik dalam sehari. Sedangkan di Kalimantan Tengah, hotspot turun dari 694 titik menjadi hanya 22 titik, atau berkurang 672 titik. Penurunan juga terjadi di Kalimantan Selatan, dari 85 titik menjadi 12 titik atau berkurang 73 titik.

Meski demikian, penurunan jumlah hotspot tidak dapat diartikan jika seluruh kebakaran hutan dan lahan telah padam. Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang ditangkap oleh sensor satelit pada waktu tertentu dan juga tidak selalu identik dengan kebakaran aktif.

BNPB: Karhutla Kalimantan Masih Ada

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa dalam periode pelaporan Kamis hingga Jumat, 20-21 Agustus 2026.

Salah satu kejadian terjadi di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, pada Kamis (20/8). Kebakaran melanda lahan di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, serta Desa Lenggang dan Desa Lintang di Kecamatan Renggiang. Total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 3,8 hektare.

BPBD Kabupaten Belitung Timur langsung mengerahkan empat personel dengan empat set mesin pompa gendong, selang pemadam, serta satu kendaraan operasional untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur pada Rabu (19/8) yang menghanguskan sekitar 20 hektare hutan di Petak 102 Aren, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen.

BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Bondowoso melakukan asesmen dan pemadaman. Api akhirnya berhasil dipadamkan pada Kamis (20/8) sekitar pukul 18.00 WIB.

Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sekitar 3 hektare lahan yang dipenuhi vegetasi kering dan serasah terbakar. Petugas berhasil memadamkan api sekitar pukul 18.30 WIB.

Masih di Jawa Timur, karhutla terjadi di Kabupaten Magetan sejak Rabu (19/8) sekitar pukul 14.00 WIB. Kebakaran melanda kawasan hutan rakyat di Desa Mategal, Kecamatan Parang, dan Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 8 hektare.

BPBD Kabupaten Magetan bersama BPBD Jawa Timur dan unsur terkait langsung melakukan pemadaman. Pada Kamis (20/8), api dilaporkan telah padam dan tidak terjadi perluasan area terbakar.

Jawa Timur sendiri telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.3/327/013/2026. Status tersebut berlaku selama 180 hari, mulai 16 Mei hingga 6 Oktober 2026.

Selain di Bangka Belitung dan Jawa Timur, karhutla juga masih terjadi di Kalimantan. Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kebakaran terjadi sejak Rabu (19/8) di Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau.

Titik kebakaran di Kalimantan.

Titik kebakaran di Kalimantan. FOTO/x.com/Rebukanre

Kebakaran melanda kawasan taman konservasi dengan material berupa semak belukar dan gambut. Luas lahan yang terbakar mencapai 25,29 hektare. BPBD Kabupaten Paser melakukan pemadaman dari darat dan pemantauan setelah api berhasil dikendalikan. Kebakaran dilaporkan telah padam pada Kamis (20/8).

Karhutla dengan luasan lebih besar terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pada Rabu (19/8), kebakaran muncul di sejumlah titik, yakni Desa Loa Gagak, Kelurahan Spontan Mangkurawang, Kelurahan Pendingin, Desa Kayu Bata, Kelurahan Muara Kembang, dan Desa Kota Bangun Hulu.

Total area yang terbakar mencapai 49,55 hektare, dengan wilayah Kelurahan Pendingin menjadi lokasi terdampak paling luas, yakni sekitar 42 hektare.

Tim reaksi cepat BPBD Kutai Kartanegara bersama relawan dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke berbagai lokasi, api telah berhasil dipadamkan di sebagian besar lokasi pada Kamis (20/8), tetapi pemantauan menggunakan drone masih menemukan sekitar enam hingga tujuh titik api di Kelurahan Pendingin, sehingga penanganan di lokasi tersebut masih menjadi perhatian.

Dampak Karhutla Kalimantan

Berikut beberapa dampak karhutla yang terjadi di Kalimantan:

1. Kesehatan masyarakat terganggu akibat paparan kabut asap

Kabut asap menjadi salah satu dampak paling langsung dari karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Banjarbaru, warga melaporkan batuk, sesak napas, mata perih, hingga kesulitan bernapas ketika asap mencapai tingkat kepekatan tinggi.

