Menuju konten utama

Saat Karhutla Melalap Pangan dan Tempat Berlindung Para Satwa

Karhutla dinilai mengakibatkan satwa kehilangan sumber pakan, tempat berlindung, dan kehilangan pohon-pohon yang menjadi bagian habitatnya.

Saat Karhutla Melalap Pangan dan Tempat Berlindung Para Satwa
Tim gabungan BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat mengevakuasi tiga individu orangutan dari perkebunan masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-BKSDA Kalbar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak bagi lingkungan dan manusia. Api yang membakar hutan juga berdampak bagi para satwa yang hidup di dalamnya lantaran habitat mereka yang semakin terdegradasi.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat luas karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan area terbakar terbesar, yakni 28.680,47 hektare.

Apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, peningkatannya juga cukup signifikan. Luas areal karhutla Januari-Juni 2026 bertambah 58.631,66 hektare atau 120 persen dibandingkan 2019; meningkat 56.383,94 hektare atau 110 persen dibandingkan 2023; serta bertambah 84.387,70 hektare atau 366 persen dibandingkan 2025

Berdasarkan unggahan akun Instagram resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, tiga individu orang utan yaitu Mamak Yuni, Pura, dan Yuni, turut terdampak karhutla dan dievakuasi dari kebun masyarakat di Desa Tanjung Pura, Muara Pawan, Ketapang. Habitat mereka terlalap api, dan ketiganya mulai mendekati kebun dan pemukiman warga sehingga berpotensi menimbulkan konflik.

Pada Jumat (21/8/2026) tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Timur, bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Taman Nasional Gunung Palung melakukan rescue, pemeriksaan, dan translokasi. Setelah dinyatakan sehat dan masih memiliki sifat liar, ketiga orang utan tersebut dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan mendapatkan rumah baru yang lebih aman.

Namun, banyak satwa yang tak seberuntung Yuni dan Ibunya. Beredar sejumlah video yang menunjukkan sejumlah satwa telah hangus terbakar akibat karhutla hebat di habitatnya. Salah satunya sebuah video yang diunggah oleh akun Tiktok @ayaikuy yang memperlihatkan seekor ular hangus di tengah lokasi kebakaran dengan posisi melindungi telurnya di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Selain itu, laporan Kompas.com juga memperlihatkan tim pemadam kebakaran di lokasi kebakaran hutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Salah satu hewan yang ditemukan mati terbakar adalah trenggiling pada Rabu (19/8/2026).

Karhutla Lalap Sumber Pakan dan Tempat Berlindung Satwa

Senior Manajer Media dan Komunikasi YIARI, Heribertus Suciadi Nugraha, mengatakan bahwa orang utan merupakan hewan yang paling terdampak saat karhutla terjadi. Hal itu berdasarkan pengalaman YIARI dalam menangani satwa.

Kata Heribertus, orang utan memang bisa menyingkir saat karhutla berlangsung. Namun, dalam jangka panjang, orang utan dan satwa lainnya akan kehilangan sumber pakan, tempat berlindung, dan kehilangan pohon-pohon yang menjadi bagian penting dari habitatnya. Dia menambahkan, hal tersebut juga dapat meningkatkan konflik saat orang utan masuk ke kebun warga.

"Ini juga meningkatkan potensi konflik dengan manusia ketika orang utan ini masuk ke kebun warga," kata Heribertus saat dihubungi, Rabu (26/8/2026).

Lebih lanjut, Heribertus mengatakan bahwa sangat sulit untuk menghitung jumlah satwa yang terdampak karhutla. Heribertus menilai perlu infomasi awal soal berapa jumlah satwa sebelumnya terlebih dahulu. Namun, dampak karhutla terhadap satwa atas penggunaan habitat dapat dilihat dari jumlah sarang dan perjumpaan dengan satwa.

"Tapi untuk melihat dampaknya bisa dilakukan pemantauan sebelum dan sesudah kebakaran, misalnya melalui survei lapangan, pemantauan jejak dan tanda keberadaan satwa, serta pemantauan perubahan tutupan dan kondisi habitat baik secara langsung maupun citra satelit. Untuk orang utan, misalnya, keberadaan sarang dan jumlah perjumpaan orang utan juga dapat menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perubahan penggunaan habitat," ujar Heribertus.

Satwa Terpaksa ke Perkebunan Warga saat Habitat Alternatif Tak Ada

Heribertus menjelaskan, satwa yang habitatnya terdampak karhutla bisa saja berpindah atau masuk ke kebun warga tergantung dengan kondisi habitat di sekitarnya. Katanya, satwa yang masih memiliki kemampuan bergerak cukup mungkin akan mencari habitat lain yang masih menyediakan makanan dan tempat berlindung.

Namun, Heribertus beranggapan, permasalahan akan diperparah jika tidak lagi tersedia habitat alternatif untuk para satwa. Biasanya, mereka akan masuk ke kebun warga, lahan pertanian, bahkan pemukiman untuk mencari makanan dan perlindungan.

