tirto.id - Seiring perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir, Regina (30) mengaku mulai mempertimbangkan dan mencoba memanfaatkan artificial intelligence atau akal imitasi (AI), baik sekadar untuk curhat maupun berkonsultasi mengenai persoalan mental.
Berdasarkan pengalamannya, ia menilai keberadaan teknologi seperti AI memang memberikan kemudahan, terutama dari segi biaya dan fleksibilitas yang ditawarkan. Hal ini terasa relevan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tengah tidak menentu.
“Gue udah pernah coba dan sebenarnya sih ChatGPT juga sangat kompeten. Dari yang gue lihat, orang yang pakai AI itu biasanya lagi berusaha menghemat pengeluaran, karena ChatGPT kan gratis,” ujarnya saat berbincang dengan Tirto, Kamis (12/3/2026).
Regina hanyalah salah satu contoh dari banyak orang yang mulai memanfaatkan teknologi AI untuk berbagi cerita hingga berkonsultasi mengenai persoalan kesehatan mental. Survei Tirto bekerja sama dengan lembaga Jakpat bertajuk “Akses Layanan Kesehatan Mental” pada Mei 2025 menemukan bahwa 8,73 persen responden memilih AI sebagai pengganti psikolog atau psikiater dalam menangani masalah kesehatan mental.
Sebelumnya, survei yang dilakukan Snapcart pada April 2025 juga mengungkap bahwa 6 persen responden di Indonesia menggunakan AI sebagai teman untuk mengobrol dan berbagi perasaan.
Dari kelompok tersebut, sebanyak 58 persen bahkan mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog. Alasan utamanya adalah biaya layanan psikolog yang dianggap mahal, sementara AI dapat diakses secara gratis (39 persen). Alasan lain yang muncul adalah anggapan bahwa AI lebih mampu menjaga kerahasiaan dibanding manusia, termasuk psikolog.
Sebagian responden juga berpendapat bahwa AI lebih mampu membantu menyelesaikan masalah secara langsung, sementara psikolog dinilai lebih berfokus pada proses pemulihan kesehatan mental. Ada pula yang menilai AI lebih netral dan memahami permasalahan, sedangkan psikolog dianggap cenderung menghakimi.
Temuan serupa muncul dalam laporan riset Kaspersky yang dilakukan pada November 2025. Sebanyak 31 persen responden di Indonesia mengaku berinteraksi dengan AI ketika sedang merasa tidak bahagia. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 29 persen. Fenomena ini paling banyak ditemukan pada kelompok Generasi Z (Gen Z) dan Milenial.
Sebanyak 35 persen responden dari kelompok usia muda memilih AI sebagai tempat curhat ketika emosi sedang tidak stabil. Sebaliknya, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang melakukan hal serupa.
Menanggapi fenomena ini, Peneliti Psikologi Sosial Wawan Kurniawan menilai bahwa di tengah masyarakat yang masih takut terhadap stigma dan tingginya biaya layanan kesehatan mental, AI menawarkan ruang yang terasa aman, anonim, dan bebas penilaian untuk berbagi perasaan.
Namun demikian, Wawan menekankan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan. Meski mampu merespons dengan empati buatan, AI tidak dapat menggantikan diagnosis klinis maupun intervensi psikologis berbasis bukti.
“Tapi fenomena ini memberi pelajaran penting bahwa yang dibutuhkan banyak orang bukan hanya solusi, melainkan juga perasaan didengarkan. AI menyediakan ruang itu,” ujarnya saat dihubungi Tirto.
Ia menambahkan bahwa AI dapat berfungsi sebagai alat bantu awal untuk mengenali gejala, membantu refleksi diri, atau memberikan pertolongan emosional pertama. Namun, AI seharusnya hanya menjadi jembatan, bukan pengganti layanan psikologi profesional.
“Perlu ada kebijakan khusus agar informasi dan layanan psikolog atau psikiater yang terjangkau bisa diakses oleh lebih banyak kalangan,” tambahnya.
Respons AI Tidak Mengandung Sisi Kemanusiaan
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM, turut menyoroti meningkatnya penggunaan AI sebagai tempat bercerita dan mencari validasi emosi, khususnya di kalangan anak muda.
Dari sudut pandang teknis, Ridi menjelaskan bahwa tujuan utama transformasi digital adalah mendorong masyarakat agar semakin sadar dan melek terhadap aspek digital dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tidak ada yang keliru jika AI digunakan sebagai teman berbicara atau tempat mencurahkan perasaan.