Dinas Kesehatan Banjarbaru mencatat peningkatan kasus ISPA seiring semakin intensnya kebakaran lahan. Kasus yang sebelumnya mencapai 829 dalam satu pekan kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.000 kasus per pekan.

2. Kualitas udara mencapai tingkat tidak sehat hingga berbahaya

Di Banjarbaru, konsentrasi PM2.5 sempat berada di atas 400 µg/meter kubik pada dini hari 19 Agustus, yang masuk kategori berbahaya. Kualitas udara Pontianak berdasarkan AQI pada 20 Agustus mencapai 146, atau masuk kategori tidak sehat.

3. Jarak pandang menurun dan mengganggu keselamatan lalu lintas

Kabut asap pekat juga berdampak terhadap aktivitas transportasi darat. Di Banjarbaru, warga melaporkan jarak pandang yang sangat terbatas pada pagi hingga malam hari.

Masyarakat bahkan harus mengurangi kecepatan kendaraan menjadi sekitar 30–40 km/jam dan menyalakan lampu kabut ketika perjalanan. Di Pontianak, jarak pandang di sejumlah ruas jalan disebut turun hingga sekitar 200 meter.

4. Penerbangan dibatalkan

Salah satu dampak paling nyata terjadi di Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, yang mengalami pembatalan sejumlah penerbangan akibat asap tebal. Pada 16 Agustus, jarak pandang sekitar 3.000 meter berdampak pada penerbangan TransNusa dan Super Air Jet dengan ratusan penumpang pada rute Jakarta–Singkawang dan sebaliknya.

Kondisi serupa kembali terjadi pada 18 dan 19 Agustus ketika jarak pandang masing-masing sekitar 2.000 dan 2.500 meter.

Kementerian Perhubungan melakukan pemantauan di sejumlah bandara di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara. Operator diminta memantau cuaca dan jarak pandang secara berkala serta menyesuaikan penerbangan berdasarkan kondisi aktual.

5. Aktivitas pendidikan terganggu

Kabut asap membuat pemerintah daerah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar. Di Banjarbaru, jam masuk sekolah PAUD, TK, SD, dan SMP diundur ketika kabut asap tebal pada pagi hari.

Di Palangka Raya, murid dan guru diwajibkan menggunakan masker, pembelajaran PAUD dilakukan secara daring, sedangkan jam masuk SD dan SMP ditunda menjadi pukul 08.00 WIB.

Di Kalimantan Barat, pembelajaran tatap muka juga disesuaikan berdasarkan kualitas udara di masing-masing wilayah. Kondisi ini kemudian mendorong Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah mempertimbangkan peliburan sementara sekolah di wilayah dengan kualitas udara yang sudah tidak sehat, dengan pembelajaran tetap dapat dilakukan secara daring atau melalui tugas dari rumah.

"Pemerintah perlu mempertimbangkan libur sekolah secara sementara di wilayah yang terdampak, khususnya apabila kualitas udara sudah berada pada tingkat yang tidak sehat bagi anak-anak," kata Lalu dikutip Antara (21/8/2026).

Status tanggap darurat karhutla dan kekeringan di Palangka Raya

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (11/8/2026). Pemerintah kota setempat memberlakukan status tanggap darurat karhutla dan kekeringan yang berlaku mulai 11 Agustus hingga 8 September 2026 karena meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya dan sulitnya memperoleh sumber air untuk pemadaman kebakaran lahan. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/agr

6. Aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdampak

Karhutla juga menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga. Kabut asap membuat aktivitas sejumlah pedagang menurun karena masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah. Pengemudi ojek online juga menghadapi kondisi kerja yang lebih sulit akibat mata perih, napas terasa berat, dan jarak pandang yang menurun.

7. Karhutla mengancam permukiman dan aset warga

Di Banjarbaru, api bahkan telah mendekati permukiman warga. Situasi menjadi semakin berbahaya karena sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut. Angin kencang, suhu panas, serta material bangunan yang mudah terbakar juga dapat mempercepat penjalaran api dari lahan menuju bangunan warga.

8. Satwa liar ikut menjadi korban karhutla

Dampak kebakaran juga dirasakan ekosistem dan satwa liar. Tim Manggala Agni di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menemukan seekor trenggiling dalam kondisi mati ketika melakukan penanganan karhutla di sekitar Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan.

Selain trenggiling, petugas juga kerap menemukan ular yang mati serta sarang lebah di lokasi kebakaran.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra