Wajah Modern Afghanistan yang Lumat Akibat Konflik

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 1 Jan 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Di era eksisnya kerajaan, Afghanistan sempat mencicipi modernisasi. Perlahan hancur usai terseret ke dalam konflik khas Perang Dingin.
tirto.id - Pada 1968—usai lebih dari satu dekade gagal mengakhiri perang yang dimulainya, Paman Sam mengadakan pertemuan dengan Vietnam Utara di Paris, Perancis. Sebelumnya, Penasihat Keamanan Nasional Henry Kissinger sudah menasihati Presiden Richard Nixon bahwa peluang Amerika Serikat memenangkan Perang Vietnam "hanya satu dari empat".

Pertemuan Amerika Serikat dan Vietnam Utara tersebut ditujukan untuk membicarakan pengakhiran pertempuran dengan kepergian AS dari tanah Vietnam. Namun, AS tak memberitahu ataupun mengikutsertakan Vietnam Selatan dalam pertemuan itu.

Akibatnya, gerilyawan Vietcong seketika menggempur Vietnam Selatan tatkala AS menandatangani perjanjian untuk hengkang dari Vietnam pada Januari 1973. Pihak Vietnam Selatan yang tak tahu menahu telah ditinggal "sahabatnya" kalah telak dan berakhir eksistensinya dua tahun kemudian.


"Jika mereka (Vietnam Selatan) mudah dihancurkan (Vietnam Utara), mungkin mereka (Vietnam Selatan) memang ditakdirkan untuk hancur," cetus Nixon.

Hampir lima dekade berlalu, laku AS meninggalkan sekutunya demi kepentingan sendiri terulang. Kali ini, giliran Afghanistan yang dicampakkan untuk kemudian diterkam Taliban.


Steve Coll dalam “The Secret History of the US Diplomatic Failure in Afghanistan” (The New Yorker, Desember 2021) menyebut AS telah berupaya melakukan perundingan damai dengan Taliban sejak November 2010, tatkala Barack Obama masih berkuasa. Namun, upaya itu gagal saat Donald Trump naik takhta.

Kala itu, Trump sesumbar bahwa AS dapat menaklukan Taliban. Maka Penasihat Keamanan Nasional yang ditunjuknya, Jenderal H.R. McMaster, lantas menginstruksikan penambahan kembali jumlah pasukan AS untuk menggempur Taliban.

Lain itu, Jenderal Mc Master juga mencanangkan pendekatan yang lebih keras terhadap Pakistan, sekutu historis Taliban. Nahas, selayaknya Uni Soviet yang gagal menaklukan Afghanistan pada 1980-an silam, AS dibawah kendali Trump pun gagal menaklukan negeri yang didominasi etnis Pashtun ini.

Trump kecewa atas kegagalan tersebut. Dia sempat berdalih via Twitter, "Seharusnya saya mengikuti naluriku, bukan jenderal-ku."

Itu jelas sangat khas Trump. Dengan menunjuk McMaster sebagai satu-satunya biang kegagalan, dia jadi punya alasan untuk mengganti sang jenderal dengan John Bolton, pengurus The Grand Old Party (Partai Republik) cum komentator politik Fox News, dan Mike Pompeo, mantan Direktur CIA. Itu juga memberinya alasan bahwa pertarungan Paman Sam di Afghanistan hanya kesia-siaan semata.

Via Bolton dan Pompeo, Trump menegaskan hasratnya untuk menarik seluruh elemen militer Paman Sam dari tanah Afghanistan "dengan atau tanpa persetujuan Pemerintah Afghanistan". Langkah dilandasi pula oleh fakta bahwa kegagalan perundingan damai dengan Taliban pada 2010 terjadi karena Taliban tak mau bekerja sama dengan Pemerintah Afghanistan yang kala itu dikepalai Presiden Hamid Karzai.

Maka AS pun memulai perundingan baru dengan Taliban pada Januari 2019 tanpa sepengetahuan Pemerintah Afghanistan. Dalam perundingan ini, AS menggandeng mantan Duta Besar AS untuk Afghanistan yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Taliban Zalmay Khalilzad serta Pemerintah Qatar sebagai penengah.

Kembali merujuk laporan Coll, AS mengesampingkan Pemerintah Afghanistan demi sesegera mungkin angkat kaki dari Afghanistan. Dalam poin-poin "perdamaian" yang disodorkan kepada Taliban, AS pun memberi konsesi besar Taliban, bukan Pemerintah Afganistan.