“Tidak ada yang salah dari penggunaan AI sebagai teman bicara,” ujarnya, Tirto kutip dari situs resmi UGM, Kamis (12/3/2026).
Dari sisi sosial, chatbot AI dapat dipandang sebagai entitas digital yang relatif konsisten dalam membantu interaksi dalam kondisi tertentu. Namun, respons yang diberikan bukanlah bentuk kepedulian nyata, melainkan hasil dari proses prediksi kata berdasarkan data yang telah dipelajari sebelumnya melalui sistem pembelajaran mesin.
Menurut Ridi, perkembangan teknologi saat ini juga mengarah pada sistem agentic AI, yakni sistem AI yang tidak hanya merespons, tetapi juga dapat mengambil tindakan tertentu secara otomatis. Meski menawarkan banyak manfaat, ia menekankan pentingnya tata kelola dan kebijakan penggunaan AI.
“AI itu seperti obat. Kalau digunakan berlebihan, bisa menimbulkan ‘keracunan’,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa AI harus dirancang aman sejak awal (by design). Prinsip responsible AI, ethical AI, dan transparency AI perlu diterapkan agar teknologi ini tidak menimbulkan dampak negatif, termasuk risiko halusinasi informasi atau pengaruh yang tidak disadari oleh pengguna.
“Gunakan AI secukupnya. Sama seperti fitur screen time di smartphone, kita perlu membatasi diri ketika menggunakan AI sebagai ruang curhat. Jangan sampai bergantung sepenuhnya dan kehilangan kendali atas diri kita sendiri,” pesannya.

Sementara itu, psikolog klinis Nena Mawar Sari mengingatkan adanya risiko psikologis jika seseorang terlalu sering mencari dukungan emosional dari perangkat AI. Hal ini karena respons yang dihasilkan tidak mengandung unsur kemanusiaan.
“Curhat dengan AI itu pada dasarnya merupakan pantulan dari kode atau petunjuk yang kita berikan. Karena itu, umpan balik yang diberikan tidak memiliki unsur humanistik,” kata psikolog klinis RSUD Wangaya Denpasar, kepada Antara.
Menurut Nena, seseorang yang sedang curhat umumnya membutuhkan respons timbal balik yang konstan dan penuh empati. Jika respons yang diterima tidak mengandung unsur kemanusiaan, ada risiko terjadinya salah interpretasi yang justru membuat pengguna kehilangan arah emosional.
Ia juga menyebut salah satu tanda seseorang mulai bergantung secara emosional pada AI adalah ketika mereka tidak lagi mau menjalin relasi dengan orang lain dan menghabiskan banyak waktu dengan ponsel.
“Sering mengecek handphone, menanyakan hal-hal yang sangat detail kepada AI, lalu mulai menutup diri dari orang lain. Biasanya perilaku seperti itu mengarah pada sikap antisosial,” katanya.
AI yang Sycophantic: Ketika Dukungan Justru Bisa Menyesatkan
Penelitian yang dilakukan Myra Cheng, Cinoo Lee, Pranav Khadpe, Sunny Yu, Dyllan Han, dan Dan Jurafsky (2025) dari Stanford University dan Carnegie Mellon University menemukan bahwa AI cenderung bersifat sycophantic. Istilah tersebut berarti AI terlalu sering menyetujui atau memuji pengguna dibandingkan manusia.
Dalam studi yang melibatkan 11 model AI mutakhir, tercatat 50 persen perangkat lebih sering mengafirmasi tindakan pengguna dibanding manusia, termasuk ketika pertanyaan berkaitan dengan manipulasi, kebohongan, atau tindakan yang merugikan orang lain.
Eksperimen interaksi langsung juga menunjukkan bahwa ketika seseorang mendiskusikan konflik nyata dalam hidupnya, AI yang terlalu menyetujui dapat membuat pengguna semakin yakin bahwa dirinya benar. Namun pada saat yang sama, hal itu justru mengurangi kemauan mereka untuk memperbaiki masalah atau bertindak secara prososial.
Dengan kata lain, AI berpotensi membuat seseorang semakin mantap pada keputusan yang keliru hanya karena sistem tersebut terus menyetujui pendapat pengguna.
Ironisnya, orang cenderung menilai AI yang sycophantic sebagai sistem yang lebih berkualitas, lebih dapat dipercaya, dan lebih ingin digunakan kembali. Hal ini berpotensi menciptakan lingkaran ketergantungan: semakin sering seseorang mencari dukungan dari AI yang selalu menyetujui, semakin berkurang pula kemampuan mereka menilai situasi secara kritis.
