tirto.id - Pada 5 Oktober 2026 lalu Negara Bagian New York, Amerika Serikat, menetapkan status darurat bencana wabah campak. Status darurat tersebut rencananya bakal berlangsung hingga 4 November 2026.
Mengutip The Guardian, langkah yang diambil Kathy Hochul selaku Gubernur New York tersebut merupakan respons terhadap lonjakan kasus campak yang menembus hampir 4000 pasien. Wabah ini sejatinya juga menyerang wilayah tetangga, termasuk Pennsylvania.
Berkaitan dengan lonjakan campak tersebut, Hochul menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama merebaknya wabah karena di wilayah New York, Pennsylvania, serta Ohio, memiliki populasi Amish yang kurang kooperatif dengan vaksinasi.
“Tidak seorang pun seharusnya sakit parah atau meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Itulah mengapa saya telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang dapat melakukan vaksinasi dan pengujian," tegas Hochul.
Penyakit campak tak boleh dipandang sebelah mata, mengingat para penderitanya dapat turut dibayangi risiko komplikasi penyakit serius lain.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Amerika Serikat tengah mengalami tahun terburuk untuk penyakit campak sejak periode 1991, dengan hampir 3.900 kasus yang dilaporkan. Angka tersebut meningkat berkali-kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya mencapai puluhan kasus.
Situasi di AS dapat menjadi sinyal waspada bagi Indonesia, yang bisa dibilang juga kerap kerepotan menghadapi wabah penyakit campak. Terlebih, campak juga dapat memicu penyakit serius lain, termasuk pneumonia dan radang otak.
Campak Lebih dari Sekadar Demam dan Ruam
Mengutip situs resmi World Health Organization (WHO), campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus serta memiliki tingkat penularan sangat tinggi. Penyakit ini bisa dengan mudah menyebar ketika penderita batuk atau bersin. Umumnya virus campak bakal menyebabkan ruam yang meluas, disertai gejala seperti flu dan demam.
Meski demikian, campak bukanlah sekadar penyakit ruam dan demam. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa, termasuk peradangan otak dan pneumonia. Bahkan paparan virus campak juga berpotensi membuat penderita menjadi lebih rentan terkena penyakit lain.
Campak bisa menyerang siapa saja, tapi kasus paling umum terjadi pada anak-anak. Terutama mereka yang tidak mendapatkan vaksin khusus untuk menangkal paparan virus campak.
Dari segi penyebarannya, campak biasanya bakal menginfeksi saluran pernapasan dulu. Kemudian menyebar ke seluruh tubuh secara perlahan. Hingga menimbulkan sejumlah gejala, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah dan berair, hingga muncul ruam di sekujur tubuh.
Dalam catatan historis dunia medis, sebelum diperkenalkan vaksin campak pada 1963, penyakit ini tercatat menjadi epidemi besar yang terjadi tiap 2 hingga 3 tahun sekali. Campak bahkan menyebabkan sedikitnya 2,6 juta kematian.

