tirto.id - CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, membocorkan rencana penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) bagi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditargetkan berlangsung pada 2027 mendatang.
Persiapan IPO tersebut mencakup beberapa BUMN yang bergerak di sektor finansial, infrastruktur, hingga pertambangan. Rosan menyampaikan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan identifikasi dan kalkulasi secara mendalam untuk menentukan perusahaan pelat merah mana saja yang dinilai paling siap untuk melantai di bursa saham.
"Ada di sektor finansial tuh ada. Ada di sektor infrastruktur juga pasti ada. Di sektor pertambangan juga ada," kata Rosan saat ditemui di Hotel Raffles Jakarta, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Ia menambahkan, pengumuman awal mengenai deretan BUMN yang berpotensi melantai di bursa akan disampaikan sebelum penutupan tahun ini. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan internal serta respons pasar, baik domestik maupun internasional.
"Mungkin nanti sebelum akhir tahun ini kita akan mengumumkan beberapa perusahaan yang kita sudah lihat mempunyai potensi, mempunyai appetite, dan juga mempunyai respons yang akan positif dari masyarakat, dari dunia usaha, baik dalam maupun luar negeri," ujar Rosan.
Langkah penggalangan dana di pasar modal ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) pembenahan tata kelola dan efisiensi BUMN yang digarap Danantara.
Rosan menjelaskan, fokus Danantara pada 2026 adalah penguatan tata kelola, transparansi, akuntabilitas, serta perampingan (streamlining).
Selanjutnya pada 2027, Danantara akan mendorong optimalisasi aset, efisiensi, serta membawa perusahaan-perusahaan BUMN pilihan ke bursa saham.
Rencana IPO ini juga berjalan seiring dengan program konsolidasi dan efisiensi besar-besaran entitas BUMN. Berdasarkan evaluasi menyeluruh, jumlah BUMN beserta anak-cucu usahanya yang saat ini mencapai sekitar 1.074 perusahaan ditargetkan untuk dipangkas secara bertahap hingga tersisa sekitar 250 perusahaan.
"Di BUMN kita totalnya kurang lebih pada saat kita konsolidasi itu jumlahnya 1.074, tetapi kedepannya setelah kita melakukan assessment atau evaluasi secara menyeluruh, kita melihat bahwa kita bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan optimalisasi aset, dan kita bisa mengurangkan sampai jumlahnya kurang lebih sebesar 250 perusahaan," tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