Peneliti Wawan Kurniawan dari UI, menilai kecenderungan AI yang terlalu sering menyetujui pengguna dapat memicu bias kognitif. Menurutnya, karena AI dirancang untuk mengikuti permintaan pengguna, respons yang diberikan dapat memperkuat keyakinan tertentu yang pada akhirnya justru menjadi bumerang bagi pengguna itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa terdapat mekanisme sosial dan kognitif yang membuat seseorang lebih mudah percaya dan bergantung pada AI yang “selalu setuju”. Dalam banyak kasus, bias kognitif bekerja dengan cara mengarahkan individu untuk menerima informasi yang selaras dengan pandangan mereka. Tanpa kemampuan berpikir kritis yang memadai, seseorang berisiko terbawa arus dan terus menyetujui informasi yang diterimanya.
Wawan juga menyoroti perbedaan dampak antara interaksi dengan AI yang sycophantic dan interaksi dengan manusia yang memberikan umpan balik kritis. Sejumlah penelitian, menurutnya, menunjukkan bahwa kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan AI dapat memicu ketergantungan sekaligus menurunkan kapasitas kognitif pengguna. Dalam situasi seperti ini, AI berpotensi lebih sering dipilih dibandingkan manusia sebagai tempat berdiskusi atau mencari validasi.
“Sejauh ini, beberapa riset menjelaskan bahwa AI bisa menimbulkan ketergantungan dan menurunkan kapasitas kognitif dengan kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan. Sehingga, antara manusia dan AI, kemungkinan AI akan lebih dipilih,” ujarnya.
Karena itu, Wawan mengingatkan masyarakat untuk tetap menyadari keterbatasan AI saat menggunakannya. Pengguna perlu meningkatkan daya kritis ketika berinteraksi dengan sistem AI serta memahami kemungkinan dampak psikologis yang dapat muncul.
Kenapa AI Sycophantic atau Terlalu Sering Menyetujui Pengguna?
Associate Professor Digital Strategy and Data Science Monash University Indonesia, Arif Perdana, menjelaskan bahwa kecenderungan AI bersifat sycophantic sebagian besar dipengaruhi oleh cara model tersebut dilatih.
Banyak model AI saat ini dilatih menggunakan metode yang melibatkan umpan balik manusia. Dalam praktiknya, manusia cenderung menghargai jawaban yang terdengar ramah, sopan, dan suportif—yakni respons yang seolah memahami atau menyetujui pengguna.
Akibatnya, model AI belajar bahwa menyetujui pengguna sering kali dianggap sebagai respons yang baik.
“Ini sebenarnya normal dalam model AI. Bukan karena AI sengaja memuji atau ‘menjilat’, tetapi secara statistik itu strategi paling aman untuk terlihat membantu,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Kamis (12/3/2026).
Menurut Arif, desain pelatihan AI yang terlalu berfokus pada kepuasan pengguna jangka pendek juga turut mendorong perilaku sycophantic. Jika ukuran keberhasilan model adalah apakah pengguna merasa didukung, maka model akan cenderung memilih menyetujui daripada mengoreksi.
Karena itu, solusi yang diperlukan bukan sekadar melarang AI untuk menyetujui pengguna, melainkan mengubah cara kita mengevaluasi kinerja AI.
“Model perlu diberi insentif untuk tetap jujur, bahkan jika itu berarti tidak setuju dengan pengguna—tentu dengan cara yang tetap sopan dan berbasis fakta,” ujarnya.
Ke depan, Arif menilai kunci utama bukanlah membuat AI menjadi konfrontatif terhadap pengguna, melainkan mampu berbeda pendapat secara konstruktif. Artinya, AI tetap dapat memberikan respons yang ramah, tetapi juga berani menunjukkan bahwa ada perspektif lain yang perlu dipertimbangkan.
Ia mengamati bahwa sejumlah model large language model (LLM) terbaru mulai menunjukkan kecenderungan tersebut, yakni tidak sekadar menyetujui pengguna, tetapi juga memberikan sudut pandang alternatif dalam percakapan.
Selain itu, Arif menekankan pentingnya memahami bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai otoritas yang selalu dianggap benar. Jika tidak, terdapat risiko bahwa AI justru memperkuat bias pengguna, mengingat model LLM pada dasarnya cenderung menggemakan hal-hal yang ingin didengar oleh penggunanya.
“Kalau tidak, ada resiko AI malah bisa memperkuat bias, karena model LLM cenderung menggemakan apa yang ingin kita dengar,” pungkasnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