"Jika kawasan di sekitarnya juga terfragmentasi, satwa bisa terpaksa bergerak menuju perkebunan, lahan pertanian, atau permukiman untuk mencari makanan. Pada orang utan, misalnya, hilangnya sumber pakan di hutan dapat meningkatkan kemungkinan mereka ditemukan di area yang dekat dengan manusia. Di sinilah risiko konflik manusia dan satwa liar dapat meningkat," ujar Heribertus.

Dia menyebut, perpindahan satwa saat karhutla tidak selalu berarti mereka berhasil menemukan habitat baru. Tidak tertutup kemungkinan satwa hanya memindahkan masalah dari satu lokasi di ke lokasi lainnya dan akhirnya menghadapi kelaparan, konflik, atau risiko lainnya.

Evakuai Orangutan BKSDA Kalbar

Tim gabungan BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat mengevakuasi tiga individu orangutan dari perkebunan masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. ANTARA/HO-BKSDA Kalbar

Tidak Semua Satwa yang Terdampak Karhutla Harus Dievakuasi

Lebih lanjut, Heribertus mengatakan bahwa tak semua satwa harus diselamatkan atau dievakuasi. Dia menyebut, satwa liar memiliki kemampuan alami untuk menghindari kebakaran dan mencari habitat yang lebih aman, sehingga intervensi manusia harus dilakukan secara selektif.

Heribertus menyatakan, penyelamatan satwa diperlukan ketika satwa berasa dalam kondisi yang membuatnya tidak mampu bertahan hidup secara alami, misalnya mengalami luka bakar atau cedera serius, dehidrasi, kelaparan, terjebak di area terbakar, terlalu dekat dengan pemukiman, berpotensi mengalami konflik, atau kehilangan habitat sehingga tidak memiliki pilihan untuk bertahan hidup.

Dia menyebut, apabila satwa masih sehat, mampu bergerak, dan masih tersedia habitat yang layak di sekitarnya, hanya perlu dilakukan pemantauan. Dia menegaskan, tujuan konservasi bukan hanya untuk menyelamatkan satwa dari situasi tertentu, tetapi juga memastikan satwa tetap dapat menjalankan prilaku alaminya di habitat yang sesuai.

Sementara itu, Heribertus juga mengatakan bahwa dampak karhutla terhadap satwa sangat besar, terutama jika kebakaran terjadi berulang sebelum ekosistem memiliki kesempatan untuk pulih. Katanya, kebakaran yang berulang dapat mengurangi kualitas dan luas habitat, menghilangkan sumber pakan, mengganggu regenerasi hutan, dan menyebabkan habitat sebagai terfragmentasi.

"Pada akhirnya, populasi satwa bisa semakin kecil dan terisolasi," ujar Heribertus.

Kemudian, dia juga menyebut hal yang perlu diperhatikan adalah dampak kumulatif dari karhutla. Katanya, satu kali kebakaran mungkin tidak langsung membuat suatu spesies hilang dari kawasan. Namun, kebakaran yang berulang, ditambah dengan pembukaan dan perubahan fungsi lahan, tekanan perburuan, serta konflik dengan manusia membuat kemampuan populasi semakin sulit untuk pulih.

"Untuk spesies yang membutuhkan habitat luas dan memiliki laju reproduksi relatif lambat seperti orang utan, kehilangan habitat secara terus-menerus merupakan ancaman serius. Dalam kondisi tertentu, tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan suatu spesies secara lokal menghilang dari kawasan, meskipun spesies tersebut belum punah secara global," pungkas Heribertus.

Karhutla Diklaim Tidak Ganggu Kelestarian Satwa Liar yang Dilindungi

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, meninjau langsung penanganan karhutla di di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam kunjungannya, Raja Juli mengklaim bahwa karhutla tidak mengganggu kelestarian satwa liar yang dilindungi, khususnya orang utan di wilayah tersebut.

Selain itu, Raja Juli juga mengatakan, pemerintah telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah provinsi rawan melalui kolaborasi BNPB, BMKG, TNI AU, BRIN, dan pemerintah daerah.

Menhut tinjau penanganan karhutla di Jambi

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (tengah) memberikan tulisan tangannya kepada tim Manggala Agni Daops Bukit Tempurung saat meninjau upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU

Wilayah operasi OMC meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, danKalimantan Timur.

"Untuk saat ini di Kaltim, khususnya Berau, masih terdapat bibit awan hujan. Belajar dari tahun ke tahun, cara paling efektif untuk memadamkan karhutla adalah dengan hujan, baik alami maupun hasil modifikasi cuaca," kata Raja Juli, saat memimpin rapat terpadu di VIP Room Bandara Kalimarau, Berau, dikutip dari Antara, Rabu.

Dalam kesempatan itu, Raja Juli juga menyerahkan Surat Keputusan Pembentukan Pokja Penyelamatan Orang Utan di Lanskap Keraitan, dukungan penyelamatan orang utan di Kalimantan Timur, serta Surat Keputusan Perhutanan Sosial kepada kelompok masyarakat.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Andrian Pratama Taher