Di antaranya mengizinkan Taliban untuk terus menggempur pasukan Afghanistan (dengan syarat tidak ada pasukan AS yang menjadi korban).

Atas keanehan ini, Komandan Resolute Support Mission NATO Andru Wall menyebut bahwa perundingan tersebut tak ubahnya "kemenangan Taliban". Bahkan, demi memuluskan perundingan, AS tak segan membebaskan pentolan-pentolan Taliban yang ditangkapnya, semisal Mohammad Hasan Akhund.

Singkat cerita, AS dan Taliban pun mencapai kesepakatan. Perundingan sebenarnya sempat terhenti gara-gara pemboman yang dilakukan Taliban di Kabul pada 5 September yang menewaskan prajurit AS. Namun, itu bukan soal.

Kala Trump digantikan Joe Biden, kesepakatan bertransformasi menjadi tindakan serius melalui penarikan seluruh elemen AS di Afghanistan per 11 September 2021. Setelah itu, Afghanistan bak Vietnam Selatan. Taliban mengambil alih (kembali) otoritasnya dan berupaya mengubah Afghanistan menjadi negeri yang sepenuhnya menjalankan syariat Islam.

Dalam periode pertama berkuasa pada akhir 1980-an hingga 1990-an silam, Taliban tidak melakukan perubahan berarti bagi kehidupan rakyat Afghanistan—entah mengatasnamakan syariat ataupun tidak. Malahan dengan mengatasnamakan syariat, mereka mencerabuti hak-hak kaum perempuan, minoritas, serta kelompok-kelompok yang tak sepemikiran.

Itu menggiring terjadinya persekusi dan pertikaian yang tak berkesudahan. Dan kini, Afghanistan agaknya bakal mengarah ke kondisi yang sama.

Kembali tegaknya otoritas Taliban sebenarnya bisa diprediksi sejak lama. Pasalnya, AS toh tak pernah benar-benar menghancurkan mereka kala merangsek masuk ke Afghanistan pada 2001.

Kathy Gannon dalam “Afghanistan Unbound” (Foreign Affairs, 2004) menjelaskan bahwa kala mulai berperang di Afghanistan usai Peristiwa 9/11, AS menggandeng pasukan atau geng pembuat onar di Afghanistan. Salah satu yang utama adalah Kelompok Sayyaf yang bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 50.000 warga sipil Afghanistan di Kabul pada medio 1990-an.

Lain itu, ada pula beberapa warlord, seperti Muhammad Fahim, Abdul Rashid Dostum, dan Rabbani—mantan presiden Afghanistan yang memiliki profesi sampingan sebagai makelar opium.

Usai berhasil mengusir Taliban, tutur Gannon, "AS gagal menjinakkan 'sahabat-sahabatnya' ini." Akibatnya, perpecahan di antara warlord tak terbendung. Kesepakatan pembagian kekuasaan Afghanistan via Perjanjian Bonn pada Desember 2001 di bawah pengawasan PBB pun tak banyak membantu.

Kegagalan konsolidasi inilah yang memungkinkan pulihnya kekuatan Taliban. Ini juga menguak bahwa Paman Sam memang tak berniat setulus hati membangun Afghanistan. Suatu kenyataan pahit yang bertolak belakang dari catatan pandangan mata Lowell Thomas, jurnalis cum penjelajah asal AS, yang datang ke Afghanistan pada 1920-an silam.


Wajah Modern Afghanistan

Usai mengembara di Palestina dan sukses melahirkan kisah masyhur berjudul With Lawrence in Arabia (1924), "Lowell Jackson Thomas membutuhkan petualangan baru," tutur David B. Edward dalam Before Taliban (2002).

Usai rutin berlalu-lalang ke pelbagai spektrum kekuasaan Kerajaan Inggris—merentang dari Skotlandia ke India ke Melaka ke Australia, Thomas yang menginjak usia ke-28 masih ingin menghasilkan kisah yang kedahsyatannya serupa saga Kapten T.E. Lawrence di Tanah Arabia.

Mulanya, Thomas hendak berangkat ke India dengan asumsi bahwa yoga dan bermacam fauna memesona dapat melepas “dahaga orientalisme" masyarakat Barat yang jadi target pasarnya. Namun, dimotori pengetahuannya bahwa masyarakat Barat tak mengetahui apapun soal Afghanistan, Thomas mengubah haluannya.