Tahun 2024, WHO mencatat kasus campak diperkirakan menelan 95.000 orang meninggal di berbagai negara. Sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Catatan tersebut menegaskan campak sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Lebih parahnya, laporan medis memperkirakan bahwa 1 orang terinfeksi campak dapat menyebabkan sampai 18 infeksi sekunder.
Mengacu pada sejarah lonjakan kasus campak, WHO dan mitra internasional lain berhasil mencegah sekitar 59 juta kematian antara tahun 2000 dan 2024. Hal itu berkat percepatan vaksin dan imunisasi pada anak. Tahun 2024 vaksinasi terbukti menurunkan potensi kematian akibat campak, dari 780.000 pada tahun 2000, menjadi hanya 95.000 pada 2024.
Lonjakan kasus campak menimbulkan kekhawatiran global. Indonesia pada Maret 2026 tercatat menjadi peringkat 2 tertinggi di dunia untuk kasus campak tahun 2026.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan dikutip dari laman RS Roemani Muhammadiyah, sepanjang awal tahun 2026 sampai pekan ke-7, tercatat ada 8.224 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut 572 kasus terkonfirmasi laboratorium, 4 kematian, serta 21 kejadian luar biasa (KLB).
Pada tahun sebelumnya, Indonesia juga membukukan angka lebih mengkhawatirkan dengan 63.769 suspek campak, 11.094 kasus terkonfirmasi, dan 69 kematian.
Ancaman Komplikasi: Pneumonia sampai Radang Otak
Dikutip dari Cleveland Clincic, sebagian besar kasus kematian akibat campak sejatinya banyak dipicu karena komplikasi penyakit serius lain. Beberapa penyakit mematikan yang berpotensi muncul akibat komplikasi campak adalah infeksi telinga, diare parah, radang tenggorokan, bronkitis, pembengkakan dan peradangan otak, hingga pneumonia.
Bisa dibilang ancaman paling mengkhawatirkan dari penyebaran penyakit campak adalah risiko besar terhadap komplikasi penyakit mematikan lainnya. Campak disebabkan oleh infeksi virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh secara drastis, hingga memicu komplikasi.
Ketika penderita campak mengalami komplikasi pneumonia, jika tidak ditangani dengan tepat berpeluang memicu komplikasi lanjutan yang lebih berbahaya. Komplikasi dapat menyebar ke otak, lalu memicu penyakit meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang otak), bahkan hingga kebutaan.

Hal tersebut sangat dimungkinkan terjadi, mengingat penyakit pneumonia dapat masuk dari paru-paru ke aliran darah yang kemudian menjalar sampai ke otak. Gejala ini biasanya ditandai dengan demam tinggi, kejang, penurunan kesadaran, hingga sakit kepala yang sangat berat.
Kemenkes RI juga melaporkan bahwa komplikasi virus campak berpeluang membuat pengidapnya mengalami diare berat dan dehidrasi. Virus tersebut dapat merusak lapisan dinding usus, mengganggu penyerapan nutrisi dan air, lalu melemahkan saluran pencernaan. Paparan komplikasinya yang disebabkan campak dapat menyebabkan kematian.
Pertahanan Terbaik dari Ancaman Campak
Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan, pertahanan terbaik dari ancaman campak adalah melalui imunisasi atau vaksinasi lengkap. WHO menyebut campak tidak memiliki obat antivirus khusus, sehingga pencegahan aktif menggunakan vaksin menjadi benteng perlindungan paling efektif.
“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” tegas Plt. Dirjen P2, dr. Andi Saguni.
Dalam laporan EMC Healthcare, vaksin campak terbukti dapat memberikan kekebalan optimal hingga 95-97 persen mencegah infeksi dan komplikasi fatal. Di Indonesia, Kemenkes menerapkan jadwal imunisasi wajib sebanyak 3 dosis menggunakan vaksin MR (Measles-Rubella) atau MMR.

Dosis pertama diberikan pada bayi usia 9 bulan, diikuti anak usia 18 bulan sebagai penguat, lalu dosis ketiga diberikan kepada anak usia sekolah dasar. Bagi orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksinasi, disarankan untuk menerima minimal 1 hingga 2 dosis vaksin MMR.
Selain itu, pencegahan realistis lainnya untuk menghindari paparan penyakit campak yaitu dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Virus penyakit campak sangat mudah menular, termasuk melalui percikan droplet di udara.
Mencuci tangan menggunakan sabun dapat membantu meminimalisir paparan virus, bantuan sabun atau hand sanitizer dapat mensterilkan kuman di tangan. Menggunakan masker saat berada di kerumunan, serta isolasi mandiri jika terdapat orang terdekat mulai menunjukkan gejala demam dan ruam merah.
Meningkatkan kekebalan terhadap paparan virus campak juga dapat diperkuat dengan mengonsumsi makanan bergizi kaya vitamin, untuk memperkuat sistem imun alami tubuh. Memberikan asupan suplemen Vitamin A terutama bagi anak-anak, dapat meminimalisir risiko komplikasi penyakit lainnya.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