Maka datanglah dia berkunjung ke Afghanistan yang kala itu dipimpin Raja Amanullah Khan.

"Sebelumnya, Thomas menganggap Afghanistan sebagai negeri kasar yang dihuni suku-suku ganas yang gemar bertarung," tulis Edward.



Infografik Mozaik Afghanistan
Infografik Mozaik Afghanistan. tirto.id/Ecun


Dan demi mencipta kisah serupa Lawrence of Arabia, "Thomas mempersiapkan diri untuk melihat hal-hal menakjubkan khas negeri non-Barat, semisal ritual aneh, juga mencari narasi-narasi superhero, selayaknya kisahnya tentang With Allenby in Palestine yang menampakkan sosok Richard Coeur de Lion merebut Tanah Suci dari penguasa gelap Kaisar Wilhelm," lanjut Edward.

Namun, Afghanistan medio 1920-an tak seperti yang semula dibayangkan Thomas. Alih-alih melihat pelbagai ritual aneh atau fenomena sosio-budaya “primitif” jika dibandingkan dengan Barat, Thomas justru mendapati Afganistan yang modern, tak terlalu jauh berbeda ketimbang negerinya sendiri.

Bahkan, Raja Amanullah Khan menemui Thomas dengan pakaian kasual, yakni kaos polo warna putih yang lazim digunakan pemain tenis.

Kala sang Raja mengajak Thomas berjalan-jalan di pelbagai tempat di Afghanistan, Harry Chase—juru kamera yang dibawa Thomas dalam petualangannya itu—menyebut bahwa Afghanistan, "Tak ubahnya rumah kami di Amerika Serikat [...] Amerika Serikat versi klasik."

Chase juga bilang, "Sebuah gerbang yang kami lewati memiliki penampilan yang sangat familier. Tidak ada yang oriental tentangnya. Ia tampak seperti pintu masuk ke real estat baru di pinggiran Kansas City atau Detroit. Dan begitu masuk, kami berada di antara bungalo pinggiran kota yang khas, rumah-rumah berbingkai dengan serambi tidur dan sudut sarapan."

Penampakan Afghanistan yang modern itu, papar Edward, merupakan buah dari kekecewaan Raja Amanullah melihat Afghanistan tak berkembang usai naik takhta di akhir dekade pertama abad ke-20. Maka Raja Amanullah bertekad memodernisasi negerinya.

Usai berhasil mempersatukan suku-suku yang ada di Afghanistan di awal 1920-an, sang Raja melakukan studi banding ke Eropa Barat untuk memperbaiki negerinya. Dari sana, sang Raja lanjut mengunjungi Turki dan membawa ribuan pekerja untuk memodernisasi Afghanistan.

Modernisasi yang digeber Raja Amanullah tak hanya soal infrastruktur semata, tapi juga mereformasi laku-hidup masyarakat. Di antaranya dengan mengizinkan kaum perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, serta menggenjot perekonomian.

Langkah-langkah itu, menurut Edward, “Menggiring Afghanistan tak kalah dibandingkan Konstantinopel ataupun Los Angeles."

Kala Raja Amanullah dilengserkan sepupunya, Muhammad Nadir Shah—yang sayangnya tewas dibunuh dan buru-buru digantikan anaknya, Mohammad Zahir Shah, perkembangan Afghanistan menuju modernitas tetap berlanjut dengan upaya-upaya mencampuradukkan kebudayaan klasik khas Afghanistan dan Barat.

Ini terjadi karena Zahir Shah yang sempat belajar di Perancis melihat pendidikan Barat sebagai kunci masa depan. Tak ingin Afghanistan terlupakan di masa depan, kebudayaan Barat pun disuntikkan dalam sosio-budaya masyarakat.

Nahas, senasib dengan Amanullah yang dilengserkan untuk selamanya mendekam dalam pelarian di Italia, Zahir Shah pun demikian. Zahir Shah dilengserkan pada 1973 oleh Daoud Khan, sosok yang mengklaim mendukung modernisme, tapi menggelorakan autokrasi.

Sejak dikuasai Doud Khan dan dilanjutkan dengan masuknya pengaruh Komunisme pada 1978—yang menggiring kedatangan Uni Soviet dan kemudian AS, Afghanistan perlahan menjelma menjadi apa yang dibayangkan Thomas sebelumnya: negeri kasar yang dihuni suku-suku ganas yang gemar bertarung.

Baca juga artikel terkait AMERIKA SERIKAT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight